.

.

.

.

.

    , , , , , , , ,

    ELVIPS.COM - DPR lewat rapat paripurna sudah mengesahkan Perppu 2/2017 tentang Ormas menjadi UU. Mari melihat kembali perppu yang diterbitkan Presiden Joko Widodo pada Juli 2017. 

    Perppu Ormas merupakan perubahan atas UU 17/2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Ada sederet hal baru di Perppu Ormas ini. 

    Ketentuan yang diatur dalam Perppu Ormas yang diteken Presiden Joko Widodo pada Senin, 10 Juli, memperluas unsur larangan untuk ormas. Larangan yang lebih luas dari aturan sebelumnya di antaranya soal definisi paham yang bertentangan dengan Pancasila.

    Selain itu, Menteri Hukum dan HAM punya kewenangan langsung membubarkan ormas anti-Pancasila tanpa jalur pengadilan. Untuk mencabut status badan hukum ormas anti-Pancasila, Menteri Hukum dan HAM hanya melewati dua sanksi administratif.

    Pencabutan status badan hukum ditegaskan Perppu Ormas bersifat langsung. Pencabutan status badan hukum yang sama dengan pembubaran ormas ini dapat dilaksanakan Menteri Dalam Negeri atau Menteri Hukum dan HAM terhadap ormas yang asas dan kegiatannya nyata-nyata mengancam kedaulatan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

    Pada Selasa (24/10/2017) hari ini, Perppu Ormas diketok menjadi UU saat rapat paripurna DPR. Ada tujuh fraksi yang setuju, yaitu PDIP, Golkar, PKB, PPP, NasDem, Hanura, dan Demokrat. Tiga fraksi yang tidak setuju adalah Gerindra, PKS, dan PAN. 

    Berikut isi lengkap Perppu Ormas yang kini sudah sah jadi UU:

    , , , , ,

    SETELAH pidato pertanggungjawabannya yang berjudul Nawaksara ditolak, kekuasaan negara Presiden Sukarno ditarik Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Tak ada wakil presiden, Soeharto sebagai penerima Supersemar diangkat sebagai pejabat presiden. Namun Soeharto tak mau disebut pejabat presiden.

    Apa pasal? Dalam pertemuan di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Menteng, Jakarta Pusat, 11 Maret 1967 malam, Soeharto mengungkapkan alasannya. Pertemuan ini dihadiri para pendukungnya dari kalangan militer, organisasi politik, mahasiswa dan pemuda.

    Jusuf Wanandi, aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), mengatakan, Soeharto tak mau menjadi pejabat presiden karena dia secara emosional merasa dekat dengan Sukarno, bapak pendiri bangsa yang mengangkat banyak pemimpin sipil dan militer. “Soeharto juga pernah bergantung pada Soekarno. Dia tidak ingin terkutuk karena mengkhianati penolongnya,” kata Jusuf dalam memoarnya, Menyibak Tabir Orde Baru. Soeharto juga tidak ingin menjadi lawan politik Sukarno, tetapi dia tidak dapat menerima PKI dan tiga kali meminta agar PKI dibubarkan, tapi Sukarno menolaknya.

    Peserta lain yang hadir, anggota DPR-GR/MPRS, Ismail Suny dalam Misteri Supersemar karya Eros Jarotmengungkapkan bahwa sebenarnya, “Soeharto itu takut sama Soekarno.” Pengaruh Sukarno masih kuat dan angkatan perang (Angkatan Udara, Angkatan Laut, polisi, dan sebagian besar Angkatan Darat) masih memihaknya. Semua siaga tinggal menunggu komando Sukarno untuk melawan Soeharto. Kalau terjadi kesalahan kecil saja, “Bisa-bisa semua melawan saya,” kata Soeharto kepada mereka.

    Namun, menurut Jusuf, Soeharto membangun argumennya dengan cerita pewayangan Mahabharata. Ketika Abiyasa, pendiri dinasti Pandawa dan Kurawa, sudah tua, ia menarik diri dari urusan dunia dan menjadi pertapa. Pemerintahan diserahkan kepada generasi berikutnya. Soeharto ingin Sukarno menjadi Abiyasa, sementara dialah yang menjalankan tugas sehari-hari kepresidenan. “Tujuannya bukan menjadi pejabat presiden karena ini berarti dia menggantikan Sukarno, melainkan menjadi orang yang melaksanakan tugas presiden,” kata Jusuf.

    Soeharto mengatakan, “Saya hanya ingin menjadi pengawal kepresidenan. Kalau saya menggunakan istilah pejabat presiden, rakyat akan mengutuk saya.”

    Menolak istilah “pejabat presiden”, Soeharto mengusulkan “Pd Presiden” artinya “pemangku djabatan presiden.”

    “Kami menolak karena istilah itu seharusnya pejabat presiden,” kata Jusuf. Perdebatan berjam-jam. “Baik bapak,” Jusuf melanjutkan, “bapak tidak ingin pejabat; mahasiswa tidak menerima istilah pemangku djabatan. Kenapa kita tidak menafsirkan masing-masing saja. Bapak satu tafsir, kami tafsir lain.”

    Soeharto yang semula enggan menjadi pejabat presiden, kata Ismail Suny, “kita bujuk terus dia hingga akhirnya mau.”

    Soeharto setuju. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Beberapa jam kemudian, Sukarno diturunkan dari jabatan sebagai presiden. “Sementara Soeharto diangkat sebagai pejabat atau pemangku djabatan tergantung siapa yang menafsirkan: MPRS atau Soeharto,” kata Jusuf.

    Waktu dilantik menjadi pejabat presiden oleh ketua DPR-GR/MPRS A.H. Nasution, “Soeharto dalam sumpahnya tidak mau mengucapkan kata-kata pejabat presiden,” kata Ismail Suny. “Eh, setahun kemudian Soeharto minta diangkat menjadi presiden. Alasannya, Jepang enggan memberi utang pada Indonesia kalau Soeharto berstatus pejabat presiden.”

    Soeharto dilantik sebagai presiden dalam Sidang Umum MPRS V tanggal 27 Maret 1968. Hal ini sebenarnya melanggar Tap MPRS No. XXXI-11/1967 yang menyebutkan Soeharto diangkat menjadi pejabat presiden sampai pemilihan umum.

    “Jika awalnya Soeharto sangat sederhana dan tidak ingin menjadi presiden penuh menggantikan Soekarno,” kata Jusuf, “kelak dia berubah dan malah terlalu lama menjabat sebagai presiden.

    Sumber : http://historia.id/modern/ternyata-soeharto-pernah-menolak-jadi-pejabat-presiden

    , , ,

    Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Begitulah pepatah Indonesia yang menjelaskan bagaimana kita harus menjadi manusia. Hal-hal yang diingat ketika manusia mati, adalah jasa-jasanya ataupun kesalahan-kesalahannya. Perbuatan manusia baik maupun buruk, akan tetap dikenal dan dikenang meskipun sekarang sudah tidak ada lagi.
    Orang yang mati, suaranya tetap terdengar, baik itu perkataan positif maupun perkataan negatif. Tindakan orang yang sudah mati, tetap dapat dirasakan. Tindakan-tindakan yang baik atau buruk, akan menghasilkan buah yang manis atau yang pahit. Manusia adalah makhluk tertinggi yang diciptakan Tuhan, untuk mengatur dunia ini. Namun sayangnya, manusia merasa besar hati dan jumawa, sehingga mereka lupa daratan, dan mencoba untuk merusak tatanan kehidupan yang baik.
    Melihat situasi politik sekarang ini, sulit bagi kita untuk menampik fakta bahwa ada orang-orang yang ingin dan sedang memperjuangkan kebangkitan orde baru yang sudah mati pada tahun 1998. Isu kebangkitan orde baru diembuskan di kalangan grass root sampai kalangan militer.
    Pemutaran film G30S/PKI pada saat itu dihentikan di era Presiden BJ Habibie, karena berbagai pertimbangan, salah satunya keakuratan sejarah. Sejarah yang buram mengenai G30S dibuat lebih buram lagi dengan pemutaran film Penghianatan G30S/PKI yang dibuat di era orde baru, sesuai dengan permintaan tentara dan setting tentara.
    Bagi orang-orang waras, tentu merupakan sebuah hal yang sangat wajar apabila kita menyimpulkan bahwa pemutaran film di zaman ini sarat dengan kepentingan politik.
    Alih-alih ingin belajar sejarah, kita malah disuguhkan satu film propaganda Soeharto yang meninggi-ninggikan kinerja jajarannya pada saat itu. Inikah yang namanya belajar sejarah? Saya cukup yakin, ini bukan bentuk mengenal sejarah, melainkan memelihara ketakutan, dan ada lagi satu agenda yang saya curigai menjadi agenda yang paling penting, yakni menggulingkan presiden.
    Menurut Jajang C Noer, istri dari sutradara film G30S/PKI, Arifin C Noer, ia mengatakan film tersebut dibuat dengan tujuan agar orang membenci PKI. Bahkan sang sutradara pun dikatakan kaget ketika film itu diputar setiap 30 September malam. Menurut Sukmawati Sukarnoputri, ini merupakan bentuk pemeliharaan trauma yang dilakukan oleh rezim orde baru.
    “Memang target film itu, mesti saya tekankan sekali lagi supaya kita membenci PKI. Supaya kita mengerti bahwa PKI tidak benar. Ya, kalau mau dikatakan jahat… Bahwa itu dikatakan propaganda Soeharto, ya apa boleh buat. Soeharto memang ada di peristiwa tersebut. Dia kepala pemerintahan dan yang mengongkosi itu semua… Kata propaganda itu aja sudah tidak begitu enak didengar. Yang mas Arifin tidak sangka adalah bahwa film itu diputar setiap 30 September… Saya perlu tekankan demikian, karena ada salah satu data yang mengatakan para jenderal itu disiksa, ada penganiayaan antara lain mata dicongkel, penis dipotong… Mas Arifin ya karena datanya seperti itu, dia bikin seolah-olah para jenderal disiksa. Karena itu kelihatan ada darah-darah. Tetapi, tidak ada adegan karena dia tidak percaya. Masa ada sih orang sesadis itu,” kata Jajang dalam talkshow Perspektif Indonesia di Jakarta, Sabtu (23/9/2017).
    Jadi sebenarnya, kewajiban nonton film G30S/PKI di era sekarang, rasanya sangat irrelevan dan tidak kontekstual! Jelas alasannya, karena PKI sudah mati, buat apa diingat-ingat. Jika ingin berlaku adil, mari kita tonton film-film sejenis seperti Jagal dan Senyap, karena film-film tersebut pun bisa jadi sebuah film docudrama, yang belum tentu terjadi.
    Dunia ini memang tidak adil, sejarah ditulis oleh pemenang, dan penguasa, dan bahkan di Indonesia, sejarah ditulis oleh tentara? Mari kita cerdas, kita harus tolak kebangkitan orde baru, dengan dalih ingin menenggelamkan pemerintahan dengan isu PKI.
    Kawal terus Indonesia, agar rakyat Indonesia tidak mudah dibodoh-bodohi oleh manusia gila yang haus kekuasaan. Sekadar informasi, bertepatan dengan peringatan kenaikan Yesus Kristus 21 Mei 1998, Soeharto lengser.  Semoga saja ini hanya ‘cocoklogi’.
    Sebenarnya, PKI dan Orde Baru sama-sama sudah mati. Apakah kita sama-sama terpikir bahwa isu PKI sengaja dibangkitkan, sebagai umpan lambung bagi kebangkitan orde baru? Cerdas dong! Mari kita bersama-sama menolak kebangkitan orde baru, karena kita sudah ada di era modern, revolusi mental!

    Betul kan yang saya katakan?
    (Sumber : SEWORD DOT COM)

    , , , ,


    ELVIPS.COM - Amerika mulai khawatir terhadaplangkah politik internasional Presiden sekarang dengan membangun poros “Jakarta-Beijing-Taheran-Moskow” meliputi perdagangan, teknologi sipil, teknologi militer, kesehatan, nuklir dan investasi.

    Hal yang paling merisaukan Amerika adalah hancurnya hegemoni mereka serta hilangnya kontrol atas geliat ekonomi di Indonesia yang pada akhirnya akan merubah kiblat negara-negara kawasan di Asia Tenggara mengikuti jejak langkah Indonesia yang progresif.

    Ketakutan Amerika juga tidak terlepas dari kebijakan Presiden terhadap perpanjangan kontrak PT. Freeport Indonesia di bumi Papua, betapa besar kehilangan keuntungan bagi mereka apabila PT. FreeportIndonesia akan dimainkan Jokowi sebagai ‘capital politic’ pada pilpres tahun 2019 nanti, maka akan tamatlah Amerika di Indonesia.

    Ada beberapa langkah yang telah dan mulai dimainkan oleh Amerika di Indonesia dalam rangka tetap dapat mengusai Indonesia seperti selama ini berhasil mereka lakukan;

    1. Lewat bantuan Arab Saudi dengan memberikan suntikan dana besar kepada para radikalis dan teroris di Indonesia.

    2. Lewat Mesir dan Turkey dengan menggerakan Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslim di Indonesia.

    3. Lewat Alumnus West Point, Minneapolis, dan kursus perwira Indonesia di negeri Paman Sam dengan memainkan isu bangkitnya PKI.

    Ada pertanyaan, apakah CIA bermain di sini, maka jawabnya tentu saja. Sebab sudah bukan rahasia lagi bahwa selama ini, mereka (CIA) telah merekrut alumnus sekolah perwira militer maupun para akademisi terbaik dari sipil yang pernah mengenyam pendidikan Amerika, dan terlihat dari unsur Radikalis merapat ke blok Amrikiyya ini.

    Maka janganlah heran kalau yang menyebar isu anti Cina dan tuduhan bahwa Ahok bisa menjadi pemicunya mungkin mengarah ke tragedi tahun 1998, dan yang mengatakan bahwa hantu PKI itu memang nyata, serta yang membakar masa dalam pidato tentang bangkitnya ideologi komunis lewat PKI di Indonesia, semuanya adalah purnawirawan Jenderal lulusan Amerika. Apakah bukan kebetulan semata?

    Sederhana saja jawabnya, bahwa pola yang dimainkan Amerika sangat mirip dengan yang terjadi pada situasi sebelum meledaknya G 30 S/PKI seperti contoh di bawah ini: 

    – Settingnya dulu adalah Tritura, juga terselip sentimen anti Cina. Golnya adalah jatuhnya Bung Karno. Dan saat ini setingnya adalah “Turunkan Jokowi dan hancurkan PKI”, targetnya jatuhkan Jokowi.

    – Dulu Amerika memainkan kebodohan dan ambisi PKI dengan memusuhi para ulama dan agamawan, kemudian melakukan kudeta terhadap para Pahlawan Revolusi, maka saat ini digandengnya kaum radikalis yang anti Pancasila karena dianggap ajaran Thoghut untuk propaganda bangkitnya PKI. Padahal apa urusan mereka soal PKI, mereka itu jelas-jelas anti Pancasila dan ingin mendirikan Khilafah Islamiyah diIndonesia.

    – Pola penghancuran Indonesia telah dilakukan lewat aksi teror dan rencana membagi Indonesia menjadi 18 sampai 20 negara baru sehingga mudah dikuasai sesuai kepentingan mereka. Langkah itu tidak membuahkan hasil, maka mereka (Amerika) lewat antek-antek mereka di Indonesia memainkan isu yang paling sensitive yaitu “Bangkitnya PKI”.

    – Membangun fitnah terhadap pribadi Agus Wijoyo, purnawirawan Jenderal bintang 3 anak dari salah seorang Pahlawan Revolusi yang adalah tokoh penggagas serta pelopor rekonsiliasi antara anak mantan PKI dengan anak Pahlawan Revolusi. Sehingga ditimbulkanlah pertanyaan nyeleneh dari juga purnawirawan Jenderal lulusan Amerika bahwa perlu dipertanyakan apakah betul Agus Wijoyo itu anak dari Pahlawan Revolusi? Hal yang kemudian dibantah dan diluruskan oleh AM. 

    Hendropriyono, purnawirawan Jenderal mantan kepala BIN menyatakan bahwa dia kenal betul siapa Agus Wijoyo dan kenal betul siapa bapaknya. Sekarang isu bangkitnya PKI menjadi mainan yang menyatukan para alumnus Amerika baik sipil maupun militer bergandeng tangan dengan mesin penghancur Amerika di Timur Tengah yaitu kelompok radikal serta teroris berbaju agama.

    Akankah kita Bangsa Indonesia dapat dihancurkan oleh mereka dengan cara-cara keji di atas? Tentu kondisi nya berbeda, karena langkah yang ditempuh Jokowi adalah sebagai berikut:

    1. Membangun kekuatan TNI, baik lewat perbaikan Alusista, baik produksi dalam negeri maupun lewat pembelian dengan melirik Rusia sebagai mitra utama.

    2. Membersihkan BIN dari agen ganda pengabdi kepada kepentingan Amerika dengan agen Merah Putih.

    3. Menempatkan jabatan Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, serta juga Kapolri yang bukan lagi lulusan Amerika.

    4. Membangun infrastruktur besar di Indonesia. 

    Semuanya adalah dalam memperkuat ketahanan nasional, serta meninggikan martabat bangsa dengan tidak lagi tunduk kepada kemauan Amerika. Maka malulah kita, kalau masih saja mau menjual diri kepada kepentingan Amerika. [dutaislam.com/ ed]

    Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/12/isu-pki-adalah-permainan-amerika-ini.html#ixzz4Wuja3cHp

    , , , ,



    ELVIPS.COM - Saya sebetulnya terus mengamati nasib Rizieq di era Kapolri Tito. Setelah menikmati masa kejayaan di era SBY sebagai ‘attack dog’nya aparat, kini di jaman Ahok-Jokowi merana. Saat Tito menjadi Kapolda Metro Jaya 2014, 21 Anggota FPI termasuk Habib Novel ditangkap. Novel sendiri masuk penjara. Sejak saat itu kiprah FPI meredup dan mulai berkedip-kedip.

    Akan tetapi nasib tidak bisa diprediksi. Kesempatan emas bagi FPI datang tanpa diundang. Keputusan SBY menjadikan puteranya, Agus sebagai calon Gubernur DKI, membuat FPI tersenyum lebar. Publik paham bahwa lawan tangguh Agus adalah Ahok. SBY yang cerdas, lagi-lagi menggunakan FPI sebagai ‘attack dog’nya. Seolah SBY kembali ingat masa lalu, ketika ia seolah-olah membiarkan FPI sebagai ‘attack dog’ aparat. SBY paham bahwa Ahok bisa ditekuk dengan senjata agama.

    Seandainya Ahok tidak menyerempet Surat Al-Maidah ayat 51 itu, Ahok tetap saja menjadi sasaran kampanye SARA Habib Rizieq. Publik juga yakin bahwa menjelang Pilkada DKI, FPI akan bergerak lebih ganas berkampanye anti Ahok. Lima tahun sebelumnya FPI dengan di bawah pimpinan Rizieq, telah berjuang menghentikan Ahok dengan berbagai cara. Nah, dengan adanya pencalonan Agus dari kubu Cikeas, Rizieq-FPI seolah mendapat teman baru, energi baru.

    Bagai mendapat durian runtuh, sebaris ucapan Ahok tentang Surat Al-Maidah itu digunakan menjadi senjata dahsyat. Dipicu dengan video Buni Yani yang telah diedit, ucapan video Ahok bagai kilat menyebar ke seluruh pelosok jagat maya. Jadilah Rizieq dengan cekatan memanfaatkan ucapan Ahok itu untuk menghimpun dukungan.

    Lewat Fatwa MUI, Rizieq membentuk GNPF-MUI. Aksi bela Islam I, II dan III terlaksana membahana. FPI kembali berjaya. Rizieq mendapat gelar sebagai ‘The man of the year’ dari komunitas Tionghoa. Mantap. Rizieq juga terlihat beberapa kali bertemu dan duduk bersama dengan Kapolri Tito. Yang menarik adalah kesediaan Tito merangkul Rizieq.

    Taktik Tito merangkul Rizieq sebetulnya, hanyalah sementara. Alasannya, saat gencar-gencarnya aksi demo, posisi Rizieq lagi di awang-awang. Rizieq bagai aktor hebat yang sedang memanen dukungan untuk menghantam Ahok. Ia dengan amat mudah dapat bersatu dengan para lawan politik Ahok untuk menghancur-leburkan Ahok.

    Tito yang cerdas mengikuti arah angin yang memihak Rizieq. Ia merapat dan duduk bersama dengan Rizieq untuk sementara. Dan Tito berhasil. Rizieq bagai singa ganas, dapat dijinakkan dengan elusan halus di punggung. Taktik Tito yang mau berbicara dengan Rizieq berefek aksi demo berlangsung damai dan bahkan super damai.

    Jelas, Rizieq tidak selamanya di atas angin. Ketika arah angin mulai menghuyunkan Rizieq, Tito sudah siap menerjangnya. Tito sangat paham, bahwa orang yang berada di balik kasus-kasus intoleran selama ini adalah Rizieq dengan FPI-nya. Dengan menekuk Rizieq dan FPI-nya maka NKRI sebetulnya amat mudah ditegakkan.

    Akan tetapi Tito tidak langsung menekuk Rizieq. Tito juga paham bahwa ada beberapa kekuatan di belakangnya. Jadi untuk menekuk Rizieq, maka orang-orang yang sempat membuat dia berada di atas angin, yang pertama-tama dipreteli. Dan itulah yang terjadi. Ratna Sarumpaet, Ahmad Dhani, dan kawan-kawan, sudah ditekuk. Setelah itu, kini kubu Cikeas sedang dipanah terkait penyandang dana makar. Gde Sardjana yang telah terbukti mentransfer uang ke Jamran, adalah pintu awalnya.

    Ketika angin sudah mereda dan Rizieq sudah berada di daratan, saatnya mulai menekuk Rizieq. Laporan-laporan tentang Rizieq soal penistaan agama, laporan tentang penghinaan Pancasila, serta laporan penghinaan uang baru, kini mulai diproses. Nah, tentu saja di antara laporan-laporan itu, yang paling sensi adalah laporan tentang penghinaan Pancasila. Hal itu mendapat moment bagus ketika militer Australia menghina Pancasila menjadi Pancagila.

    Jika Gatot dengan tegas memutuskan hubungan militer Indonesia dengan Australia karena menghina Pancasila, mengapa Rizieq yang menghina Pancasila dibiarkan bebas berkeliaran? Jelas momen tepat datang. TNI dan segenap rakyat mendukung Polisi mengusut si penista Pancasila, Habib Rizieq. 

    Panggilan pemeriksaan kepada Rizieq untuk diperiksa 5 Januari 2017 dilakukan. Prediksi polisi bahwa Rizieq tidak datang, lagi-lagi benar. Bukankah saat dipanggil terkait soal makar kemarin, Rizieq juga tidak datang? Rizieq mangkir dengan alasan sakit. Kalau demo tidak sakit, kalau diperiksa polisi sakit. Menarik. Pertanyaannya mengapa Rizieq sakit saat dipanggil soal Pancasila?

    Sebetulnya Rizieq dilanda stress saat mempertimbangkan panggilan polisi itu. Kalau Rizieq datang, ia merasa malu. Bagaimana mungkin orang pembawa damai “The man of the year’ memenuhi panggilan polisi Jawa Barat? Bukankah Rizieq pernah berdiri sejajar dengan Jokowi saat demo 212? Bagaimana mungkin seorang Rizieq yang pernah duduk sejajar dengan Tito, memenuhi pangilan polisi Jawa Barat? Lalu bagaimana mungkin Habib Rizieq, yang didaulat sebagai imam besar umat Islam Indonesia datang untuk diperiksa? Malu.

    Akan tetapi kalau tidak mau datang, Rizieq ingat wajah Tito. Tito adalah Kapolri cerdas, tegas dan berani. Dialah yang menekuk FPI saat mendemo Ahok di Balai Kota. Selama Tito menjadi Kapolda Metro Jaya, Rizieq dengan FPInya terpaksa memilih tiarap. Namun kalau panggilan polisi itu tidak dipenuhi apa kira-kira reaksi Tito? Mungkinkah dia akan menjemput paksa saya alias ditangkap. Memikirkan hal itu, Rizieq sakit, stress.

    Jawaban perdebatan pikiran Rizieq itu, akhirnya dia mendapatkannya hari ini (9/1/2017). Tito sudah mengeluarkan ancaman bahwa jika Rizieq mangkir, maka akan dijemput paksa. Menurut Tito, Rizieq tidak memenuhi panggilan penyidik pada tanggal 5 Januari 2017 lalu dengan alasan sakit. Karena itu Rizieq rencananya akan diperiksa kembali pada tanggal 12 Januari 2017 mendatang.

    “Yang bersangkutan (Rizieq Shihab) sedang diproses hukum di Jawa Barat. Dipanggil tanggal 5 Januari kemarin tapi tidak hadir dengan alasan sakit. Dipanggil kembali tanggal 12 Januari 2017”, ujar Kapolri Tito. “Kita lihat, datang atau tidak. Jika datang diperiksa. Jika tidak, sesuai hukum, KUHP tentu kita lakukan surat perintah membawa”, tegas Tito seperti dilansir oleh Merdeka.com (9/1/2017).

    Saya yakin bahwa Tito kini mendapat momen yang tepat untuk menekuk Rizieq. Ketika Indonesia tegas kepada Australia yang menghina Pancasila, maka Indonesia juga tegas kepada seorang Rizieq yang melakukan hal yang sama. Dan sentimen inilah yang hendak dipakai Tito untuk menekuk Rizieq. Akankah Rizieq menolak datang lagi? Atau dia memilih untuk dijemput paksa? Mari kita dengar jawaban sikura-kura.

    https://seword.com/politik/taktik-jitu-kapolri-tito-tekuk-habib-rizieq/

    , , ,

    ELVIPS.COM - Banser adalah tentaranya NU,Apa yang sulit bagi Nahdlatul Ulama sekarang ini dalam menguasai NKRI ?

    Hampir tidak ada. Dengan umat yang diperkirakan berjumlah 50 juta orang ( bahkan ada yang mengatakan 80 juta ), NU bisa melakukan apa saja, termasuk makar.

    Dalam bidang ekonomi, NU sangat mungkin merebut "pasar" MUI dalam mengeluarkan fatwa halal dan haram. MUI hanyalah sebuah organisasi saja, dan jika dibandingkan dengan organisasi NU bagaikan bumi dan langit.

    Tetapi NU tidak melakukan itu. Mereka tidak mencari uang dengan cara2 seperti itu, padahal ketika mereka membentuk badan fatwa sertifikasi halal banyak yang akan beralih ke NU. Siapa yang melarang emangnya ? NU bisa saja berdalih bahwa ini khusus untuk umatnya. Dan ketika NU mau melakukan itu, habis sudah pendapatan MUI yang terbesar dan kering kerontanglah mereka spt unta kehausan di padang.

    NU juga bisa saja membuat fatwa2 bahwa aliran A sesat, aliran B menyimpang dsb-nya. Dan berkillah lagi, ini untuk warga NU saja. Lalu siapa yg bisa melarang ? NU tidak begitu. Mereka membiarkan semua berjalan apa adanya, tidak takut akidah umatnya tergerus apalagi cuma dengan mie instan. Malah kalau ada non muslim yang membagi2kan mie instan, mereka akan dengan senang hati datang. Kapan lagi dapat gratisan ?

    NU sebagai pembela NKRI, bisa saja membenturkan dirinya dengan HTI, Majeliss Mujahidin dan organisasi2 Islam gurem lainnya yang menguasai khilafah. GP Ansor dan Banser punya kemampuan untuk itu. Tapi untuk apa ? NU tetap berjalan pada koridor hukum dan undang2. Mereka melawan dengan cara yang sangat soft dan smart, membuat Islam Nusantara sebagai tandingan dari Islam Radikal yang diusung para pecinta khilafah.


    Siapa yang bisa menjaga gereja2 dan perayaan hari besar umat non muslim, selain NU ? Tanpa ada NU, mungkin sudah banyak bom berletusan ya
    g menjadikan gesekan besar antar umat beragama. Kita bisa seperti Suriah, Afghanistan dan Irak. Bahkan salah seorang anggotanya syahid ketika melindungi sebuah gereja dari bom.

    NU-lah pelopor gerakan pluralisme dengan berdakwah, menunjukkan wajah Islam yang penuh rahmat di gereja2. Tidak ada rasa takut bahwa automurtad seperti propaganda bodoh yg terus dilancarkan. NU pula-lah yang menjaga budaya asli Islam Indonesia sehingga tidak terkontaminasi budaya arab.

    Begitu kuat dan tenangnya NU bergerak, sehingga langkahnya terasa tidak terdengar. NU seperti singa yang tidak perlu mengaum, ketika dirasa tidak ada bahaya. Beda dengan anjing yang selalu menggonggong bahkan ketika orang sekedar lewat saja.

    Karena itu temanku, kalau mau melihat bagaimana Islam di Indonesia, lihatlah NU (dan Muhammadiyah). Masih selamatnya kita di Indonesia ini tidak lepas dari besarnya peran mereka menjaga kita tetap utuh.

    Jangan lihat yang organisasi2 gurem itu. Mereka harus teriak keras2 supaya diperhatikan NU.


    Mereka berteriak, "kami umat Islam.." padahal mereka kecil saja. Mereka teriak, "kami mayoritas.." NU ketawa saja. Elu ? Mayoritas ? Emak lu robot...

    Sayang, NU ga tertarik dengan teriakan2 minta perhatian mereka. Bahkan cenderung menyindir2 kebodohan mereka dalam beragama dengan gaya yang masih santun, sarungan, kopiahan dan cangkrukan sambil ngudut dan ngopi.

    Mari kita angkat secangkir kopi untuk NU. Mereka layak mendapatkan itu.

    Oleh : Denny Siregar

    , , , ,

    ELVIPS.COM - Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto mengikutkan Menko Maritim, Luhut Panjaitan. Dulunya, Luhut dan Prabowo sama-sama di Kopassus dan Luhut lebih senior.
    Jelang aksi demontrasi 4 November 2016 yang isunya makin panas, Presiden Joko Widodo pun sowan ke rumah Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Banyak yang menilai pertemuan dua tokoh itu dalam rangka meredakan gejolak pascaucapan Ahok soal Al-Maidah 51 pada 4 November nanti. Penilaian yang sangat masuk akal dan sudah jelas. 


    Prabowo sendiri, tak lama setelah kedatangan Jokowi, langsung bicara soal rencana aksi demonstrasi 4 November. "Kita harus jaga jangan sampai ada unsur-unsur yang mau pecah belah bangsa. Kalau ada masalah, kita selesaikan dengan sejuk dan damai," ujar Prabowo.



    Isu  4 November 2016 tampak diperlakukan sangat serius. Ini terkait banyak hal, yang sudah pasti terkait isu keamanan dan stabilitas nasional. Secara teori, tentu ini wilayah yang menjadi tugasnya Panglima TNI dan Menteri Pertahanan, yang keduanya berada di bawah koordinasi Menkopolhukam.  Tapi, tidak kali ini. Presiden justru didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia (Menko Maritim), Luhut Binsar Panjaitan, bukan didampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia (Menkopolhukam), Wiranto.



    Selain Luhut, Jokowi saat itu didampingi juga oleh Menteri Sekertaris Negara, Pratikno. Keduanya mengawal Jokowi saat bertamu ke Hambalang. Daripada Pratikno, Luhut terlihat lebih intens terlibat. Ia selalu berada tak jauh dari Jokowi. Raut mukanya ekspresif, terus merespons setiap kalimat yang dikeluarkan Jokowi maupun Prabowo, saat tanya jawab dengan wartawan. 



    Sebelum Jokowi meninggalkan Hambalang, Luhut sempat ngobrol sebentar dan lantas bersalaman dengan Prabowo. Sedangkan Luhut memperlihatkan sikap siap dan berhormat. Setelah itu Luhut pun masuk ke dalam mobil. 



    Siapa tak kenal Luhut Binsar Pandjaitan? Kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo tak dapat dibantah. Beberapa pos kementerian pernah didudukinya. Tapi bicara kedekatan, atau lebih tepatnya: hubungan, antara Luhut dan Prabowo rasanya lebih menarik. 

    Bicara soal masa lalu, Luhut punya riwayat sangar. Lebih dari dua puluh tahun dalam dinas militernya berada di Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Menariknya, kariernya di Kopassus mentok hanya sebagai Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) saja. 

    Prabowo, tentu tak kalah sangar, juga lebih dari dua puluh tahun di Kopassus. Prabowo bahkan menjadi Komandan Jenderal Kopassus ke-15, dari 1995 hingga 1998. Setelah itu ia menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), walau hanya dua bulan. Karier militernya mentok sampai Komandan Sekolah Komando ABRI. Pangkat terakhirnya hanya sampai Letnan Jenderal saja. 

    Sedangkan Luhut, setelah 1995, ia ditugaskan sebagai Komandan Komando Resort Militer (Danrem) di Madiun. Luhut tak pernah jadi panglima. Setelah menjabat Komandan pada Komando Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD), Luhut sudah didutabesarkan di Singapura dari 1999 hingga 2000. 


    Meski tak lagi berdinas di militer pada 1999, pangkatnya sudah Jenderal penuh. Namun kendati berstatus jenderal penuh, pemilik bintang empat, Luhut tak pernah menjadi kepala staf angkatan. Selain Luhut, ada beberapa tentara yang berstatus jenderal penuh tapi tidak pernah memimpin angkatan. Di antaranya adalah Hendropriyono, Susilo Bambang Yudhoyono dan Hari Sabarno. 



    Ketika Abdurahman Wahid jadi Presiden, Luhut ditarik menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI, dari 2000-2001. Dalam politik praktis, Luhut pernah menjadi Wakil Ketua DPP Golongan Karya (Golkar) dari 2008 hingga 2014.



    Luhut sendiri sudah berusia 69 tahun. Empat tahun lebih tua dari Prabowo. Luhut yang lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1970 masuk ke Kopassus sejak 1971.  Sementara Prabowo yang lulusan Akabari 1974 baru masuk Kopassus pada 1976. 



    Persamaannya: baik Luhut dan Prabowo sama-masa memulai karier di Korps Baret Merah alias Kopassus sebagai Komandan Peleton Para Komando. Saat itu Kopassus masih bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Keduanya juga sama-sama pernah dikirim bertugas ke Timor-Timur. 



    Zaman Prabowo-Luhut ini masih muda, terorisme ala Black September berjaya di Eropa. Pembajakan pesawat terbang sering jadi aksi utama para teroris. Kasus pembajakan pesawat pun harus dialami oleh Indonesia. Pesawat Garuda dibajak dan digiring ke Don Muang, Thailand, pada 1981. 



    Meski memakan korban, baik di pihak pembajak dan Kopassus, operasi pembebasan sandera dianggap sukses oleh Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam) merangkap Panglima ABRI yang dijabat M Jusuf. Kala itu, Sintong Panjaitan sendiri yang memimpin operasi pembebasan sandera.



    Demi mengantisipasi pembajakan lagi, maka beberapa personil Kopassus dikirim ke Jerman. Untuk belajar pada Polisi Elit Jerman Barat, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9).  Abang Luhut dan Adik Prabowo pun pernah dikirim belajar ke sana soal operasi khusus kontra terorisme pada 1981. Keduanya menjadi pendiri dan pemimpin Detasemen 81/Anti Teror. Si abang menjadi komandan, dan si adik jadi wakilnya.  



    Sudah jadi hal umum di kalangan militer Indonesia semua senior (apalagi jika usianya pun lebih tua) dipanggil: abang. Bagi Prabowo, Luhut adalah Abang.  Tak hanya di kalangan militer, di organisasi sipil yang terpengaruh militer, ada doktrin tak tertulis, senior selalu benar. Adik harus turut dan hormat pada abang. Bahkan ada cerita miring soal adik angkatan, harus rela melepaskan pacarnya jika abang yang senior naksir pacarnya adik angkatan.






    Peristiwanya terjadi pada suatu hari di bulan Maret 1983. Ketika itu Sidang Umum MPR sedang berlangsung. Luhut, yang masih berpangkat Mayor, dikejutkan oleh laporan dari bawahannya soal pasukan Detasemen 81/Anti Teror yang dipimpinnya malah sedang bersiaga. 



    Abang Luhut bertanya kepada bawahannya: “Mengapa bersiaga?” 



    Bawahannya itu menjawab itu atas perintah Kapten Prabowo, sang adik, alias wakilnya. Rupanya, menurut Abang Sintong, sedang disiapkan sebuah plot penculikan terhadap Letnan Jenderal L.B. Moerdani, Letnan Jenderal Sudharmono, dan Marsekal Madya Ginandjar Kartasasmita. 



    Abang Luhut pun heran. Ada angin apa sang adik tiba-tiba berencana menculik Moerdani, yang ketika itu menjadi Asisten Intelejen Hankam? Padahal dua hari sebelumnya, sang adik mengajak Abang Luhut untuk mendukung Moerdani menjadi Menhankam/Panglima ABRI. Abang lalu memanggil si adik ke kantor. Namun mereka malah bicara di luar.



    “Ada apa, Wo?” tanya Abang Luhut.



    “Ini bahaya, Bang. Seluruh ruangan kita sudah disadap. Pak Benny (Moerdani) mau melakukan coup d'etat,” jelas Adik Prabowo untuk meyakinkan Abang Luhut. Namun si abang membantahnya. Bagi Luhut, Benny Moerdani tak mungkin melakukan kudeta. 



    Sampai akhirnya Prabowo pun mengatakan sesuatu kepada Luhut: “Bang, nasib negara ini ditentukan oleh seorang Kapten dan seorang Mayor.” 
    Sintong menafsirkan kalimat Prabowo yang diucapkan dengan bangga itu sebagai permintaan dukungan dari Abang Luhut, sebagai pelindung dan dirinya sebagai pemain utama. Abang Luhut tak termakan dengan isu kudeta dan tak mau bertindak tanpa perintah atasannya. 


    Luhut akhirnya mengamankan semua senjata anak buahnya di markas detasemen. Luhut melapor kepada Sintong Pandjaitan soal ini.  Selidik punya selidik, berdasar pengakuan perwira yang terlibat dalam plot operasi, sasaran penculikan nantinya akan dibawa ke Cijantung untuk dihadapkan pada Soeharto.  Karena Abang Luhut tak memberi restu, gerakan sang adik akhirnya batal. Beruntunglah tak ada pemecatan untuk sang adik kala itu. 



    Belakangan Prabowo dipindahkan ke Kostrad. Di sana ia menjadi Komandan Batalyon Infanteri Raider 328. Tapi tak lama di sana, Prabowo kemudian kembali masuk ke Kopassus dan mencapai puncak kariernya sebagai Danjen Kopassus. 



    Begitulah romantisme Abang Luhut dan yuniornya, Adik Prabowo Subianto, yang sangat energik dan dinamis dalam berpolitik. Meski keduanya sudah tak lagi berdinas militer, jumlah bintang di baret merah tetaplah harus dihormati.  Luhut, seperti juga Hendropriyono, punya empat dan Prabowo hanya tiga.



    Apa pun itu, Luhur sendiri tidak menyanggah hubungan pribadi antara dirinya dengan Prabowo, yang tidak jarang diselingi perbedaan pendapat. Melalui laman resminya di Facebook, Luhut menulis: "Saya kenal Pak Prabowo sejak dari pangkat Letnan. Sudah lebih dari 30 tahun kami berteman, walaupun kadang kami berbeda pendapat. Tapi kalau kami sudah bicara tentang NKRI, kami jadi sepakat, kami jadi satu dan kokoh. Kami tidak mau ditawar soal itu."



    Pernyataan yang normatif, memang. Tapi dari sanalah dinamika hubungan abang-adik itu masih terus berlanjut.

    , , , , , , , ,




    ELVIPS.COM - Semakin hari rahasia organisasi teroris yang menamakan diri sebagai ad Daulah al Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah alias Daisy atawa ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) makin terkuak. Terakhir mereka tidak menjadikan Zionis Israel sebagai musuh. Alasan yang dikemukakan, sebagaimana disampaikan Jurgen Todenhofer, karena Israel merupakan satu-satunya negara yang paling ditakuti ISIS.

    Todenfofer adalah seorang wartawan kawakan berusia 75 tahun. Pada 2014 ia pernah berada di Suriah selama sepuluh hari. Menurutnya, ISIS tidak takut terhadap serangan yang dilancarkan Rusia ataupun negara-negara yang tergabung dalam koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Pasukan darat AS, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya dianggap tidak berpengalaman melawan gerilyawan kota atau strategi teroris seperti yang dilakukan ISIS. Sebaliknya, lanjut wartawan asal Jerman ini, Israel sangat tangguh dalam bertempur melawan gerilyawan dan teroris.

    Hingga sekarang negara-negara yang tergabung dalam koalisi pimpinan AS memang belum menurunkan pasukan darat mereka untuk melawan ISIS. Todenfofer menganalisa, hal itu sengaja dilakukan pasukan koalisi karena mereka mengetahui ketangguhan ISIS dalam perang gerilya kota ataupun dengan cara teror. Salah satunya dengan serangan bom bunuh diri.

    Namun, pandangan Todenhofer ini segera dibantah oleh sejumlah pengamat dan ahli strategi perang di Timur Tengah. Sebagaimana ditulis media al Sharq al Awsat dan Aljazeera.net, gabungan pasukan dari negara-negara NATO (North Atlantic Treaty Organization/Pakta Pertahanan Atlantik Utara) akan susah untuk dilawan, apalagi hanya oleh ISIS yang cuma mempunyai puluhan ribu personil. Itu pun bukan personil militer terlatih sebagaimana negara-negara maju. Dua media itu lalu mencontohkan tentang penggulingan rezim Taliban — yang didukung Alqaida — di Afghanistan, rezim Saddam Husein di Irak, dan rezim Muamar Qadafi di Libia.

    Yang jadi persolan adalah hingga kini koalisi internasional pimpinan AS dan juga koalisi negara-negara Islam pimpinan Arab Saudi yang baru terbentuk, serta militer dari negara asing lainnya — termasuk dari Rusia –, belum menurunkan pasukan darat mereka. Yang berlangsung selama ini adalah serangan udara secara sporadis dan kurang terkordinasi dalam satu komando, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.

    Penyebabnya berbagai-bagai. Di antaranya, pertama, koalisi yang ada sekarang ini, terutama dari negara-negara Arab dan Islam (negara dengan penduduk mayoritas Muslim) bisa dikatakan sebagai koalisi setengah hati. Pemerintahan di Irak sekarang adalah penganut Syiah. Begitu pula dengan rezim Bashar Assad yang berkuasa di Suriah. Bila kelompok militan ISIS dihabisi, maka yang berkuasa di Irak dan Suriah otomatis adalah Syiah. Dan, bukan rahasia lagi negara-negara Arab, khususnya negara-negara Teluk, sangat khawatir dengan pengaruh Syiah yang semakin membesar.

    Kedua, AS sebagai pimpinan koalisi sebenarnya tahu segala gerak-gerik pasukan ISIS. Apalagi mereka mempunyai peralatan militer yang sangat canggih. Namun, mereka sengaja membiarkan pergerakan pasukan ISIS hanya dihadapi militer Irak. Padahal, tulis al Sharq al Awsat, bila AS mau mereka bisa langsung menggempur pasukan ISIS lewat serangan udara dan darat.

    Tidak diketahui dengan pasti apa alasan AS. Namun, yang bisa diprediksi adalah bahwa AS telah mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi baik di Irak maupun Suriah. Bahkan di kawasan Timur Tengah pada umumnya. Terutama lewat perdagangan senjata, minyak, dan benda-benda purbakala, baik terang-terangan maupun lewat perdagangan gelap.

    Ketiga, meskipun pasukan koalisi internasional pimpinan AS telah berhasil dengan gemilang menghancurkan rezim Taliban dan Alqaida di Afghanistan dan rezim Saddam Husein di Irak, namun serangan itu telah meninggalkan trauma berkepanjangan, terutama buat AS dan Inggris. Serangan itu hingga sekarang masih memunculkan kritik yang tajam dari rakyat di kedua negara tersebut.

    Kondisi seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh ISIS. Apalagi mereka tahu persis tentara Irak kurang terlatih dan mentalnya juga payah. Mereka adalah rekrutan baru. Sedangkan para mantan tentara Saddam Husein yang terlatih yang meyoritas Suni tidak dipakai lantaran diragukan loyalitasnya kepada Pemerintah Irak. Sementara itu di Suriah, konflik antara rezim Bashar Assad dan kelompok-kelompok oposisi telah mempermudah ISIS untuk ikut ‘bermain’.

    Yang aneh bin memprihatinkan, meskipun ISIS selalu mengklaim sebagai pejuang demi Islam dan kepentingan umat Islam, namun tak pernah sekalipun mereka, termasuk pemimpin tertingginya Abu Bakar al Baghdadi, menyatakan perang terhadap Zionis Israel. Yang menjadi musuh mereka selama ini justru orang-orang atau kelompok yang dianggap bisa menghalangi atau bahkan hanya berbeda pandang dengan mereka. Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang Islam sendiri, baik Syiah maupun Suni. Sementara itu Zionis Israel dianggap bukan sebagai panghalang sepak terjang ISIS alias sebagai teman.

    Padahal, selama ini, Zionis Israel merupakan musuh bebuyutan dari mayoritas umat Islam. Bukan lantaran mereka adalah bangsa Yahudi, namun lebih karena sikap mereka yang kolonialis alias bangsa penjajah. Sudah berpuluh-puluh tahun Israel menduduki wilayah bangsa Palestina. Termasuk kompleks Masjidil Aqsa yang merupakan kiblat pertama dan tempat suci ketiga bagi umat Islam. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini Israel terus berusaha untuk ‘mengyahudikan’ segala hal yang terkait dengan Masjidl Aqsa, termasuk menggantikan indentitas Islam dengan identitas Yahudi.

    Namun, dengan munculnya kelompok teroris ISIS yang menebarkan ketakutan pada masyarakat internasional, konsentrasi negara-negara Arab dan Islam (negara berpenduduk mayoritas Muslim) pun tersedot kepada mereka. Hal ini jelas menguntungkan Zionis Israel.

    Dalam jajak pendapat yang dilakukan kepada warga Israel bulan lalu didapat hasil bahwa negara-negara Arab dan Islam kini sudah tidak mereka anggap sebagai ancaman serius terhadap eksistensi negara Israel. Yang mereka khawatirkan justeru gerakan intifadah para pemuda Palestina. Mereka dianggap ancaman berbahaya bagi masyarakat Israel. Sayangnya, bangsa Palestina kini seolah berjuang sendirian. Tidak ada lagi negara Arab dan Islam yang memperdulikan nasib mereka, kecuali hanyalah dukungan politik alias hanya dukungan pernyataan.

    Karena itu, yang bisa dibaca dari pekembangan di Timur Tengah yang semakin ruwet ini adalah ISIS sangat pandai memanfaatkan keadaan demi kepentingan memperoleh kekuasaan. Sepak terjang mereka tidak ada hubungannya dengan ‘demi Islam dan membela serta memperjuangkan kepentingan umat Islam’. Bahkan tindakan teror yang mereka lakukan di mana-mana telah menimbulkan Islamophobia alias kebencian kepada Islam dan umat Islam. Hal ini jelas merugikan umat Islam sendiri.

    Yang memprihatinkan, ribuan orang, terutama para pemuda dari berbagai negara asing, telah berhasil direkrut oleh ISIS. Para pemuda itu terpincut pada klaim kelompok militan itu bahwa mereka berjuang demi Islam dan demi kepentingan umat Islam. Padahal, mereka sebenarnya hanyalah dimanfaatkan oleh para pemimpin ISIS untuk dijadikan tentara dalam rangka memperoleh kekuasaan. Sepak terjang ISIS jelas tidak ada hubungannya dengan Islam dan kepentingan umat Islam.

    Source: www.republika.co.id

    , , , , ,


    ELVIPS.COM - Pengamat politik dari Universitas Paramadina Toto Sugiarto meyakini, deklarasi pasangan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dengan Djarot Syaiful Hidayat selaku calon petahana oleh PDIP mengacaukan hitung-hitungan lawan politik yang sejauh ini belum memiliki calon yang pasti diusung pada Pilgub DKI.

    "Pasangan Ahok-Djarot tentu menjadi lawan tangguh bagi siapa pun. Diperlukan strategi yang luar biasa untuk mengalahkannya. Kondisi politik lawan seperti Koalisi Kekeluargaan tentu semakin melemah, mereka juga kesulitan menemukan calon alternatif," kata Toto, kepada SP, di Jakarta, Selasa (20/9) pagi.

    Menurutnya, Ahok-Djarot berada dalam posisi kuat setelah PDIP mengusungnya. Secara matematis, PDIP merupakan parpol yang paling kuat di DKI sekarang ini. Masuknya PDIP ke gerbong Golkar, Hanura, dan Nasdem menutup peluang parpol lain dari Koalisi Kekeluargaan untuk bergabung.

    Toto mengatakan, figur petahana di Pilgub DKI juga diuntungkan oleh karakter pemilih Ibu Kota yang cenderung lebih rasional dalam memilih sebagaimana yang terjadi pada Pilgub DKI tahun 2012. Pada 2012 pasangan Jokowi-Ahok menang mengalahkan pasangan-pasangan lain termasuk petahana karena pemilih DKI selain melihat figur juga mengukur kinerja.

    Jika dibandingkan dengan fakta sekarang ini, ‎belum ada calon yang mampu menandingi elektabilitas Ahok sehingga menjadi wajar apabila parpol-parpol lain kesulitan menemukan pasangan calon untuk berkontestasi.

    "Calon petahan semakin diuntungkan karena mesin PDIP dalam pilkada DKI sangat kuat. Dipasangkannya Ahok-Djarot memudahkan keduanya melengang kencang. Jangan lupa, Pilgub DKI merupakan modal awal untuk Pilpres 2019 karena Pilgub DKI merupakan barometer untuk pemenangan di daerah lainnya," kata Toto.

    Toto memprediksi ‎parpol-parpol lain yang tidak mendukung atau ikut mengusung petahana sekarang ini berupaya keras menemukan figur melawan Ahok. Sementara sosok pengusaha sekaligus kader Partai Gerindra Sandiaga Uno belum mampu menyamai elektabilitas Ahok.

    Nama-nama besar yang digadang-gadang menjadi bakal calon seperti Yusril Ihza Mahendra dan Rizal Ramli juga belum mendapatkan kendaraan politik untuk maju. Sebab, tidak semua parpol berambisi memenangi Pilkada DKI karena hanya ingin mengambil untung dalam pencalonan.

    "Sedangkan untuk parpol yang berambisi menguasai DKI sangat berat. Gerindra misalnya, harus benar-benar mampu mengatrol Sandiaga ini. Ini kerja besar dan sulit," ujarnya.

    , ,


    ELVIPS.COM - Seorang penembak jitu (sniper) pasukan SAS Inggris berhasil menembak mati algojo kelompokIslamic State atau ISIS dari jarak 1.500 meter di sebuah desa kecil di Raqqa, Suriah. Algojo itu hendak mengeksekusi 12 sandera dengan cara membakar.

    Senapan yang digunakan sniper SAS itu adalah Barertt berkaliber 50. Sniper itu menembak tangki bahan bakar tangan yang dibawa algojo ISIS di punggungnya.

    Saat tangki itu ditembak, algojo ISIS tewas terbakar. Tembakan itu juga menyebabkan ledakan besar yang menewaskan tiga anggota ISIS lain yang sedianya akan merekam eksekusi ke-12 sandera.

    Seorang sumber militer Inggris mengatakan kepada Daily Star Sundaytentang operasi penyelamatan 12 sandera tersebut. Operasi itu berlangsung di sebuah desa kecil di dekat Raqqa, Suriah, awal bulan ini.

    Tak lama setelah ledakan besar, para sandera—yang diduga warga sipil—dibebaskan oleh pasukan khusus Inggris dan pasukan khusus Amerika Serikat.

    “Tim SAS pindah ke posisi overwatch di sebuah desa di mana mereka diberitahu bahwa eksekusi akan berlangsung,” kata sumber itu, yang juga dilansir Daily Mail, Senin (12/9/2016).

    ”Hingga 12 warga sipil akan dibunuh, delapan laki-laki dan empat perempuan. Mereka dicurigai sebagai mata-mata,” lanjut sumber itu. ”Algojo memberi semacam pidato bertele-tele,  kemudian ketika selesai sniper SAS melepaskan tembakan.”

    Laporan penyelamatan sandera secara dramatis itu muncul beberapa bulan setelah sniper SAS lainnya menembak dua calon pengebom bunuh diri ISIS yang mengemudikan mobil yang sarat bahan peledak saat mobil itu bergerak menuju target di sebuah kota di Libya.

    Penembak jitu itu berhasil menyelamatkan ratusan nyawa dengan menembak  pengemudi mobil di bagian kepala dengan tembakan mematikan dari jarak 1.000 meter.

    Pihak intelijen Inggris mengungkap bahwa para “jihadis” ISIS saat itu mengangkut bom besar-besaran ke Tripoli di mana mereka berencana untuk meledakkan di pasar penuh sesak.


Top