.

.

.

.

.

    , , , , , ,

    ELVIPS.COM - Saya pernah baca buku tentang sejarah Nazi untuk menjawab pertanyaan ini, tapi saya lupa judul bukunya. Dan pertanyaan ini erat kaitannya dengan peristiwa genosida terhadap bangsa Yahudi (dikenal dengan Holokaus). Meskipun sejarah tentang hal ini masih simpang siur dan saya tidak bisa memastikan kebenaran yang sesungguhnya kerena belum lahir ketika itu. Tapi, saya tetap mencoba menjawab berdasarkan beberapa referensi yang saya dapatkan.
    Berawal dari sebuah legislasi yang memuat sebuah “Ayat Arya”, tentang penyingkiran orang-orang Yahudi yang diundangkan oleh Adolf Hitler ketika menjabat sebagai kanselir pada bulan April 1933. Maka, semua pegawai pemerintah harus memperlihatkan dokumentasi ihwal keturunan “Arya” mereka. Untuk pertama kalinya, sebuah legislasi menetapkan siapa yang dianggap orang Yahudi. Para pegawai yang diketahui keturunan Yahudi dicopot dari jabatannya. Orang Yahudi yang ikut berperang di lini depan selama Perang Dunia I atau yang anggota keluarga dekatnya gugur di dalam konflik dibebaskan dari aturan ini sampai tahun 1935, setelah itu mereka pun dicopot dari jabatannya. 
    Mulai dari tanggal 17 Agustus 1938, semua orang Yahudi di Jerman diharuskan menambahkan namanya dengan nama Yahudiah. Laki-laki wajib menambahkan "Israel" dan perempuan "Sara." Pada bulan Oktober, pemerintah Jerman menyita semua paspor yang dipegang oleh orang Yahudi. Paspor baru yang diberikan kepada orang Yahudi memiliki cap huruf "J," yang menandakan bahwa si pemegang paspor adalah orang Yahudi.
    Pada 19 September 1941, ditetapkan aturan bagi orang Yahudi berusia di atas enam tahun di Jerman diwajibkan untuk setiap waktu memakai bintang enam-titik berwarna kuning bertuliskan kata "Jude" ("Yahudi" dalam bahasa Jerman) dalam warna hitam yang melintang di bagian muka, yang dijahit pada baju luar. Setelah itu orang Yahudi di Jerman pun dapat dikenali secara visual. Deportasi secara sistematis kaum Yahudi dari Jerman dimulai pada bulan Oktober. Pada bulan Maret 1942, orang Yahudi juga diharuskan memperlihatkan lambang bintang tersebut di tempat tinggal mereka.
    Dengan demikian, pejabat Jerman dapat mengidentifikasi orang-orang Yahudi yang tinggal di Jerman melalui catatan sensus, pengembalian pajak, daftar anggota sinagoge (tempat ibadah orang Yahudi), catatan paroki (untuk orang Yahudi yang telah dikonversi), formulir pendaftaran polisi yang rutin tapi wajib, pertanyaan dari saudara, dan dari informasi yang diberikan oleh tetangga dan pejabat. Untuk wilayah yang diduduki oleh Nazi Jerman atau mitra Axisnya, orang-orang Yahudi sebagian besar diidentifikasi melalui daftar anggota masyarakat Yahudi, surat identitas individu, dokumen sensus yang didapatkan, catatan polisi, dan jaringan intelijen lokal.

    , , , , , ,


    Enam tahun sudah revolusi Libya berjalan. Namun, bukannya mengalami perubahan positif, negeri di wilayah Afrika Utara itu malah terjebak dalam kekacauan tanpa akhir.

    Bagi kebanyakan warga Libya, revolusi tersebut hanya menghasilkan kerusuhan dan aksi teroris.

    Kebanyakan orang Libya menyesalkan penggulingan Muammar Khadafi, bukan karena mereka mencintai rezimnya, tapi karena pilihan revolusi ternyata tak sesuai harapan, kata Jalal Fituri, seorang pengajar di universitas setempat, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (18/2/2017).

    Fituri menambahkan, kekacauan dan kondisi tidak aman menggantikan keamanan enam tahun lalu. Dan lebih buruknya lagi praktik korupsi merajalela di seluruh Libya.

    "Ketika kami berdemonstrasi menentang rezim (Khadafi), kami memimpikan kebebasan dan menikmati kekayaan kami. Namun, kami sekarang dikelilingi oleh penjahat dan gembong perang. Bukannya menikmati kekayaan minyak kami, kemiskinan telah meningkat dan warga tak berdaya," katanya.

    Sementara itu, Ibtisam Naili, seorang perawat di Tripoli, mengatakan percaya ada persekongkolan internasional dalam revolusi itu.

    "Mereka yang berdemonstrasi menentang rezim Khadafi pada 2011 dibodohi politisi Libya di luar negeri yang sangat menginginkan kekuasaan. Mereka mengambil-alih kekuasaan dengan mencuci otak pemuda Libya," katanya.

    Naili melanjutkan, Libya telah terpecah akibat konflik di seluruh negeri.

    "Barat dan timur terpisah dan hasilnya tiga pemerintah yang bertikai yang mengakui keabsahan dan dua parlemen di timur dan barat, keduanya mengaku 'mereka mewakili rakyat Libya'," kata Naili, geram.

    Demonstrasi guna menentang rezim Khadafi meletus pada 17 Februari 2011 di Kota Benghazi, Libya Timur, dan dengan cepat menyebar ke kota lain. Beberapa pekan kemudian, demonstrasi damai itu berubah menjadi konflik bersenjata antara gerilyawan Libya dan pasukan Khadafi.

    Pada Oktober 2011, gerilyawan menangkap dan membunuh Khadafi di kota kelahirannya, Sirte, dan menggulingkan rezimnya yang telah berkuasa selama 42 tahun.

    "Kami turun ke jalan dengan spontan. Kami bersatu sekalipun kami tidak saling mengenal. Kami memiliki harapan tinggi dan setiap orang memimpinkan Libya baru yang stabil dan makmur. Tapi sayangnya, tidak semua keinginan dapat terwujud," kata Mohamed An-Ne'mi, seorang gerilyawan dari Tripoli.

    Tapi lelaki tersebut tidak kehilangan harapan buat negerinya.

    "Kami akan bersabar dan kami memiliki keyakinan pada tujuan kami meskipun kekacauan melanda negeri kami. Kami tetap optimistis mengenai masa depan kami," katanya.

    Di lain pihak, Najwa Al-Hami, seorang pegiat hak asasi manusia, mengatakan apa yang terjadi di Libya bukanlah revolusi.

    "Mana mungkin ini revolusi rakyat sedangkan tiga-perempat rakyat mendukung Khadafi?" kata Al-Hami.

    "Apakah protes oleh ratusan orang di setiap kota adalah revolusi? Saya percaya dinas intelijen barat berada di belakangnya untuk mengubah rezim Khadafi melalui kekerasan."

    "Revolusi milik setiap politikus yang memiliki dwi-kewarganegaraan dan memiliki rekening bank di luar negeri. Mereka sangat ingin merayakan peringatan sebab itulah alasan mengapa mereka berada pada posisi ini," ungkapnya.

    , , , ,


    ELVIPS.COM - Amerika mulai khawatir terhadaplangkah politik internasional Presiden sekarang dengan membangun poros “Jakarta-Beijing-Taheran-Moskow” meliputi perdagangan, teknologi sipil, teknologi militer, kesehatan, nuklir dan investasi.

    Hal yang paling merisaukan Amerika adalah hancurnya hegemoni mereka serta hilangnya kontrol atas geliat ekonomi di Indonesia yang pada akhirnya akan merubah kiblat negara-negara kawasan di Asia Tenggara mengikuti jejak langkah Indonesia yang progresif.

    Ketakutan Amerika juga tidak terlepas dari kebijakan Presiden terhadap perpanjangan kontrak PT. Freeport Indonesia di bumi Papua, betapa besar kehilangan keuntungan bagi mereka apabila PT. FreeportIndonesia akan dimainkan Jokowi sebagai ‘capital politic’ pada pilpres tahun 2019 nanti, maka akan tamatlah Amerika di Indonesia.

    Ada beberapa langkah yang telah dan mulai dimainkan oleh Amerika di Indonesia dalam rangka tetap dapat mengusai Indonesia seperti selama ini berhasil mereka lakukan;

    1. Lewat bantuan Arab Saudi dengan memberikan suntikan dana besar kepada para radikalis dan teroris di Indonesia.

    2. Lewat Mesir dan Turkey dengan menggerakan Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslim di Indonesia.

    3. Lewat Alumnus West Point, Minneapolis, dan kursus perwira Indonesia di negeri Paman Sam dengan memainkan isu bangkitnya PKI.

    Ada pertanyaan, apakah CIA bermain di sini, maka jawabnya tentu saja. Sebab sudah bukan rahasia lagi bahwa selama ini, mereka (CIA) telah merekrut alumnus sekolah perwira militer maupun para akademisi terbaik dari sipil yang pernah mengenyam pendidikan Amerika, dan terlihat dari unsur Radikalis merapat ke blok Amrikiyya ini.

    Maka janganlah heran kalau yang menyebar isu anti Cina dan tuduhan bahwa Ahok bisa menjadi pemicunya mungkin mengarah ke tragedi tahun 1998, dan yang mengatakan bahwa hantu PKI itu memang nyata, serta yang membakar masa dalam pidato tentang bangkitnya ideologi komunis lewat PKI di Indonesia, semuanya adalah purnawirawan Jenderal lulusan Amerika. Apakah bukan kebetulan semata?

    Sederhana saja jawabnya, bahwa pola yang dimainkan Amerika sangat mirip dengan yang terjadi pada situasi sebelum meledaknya G 30 S/PKI seperti contoh di bawah ini: 

    – Settingnya dulu adalah Tritura, juga terselip sentimen anti Cina. Golnya adalah jatuhnya Bung Karno. Dan saat ini setingnya adalah “Turunkan Jokowi dan hancurkan PKI”, targetnya jatuhkan Jokowi.

    – Dulu Amerika memainkan kebodohan dan ambisi PKI dengan memusuhi para ulama dan agamawan, kemudian melakukan kudeta terhadap para Pahlawan Revolusi, maka saat ini digandengnya kaum radikalis yang anti Pancasila karena dianggap ajaran Thoghut untuk propaganda bangkitnya PKI. Padahal apa urusan mereka soal PKI, mereka itu jelas-jelas anti Pancasila dan ingin mendirikan Khilafah Islamiyah diIndonesia.

    – Pola penghancuran Indonesia telah dilakukan lewat aksi teror dan rencana membagi Indonesia menjadi 18 sampai 20 negara baru sehingga mudah dikuasai sesuai kepentingan mereka. Langkah itu tidak membuahkan hasil, maka mereka (Amerika) lewat antek-antek mereka di Indonesia memainkan isu yang paling sensitive yaitu “Bangkitnya PKI”.

    – Membangun fitnah terhadap pribadi Agus Wijoyo, purnawirawan Jenderal bintang 3 anak dari salah seorang Pahlawan Revolusi yang adalah tokoh penggagas serta pelopor rekonsiliasi antara anak mantan PKI dengan anak Pahlawan Revolusi. Sehingga ditimbulkanlah pertanyaan nyeleneh dari juga purnawirawan Jenderal lulusan Amerika bahwa perlu dipertanyakan apakah betul Agus Wijoyo itu anak dari Pahlawan Revolusi? Hal yang kemudian dibantah dan diluruskan oleh AM. 

    Hendropriyono, purnawirawan Jenderal mantan kepala BIN menyatakan bahwa dia kenal betul siapa Agus Wijoyo dan kenal betul siapa bapaknya. Sekarang isu bangkitnya PKI menjadi mainan yang menyatukan para alumnus Amerika baik sipil maupun militer bergandeng tangan dengan mesin penghancur Amerika di Timur Tengah yaitu kelompok radikal serta teroris berbaju agama.

    Akankah kita Bangsa Indonesia dapat dihancurkan oleh mereka dengan cara-cara keji di atas? Tentu kondisi nya berbeda, karena langkah yang ditempuh Jokowi adalah sebagai berikut:

    1. Membangun kekuatan TNI, baik lewat perbaikan Alusista, baik produksi dalam negeri maupun lewat pembelian dengan melirik Rusia sebagai mitra utama.

    2. Membersihkan BIN dari agen ganda pengabdi kepada kepentingan Amerika dengan agen Merah Putih.

    3. Menempatkan jabatan Panglima TNI, Kepala Staf Angkatan, serta juga Kapolri yang bukan lagi lulusan Amerika.

    4. Membangun infrastruktur besar di Indonesia. 

    Semuanya adalah dalam memperkuat ketahanan nasional, serta meninggikan martabat bangsa dengan tidak lagi tunduk kepada kemauan Amerika. Maka malulah kita, kalau masih saja mau menjual diri kepada kepentingan Amerika. [dutaislam.com/ ed]

    Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/12/isu-pki-adalah-permainan-amerika-ini.html#ixzz4Wuja3cHp

    , , , , ,

    ELVIPS.COM - Upaya intensive untuk meminisir penyampaian penyampaian bernada kebencian dan penyampaian berita syarat dengan fitnah telah dilakukan oleh berbagai pihak yang tentu saja hal ini baru bisa berhasil, manakala ada upaya kerja sama antara Pemerintah dan masyarakat luas dan atau non Governmental Organizations dilakukan dengan apik dan tidak hanya sebatas wacana dan pengamatan pengamatan.
    Mengapa harus ada Participation action research and action programs between Government and Non Governmental Organizations?. Karena yang diperlukan adalah upaya untuk memastikan bahwa Kepentingan Negara dan Bangsa harus lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi dan kelompok semata mata, tentu dalam kaitan dengan berbagai kemudahan yang timbul karena kemajuan Information and Communication Technology (ICT), memberangus situs situs yang dipastikan sebagai penyebab keresahan atau sources berita berita bohong adalah salah satu cara, tetapi bukan satu satunya.
    Media cetak dan atau elektronika yang memerlukan perijinan Pemerintah, mungkin saja dengan mudah dapat dikontrol dengan membekukan perijinan, tetapi di dunia cyber upaya pemberangusan tidak akan berjalan effektif, karena seseorang bisa saja melakukan hit and run untuk menghindari pemburuan dan tepatnya untuk melepaskan diri dari jeratan Undang undang tentang IT yang sudah ada di negeri ini.
    Kita tentu masih ingat tentang apa yang disebut sebagai ARAB SPRING?, yang akibatnya sampai saat ini masih belum terselesaikan dan berpengaruh terhadap masyarakat dunia pada umumnya dan juga Indonesia?.
    ARAB SPRING telah menjadikan Negara Negara Arab yang selama ini mapan karena berbagai kekayaan alamnya menjadi berantakan :
    Tunisia: Pemerintah digulingkan pada 14 Januari 2011. Presiden Zine el Abidine Ben Ali melarikan diri . Pemilihan untuk Majelis konstituen diselenggarakan pada 23 Oktober 2011.
    Mesir: Pemerintah digulingkan pada 11 Februari 2011. Presiden Hosni Mubarak mundur, menghadapi tuduhan membunuh demonstran tak bersenjata. Pemilu yang diselenggarakan pada 28 November 2011. Protes berlanjut di Tahrir Square.
    Libya: Protes anti-pemerintah dimulai pada 15 Februari 2011, yang mengarah ke perang saudara antara pasukan oposisi dan loyalis Moammar Gadhafi. Tripoli dikuasai dan pemerintah digulingkan pada Agustus 23. Gadhafi dibunuh oleh pasukan transisi pada 20 Oktober
    Suriah: Protes reformasi politik telah berlangsung sejak 26 Januari 2011 dengan bentrokan terus antara tentara Suriah dan pengunjuk rasa. Pada suatu hari di bulan Juli, 136 orang tewas ketika tank tentara Suriah menyerbu beberapa kota, dan sampai saat ini belum terselesaikan dan membawa korban beratus ribu jiwa serta kerugian materi lainnya yang tidak terhingga.
    Yaman: protes yang sedang berlangsung sejak 3 Februari 2011. Presiden Ali Abdullah Saleh terluka dalam serangan pada 4 Juni Pada tanggal 23 November, ia menandatangani perjanjian dan berakhirlah pemerintahannya selama 33 tahun, diiringi dengan kemelut menyedihkan yang terus terjadi, dan semakin menjadi dengan keterlibatan Saudi Arabia yang menghawatirkan kondisi Yaman berpengaruh terhadap stabilitas Nasionalnya.
    Negara-negara lain: Protes keras beralasan demokrasi yang berkaitan dengan Arab Spring juga terjadi di negara-negara lain juga, termasuk Aljazair, Irak, Yordania, Kuwait, Maroko, Oman dan Qatar (yang di respond dengan apik oleh Amir Qatar dengan mengundurkan diri dan mengangkat Putera mahkotanya sebagai penggantinya)
    ARAB SPRING kemudian melahirkan gerakan yang sangat membahayakan kemapanan sosial politik di Negara Negara dengan pendudukan mayoritas beragama Islam, karena dibentuknya organisasi Pemberontakan yang disebut sebagai DAESH atau ISIS yang pengaruh negativenya menyebar keseluruh dunia termasuk ke Indonesia.
    Tentu kita tahu bahwa penyebabnya adalah hal yang amat kecil saja jika dibandingkan dengan akibatnya, karena hanya disebab oleh seorang Pemuda berumur 26 tahun Mohamed Bouazizi penjual buah-buahan dan sayuran di kota Sidi Bouzid, Tunisia.
    Bouazizi adalah pencari nafkah untuk ibunya yang janda dan enam saudara kandung, tapi dia tidak memiliki izin untuk berdagang. Ketika polisi meminta Bouazizi untuk menyerahkan gerobak kayunya, ia menolak dan polisi yang diduga menampar dia.
    Marah setelah dipermalukan di depan umum, Bouazizi protes di depan gedung pemerintah dan membakar diri. Tindakan putus asanya bergaung segera keseluruh negeri. Protes dimulai hari itu di Sidi Bouzid, diabadikan oleh kamera ponsel dan disebarkan di Internet melalui Facebook.
    Dalam beberapa hari, protes mulai bermunculan di seluruh negeri, menuntut Presiden Zine El Abidine Ben Ali dan rezimnya untuk mundur. Sekitar satu bulan kemudian Presiden melarikan diri. Momentum Tunisia inilah yang bag teori domino meluluh lantakkan kemapanan Timur tengah yang dikenal sebagai Arab Spring. Setahun setelah Pemuda itu menjadi martir, maka seluruh dunia Arab bergerak menuntut perbaikan dan demokrasi yang lebih baik, tentu sama sekali tidak terkait dengan perbedaan sudut pandang hidup dan Agama, tentu tidak terkait dengan Islam dan Nasrani.

    Efek positif dan negatif dari Social Media di Masyarakat :
    Seperti diketahui bahwa Bangsa Indonesia adalah salah satu Bangsa terbesar dalam kaitan dengan penggunaan sosia media, Facebook, Twitter dan lain sebagainya, bahkan kehidupoan terasa kosong tanpa social media. Kita bisa melihat bagaimana pelayan di Mall, di Super market, di toko-toko retail lainnya menghadapi calon pembelinya, mereka tidak menghadapkan wajahnya saat melayani, karena terus sibuk menggeluti Handphone bahkan harus tertawa sendiri saat pembeli menyanyakan barang dagangannya dan ini sangat mengesalkan, tetapi ini semua terjadi dimana dimana bahkan saat ini pembantu Rumah tanggapun melakukan hal yang sama sehingga masakan sering harus GOSONG karena kesibukannya dengan facebook.
    Apa yang terjadi tersebut diatas adalah satu sisi dari tersebar luasnya penggunaan Sosial media “ facebook” di Negeri tercinta ini, sementara dari penglihatan lainnya, penyebar luasan penggunaan Sosial media ini merupakan bukti adanya kemajuan dari apa yang selalu disebut sebagai “DIGITAL LITERACY”, sesuatu yang kemudian membawa Yayasan Pendidikan Indonesia Wira Tata Buana berkiprah dan di tetapkan sebagai Special Consultative Status di Perserikatan Bangsa Bangsa dengan main activities “ BRIDGING DIGITAL DIVIDE”.
    Sebagai mana yang lain maka terdapat sisi positive dan negative, begitu juga dengan produk ICT yang disebut sebagai media social ini. Seorang Professor mantan rector Universitas Negeri di Inggris mengatakan bahwa sejak menjamurnya social media, maka Ummat manusia telah kehilangan “ THE SENCE OF COMMUNICATION?”. Sebelum menyimak lebih jauh mari kita lihat manfaat an mudhorotnya Sosial media.

    Efek positif dari Social Media :
    Kita tentu selalu membaca firman Allah SWT yang menyatakan bahwa sesungguhnya kita diciptakan oleh Allah dari satu keturunan yang sama (Adam dan Hawwa) kemudian di kembang biakkan bersuku suku, berbangsa bangsa, dengan satu tujuan agar kita selalu menjalin taaruf atau silaturaheem dan sebaik baik kita adalah yang selalu bertakwa kepada Allah.
    Di era ICT ini firman Allah SWT tersebut terbukti keberannya, betapa tidak:
    1. Kita bisa menjalin tali silaruraheem dengan siapapun dengan suku dan agama apapun di dunia ini, bahkan dengan hanya satu ketukan jari tangan bahkan tidak harus keluar dari kamar tidur walau kita sedang menjalin komunikasi dengan siapapun di benua apapun.
    2. Jaringan sosial membantu bisnis dalam berbagai cara. media pemasaran tradisional seperti radio, iklan TV dan iklan cetak benar-benar telah menjadi usang sekarang. Namun, dengan media sosial bisnis dapat terhubung dengan target pelanggan secara gratis, hanya biaya energi dan waktu, melalui Facebook, Twitter, LinkedIn atau situs sosial lainnya yang dengan demikian kita dapat menurunkan biaya pemasaran ke tingkat yang signifikan.
    3. Meningkatnya popularitas situs sosial seperti Twitter, Facebook dan LinkedIn, jaringan sosial telah mendapatkan perhatian sebagai pilihan komunikasi yang paling layak untuk para blogger, penulis artikel dan pencipta konten.
    4. Situs jejaring sosial ini telah membuka kesempatan bagi semua penulis dan blogger untuk terhubung dengan teknologi. Sahabat yang cerdas berbagi berbagi keahlian dengan kita melalui artikel atau positing psoting kita dengan cara berbagi artikel atau posting dalam lingkaran sosial kita dan yang lebih penting adalah kita bisa meningkatkan network di seluruh dunia dengan mudah dan murah.
    5. Jaringan sosial telah menghapus semua hambatan komunikasi dan interaksi. Mahasiswa dan para ahli dapat berbagi dan berkomunikasi dengan orang atau pihak lain dengan meminta masukan dan pendapat tentang topik tertentu.
    6. Dampak positif lain dari situs jaringan sosial adalah untuk menyatukan orang-orang pada platform besar untuk pencapaian beberapa tujuan tertentu. Hal ini sangat penting untuk membawa perubahan positif dalam masyarakat, bangsa dan Negara.


    Efek negatif dari Social Media :
    Walau dengan berbagai kelebihan atau efek positive dari sosdial media tersebut diatas, tetapi sebagai mana yang lain, maka terdapat pula sisi negativenya. Dan untuk hal ini Allah SWT telah mengingatkan kita untuk merespond hal hal negative dalam kaitan dengan informasi dengan firmannya “ Wahai Orang Orang yang beriman, jika datang kepadamua Orang Orang Fasik membawa berita, maka telitilah terlebih dahulu, agar jangan sampai ada keputusan keputusan bodoh terhadap seseorang atau kelompok, kemudian kalian menyesalinya”.
    Firman Allah tersebut diatas menjadi sangat jelas maknany, disaat kita semua tidak mampu hidup tanpa media social.
    1. Salah satu efek negatif dari media sosial atau jaringan itu menyebabkan kecanduan. Menghabiskan waktu berjam-jam di situs sosial dapat mengalihkan fokus dan perhatian dari tugas tertentu. Ini menurunkan tingkat motivasi terutama bagi para remaja dan mahasiswa. Mereka terutama mengandalkan teknologi dan internet bukan belajar pengetahuan praktis dan keahlian dari kehidupan sehari-hari.
    2. Anak-anak dapat sangat dipengaruhi oleh situs jejaring sosial ini jika mereka diizinkan untuk menggunakannya, Karen banyak situs situ pronografi di media sosial dan situs situs yang berisi kekerasan dan kebencian. Fitnah dan caci maki, yang dapat merusak perilaku anak bangsa. Betapa banyak kejahatan kejahatan yang mengerikan yang timbul karena kecanduan sesorang terhadap social media dan ketidak mampun untuk memilah memilihnya.
    3. Kelemahan lain dari media sosial adalah bahwa pengguna terlalu banyak informasi informasi bohong yang dapat menimbulkan ancaman bagi pribadi, kelompok bahkan Masyarakat dan negara. Bahkan dengan pengaturan keamanan yang ketat sekalipun informasi informasi tersebut dapat masuk ke jejaring social kita karena dapat dilakukan hanya dengan satu ketukan jari tangan.

    Apa yang saat ini terjadi di Indonesia, yang melanda kita semua dengan begItu deras dan dasyatnya, adalah bagian daripa Manfaat dan Mudhorot dari social media. Ironinya sudah sedemikian membahayakan, karena sudah mengarah pada terusiknya budaya asli Nusantara yang sebernarnya syarat dengan “ Toleransi dan damai”, dengan derasnya gelombang modernisasi di bidang ICT ini “ BHINEKA TUNGGAL EKA” kebanggan kita sedang tercabar. (DAS)
    (Bersambung ...)

    , , ,


    ELVIPS.COM - Sputnik berhasil mewawancarai seorang Kapten dari Tentara Suriah bernama Antoine Abboud, yang saat ini berada di distrik Timur Aleppo. Dalam wawancara yang dilaporkan Sputnik pada Jum’at (16/12), Abboud, kapten yang beragama nasrani itu menceritakan apa yang ia alami selama pertempuran melawan teroris disana.

    Sebelumnya pada hari itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa semua distrik di Aleppo Timur telah dibebaskan dari teroris, sementara beberapa kantong militan masih tetap ada perlawanan.

    Abboud menyatakan bahwa selama perang ia tidak tahu apa yang dibicarakan media diluar sana karena bagi tentara hampir-hampir tidak ada akses untuk internet.

    “Aku tidak tahu apa yang dibicarakan media. Aku tidak bisa menonton televisi. Para prajurit tidak memiliki internet, mereka tidak tahu apa yang dikatakan (oleh media-media tersebut). Apa yang kami ketahui adalah bahwa ketika kami datang ke Aleppo, situasi disana sangat buruk. Salah satu prajurit saya bahkan terbunuh,” jelas Abboud kepada Sputnik.

    Abboud menceritakan bahwa tentara berusaha semampunya untuk menyelamatkan masyarakat. Ia menceritakan salah satunya ketika di Kota Tua ada seorang perempuan yang jatuh sakit. Para prajurit memanggil dokter tentara dan dokter itu mengatakan bahwa wanita tersebut membutuhkan operasi, “Dokter memulai operasi dengan segera untuk menyelamatkan hidupnya,” katanya.

    Berbicara tentang pertempuran di Aleppo, sang kapten mengatakan bahwa teroris al-Nusra berpembunuhan warga sipil di Aleppo.”

    “Orang-orang meminta kami untuk memberi bantuan makanan, dan kami beri mereka makanan. Seorang tentara bahkan menggendong seorang pria tua di punggungnya,” kenang Abboud.



    Berbicara tentang pertempuran di Aleppo, sang kapten mengatakan bahwa teroris al-Nusra berada di balik pembunuhan warga sipil di Aleppo.”

    “Aku hanya ingin kebenaran terungkap Aku tidak tahu apa yang dikatakan internet, apa yang dikatakan di televisi. Aku hanya peduli dengan kebenaran dan kami datang untuk membantu rakyat kami, saudara-saudara kami,” jelas Abboud.

    AS Bantu Teroris di Aleppo

    Abboud mengatakan bahwa AS telah membantu al-Nusra. “Front al-Nusra memiliki roket TOW. Dari mana para teroris mendapatkan roket ini? Mereka memiliki pasokan makanan, senjata, obat-obatan Amerika, dan lain-lain.” Tentara Suriah telah menemukan semua ini saat mereka berhasil membebaskan Aleppo.

    Ia juga menambahkan bahwa teroris al-Nusra telah melakukan penyerangan terhadap rumah sakit Rusia yang menewaskan dua orang dokter Rusia. 

    “Sudah lima tahun lamanya, kami kesulitan mengambil alih kota (Aleppo) karena ada warga sipil, perempuan dan orang-orang tua yang tinggal di Aleppo,” kata sang kapten menjelaskan mengapa Tentara Suriah sangat berhati-hati dalam operasinya. “Tidak ada jet Rusia selama pertempuran bulan lalu,” tambahnya.



    Tentara Arab Suriah

    Berbicara tentang kesatuan Angkatan Darat Suriah yang memainkan peran dalam pembebasan ini, Kapten Abboud mengatakan, “Tentara Suriah terdiri dari warga negara Suriah saja. Kami berasal dari berbagai kota, dari Aleppo, Damaskus, Deir ez-Zor, dan lain-lain, tapi semua berasal dari kota-kota di Suriah saja. Saya seorang Kristen, tapi kami berada di dalam kesatuan Tentara Suriah. Ada orang Alawi, Kurdi, Sunni, Syiah, dan kami semua bersama-sama berjuang melawan teroris.”

    Sementara, para teroris al-Nusmelakukan pembunuhan berasal dari Afrika dan Chechnya. Abbuoud menyebutkan bahwa di Suriah tidak ada orang Afrika. Jadi, para teroris ini sebetulnya bukan orang Suriah.”



    Berbicara tentang langkah apa selanjutnya yang tengah disusun Angkatan Darat setelah pembebasan Aleppo, sang kapten mengatakan, “Saat ini di Aleppo situasinya sangat tenang. Orang-orang sangat senang di distrik tempat saya berada sekarang. Mengenai langkah selanjutnya, saya belum tahu karena komandan saya belum memberi instruksi apa pun. Namun di satu sisi, kami sedih karena teroris kini pergi ke Idlib”.

    Ia menambahkan bahwa yang ia inginkan hanyalah melenyapkan teroris. “Saya hanya ingin menghancurkan teroris. Mereka adalah teroris dan mereka ingin membunuh semua orang (yang tak sepaham). Mereka akan membunuh sebanyak mungkin orang di Suriah atau mungkin di negara lain.

    Abboud mengatakan bahwa distriktempat ia berada sekarang dalam keadaan damai dan tenang. Namun, ada banyak rumah yang berada dalam kondisi rusak parah dan bahkan banyak yang telah hancur sepenuhnya.



    Warga Aleppo Rayakan Kemenangan

    “Ketika Tentara Suriah datang ke Aleppo, kami menyediakan tempat penampungan sementara untuk para warga. Sekarang, renovasi telah dimulai di distrik Kota Tua di Aleppo Timur. Ada makanan dan air. Palang Merah telah tiba dan ada dokter, ambulans, roti dan air bagi masyarakat,” kata kapten nasrani itu.

    Ketika mengomentari pembebasan Aleppo ini, utusan Rusia untuk PBB di Jenewa mengatakan bahwa klaim tentang dugaan “kekejaman” yang dilakukan oleh tentara Suriah adalah “palsu.” Pada saat yang sama, kejahatan yang dilakukan oleh militan yang mengendalikan Aleppo timur justru telah terbukti. (ARN)

    , ,


    ELVIPS.COM - Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Mohammad Emami Kashani, dalam khutbah Jumatnya (16/12), menyampaikan ucapan selamat atas pembebasan kota Aleppo di utara Suriah dari pendudukan para teroris dan mengatakan, "Muqawama dan militer Suriah dengan kemenangan mereka di hadapan teroris, mereka telah menang di hadapan rezim Zionis, Amerika Serikat dan Arab Saudi."

    Ayatullah Kashani mengecam kejahatan para teroris di Suriah dan Irak serta upaya mereka memutarbalikkan fakta, seraya menegaskan, "Para teroris yang didukung rezim Zionis berniat membuat masalah Palestina yang merupakan masalah utama dunia Islam itu, terlupakan."

    Khatib shalat Jumat Tehran menyebut rezim Zionis, Amerika Serikat dan Arab Saudi sebagai biang utama semua masalah di dunia Islam, seraya mengatakan, perjuangan dan perlawanan di hadapan musuh-musuh merupakan satu-satunya jalan penyelamatan dunia Islam.

    Ayatullah Emami Kashani juga menegaskan, satu-satunya cara menghancurkan rezim Zionis adalah perjuangan dan perlawanan di hadapan segala kejahatan dan penjajahan rezim ini.

    "Bangsa Palestina akan melanjutkan perjuangan anti-rezim Zionis," katanya.

    Menurutnya, dalam waktu dekat seluruh wilayah Irak dan Suriah akan dibebaskan dari para teroris.

    Ayatullah Kashani di bagian lain khutbahnya menyingung perpanjangan Iran Sanction Act hingga 10 tahun oleh Amerika Serikat dan mengatakan, "[Perpanjangan] sanksi tersebut merupakan pelanggaran Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA)."

    Khatib shalat Jumat Tehran lebih lanjut mengatakan, Republik Islam Iran akan melanjutkan jalannya dengan penuh kemuliaan dan kekuatan serta tidak khawatir dari pihak mana pun. Republik Islam telah mematuhi JCPOA dan pelanggaran Amerika Serikat terhadap kesepakatan tersebut telah terbukti dan disaksikan dunia.

    Ayatullah Kashani memastikan bahwa Republik Islam akan memberikan reaksi tegas dan rasional atas langkah Amerika Serikat.

    Khatib shalat Jumat Tehran jgua menyampaikan selamat atas peringatan Maulid Nabi Saw dan juga hari kelahiran Imam Ja'far As-Shadiq as kepada seluruh umat Muslim di dunia.

    , ,


    ELVIPS.COM - Konflik telah menyebar di berbagai belahan negara Timur Tengah. Semua bergulir satu-persatu secara bergantian, mulai Irak, Mesir, Libya, Yaman, Suriah dan lain sebagainya. Hal ini mendorong KH Hanif Ismail, Pengasuh Pesantren Roudlotul Quran An Nasimiyyah, Semarang menanyakannya langsung kepada ulama asal Yaman, Habib Muhammad Al Junaid Al Hadramiy pada acara Majlis Muwashalah Baina Ulamail Muslimin (Pertemuan Para Ulama) yang digelar di Pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak, Selasa (23/8).

    "Faktor apakah yang sebenarnya terjadi sehingga saudara-saudara kita di sana tega melakukan perang antar saudara sendiri seperti di Suriah?" tanya Kiai Hanif. 

    Habib Muhammad Al Junaid menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di negara-negara Muslim Timur Tengah bukan karena faktor agama, tapi dipicu masalah politik. "Dari dahulu ulama Ahlus Sunnah dengan Syi'ah atau dengan aliran manapun dan di manapun hidup rukun berdampingan," jelas Habib Al Junaid 

    Namun, lanjut Habib, karena kepentingan politik, agama dibuat tameng dan dibikin pemicu penghalalan hasrat nafsu politik kelompok-kelompok tertentu. “Jika sudah begini, ya sudah, kalau agama sudah dicampur-adukkan dengan kepentingan, hancur,” kata Habib Al Junaid. 

    Perhelatan yang diinisiasi oleh Habib Umar bin Hafidz ini diikuti oleh para mursyid thariqah dan para kiai Jawa Tengah. Hadir sebagai pembicara Habib Muhammad Al Junaid Al Hadramiy, Yaman, Habib Muhsin Al Hamid dan lain sebagainya. (Mundzir/Zunus)

    , , ,


    ELVIPS.COM - Jurnalis perempuan independen asal Kanada Eva Bartlett mengungkap kebohongan media Barat dalam konflik Suriah pada sebuah jumpa pers di Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini.

    “Saya sudah sering ke Kota Homs, Maaloula, Latakia, dan Tartus lalu ke Aleppo, empat kali. Rakyat Suriah mendukung pemerintahnya dan itu adalah kebenaran. Apa pun yang kalian dengar dari media Barat justru kebalikannya,” kata Bartlett, seperti dilansir Russia Today, Rabu (14/12).

    “Dan dalam hal ini, apa yang kalian dengar dari media Barat, saya akan sebutkan–BBC, Guardian, the New York Times, dan seterusnya–tentang apa yang terjadi di Aleppo adalah bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya.”

    dari media arus utama, ujar Bartlett, sengaja menyampaikan berita bohong tentang apa yang sebenarnya terjadi di Suriah. Mereka menjelek-jelekkan pemerintahan Presiden Basyar al-Assad dan mengecam dukungan Rusia terhadap Damaskus.

    kawah bekas serangan udara di aleppo suriah 2016 Handout Reuters

    Seorang reporter laki-laki dari Aftenposten, koran terbesar di Norwegia, menanyakan kepada Bartlett apa yang dia maksud dengan kebohongan itu.

    “Buat apa kami bohong, mengapa organisasi internasional yang ada di lapangan berbohong? Bagaimana Anda bisa menjelaskan dan menyebut kami semua pembohong?” tanya dia kepada Bartlett.

    Wartawati asal Kanada yang sudah meliput di Suriah selama beberapa tahun sejak konflik pecah itu kemudian mengatakan, memang ada jurnalis-jurnalis jujur yang bekerja di media Barat, tapi media-media itu tidak melakukan verifikasi ke lapangan.

    Bartlett kemudian menanyakan apa nama organisasi kemanusiaan internasional yang berada di Aleppo timur selama ini yang dijadikan narasumber media Barat. Wartawan Norwegia itu hanya diam saja dan Bartlett lalu menjawab sendiri pertanyaannya, “memang tidak ada.”

    “Organisasi-organisasi itu mengandalkan laporan dari Pemantau Hak Asasi suriah (SOHR) yang bermarkas di Coventry, Inggris, yang dikelola oleh satu orang. Mereka (media Barat) juga mengandalkan Helm Putih. Organisasi kemanusiaan yang didirikan oleh mantan militer Inggris dan didanai jutaan dolar oleh Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Barat,” ungkap Bartlett.

    white helmets huffington Post

    “Organisasi itu (Helm Putih) bertujuan menyelamatkan warga sipil di Aleppo timur dan Idlib, tapi nyatanya tidak seorang pun warga di Aleppo timur yang pernah mendengar nama mereka.”

    Sementara cuplikan video yang mereka buat, kata Bartlett, berisi anak-anak yang sudah beberapa kali muncul dalam sejumlah laporan lain.

    “Seorang bocah perempuan bernama Aya muncul dalam sebuah video di bulan Agustus, lalu dia muncul lagi di bulan berikutnya dalam sebuah laporan lain di lokasi berbeda.”

    “Jadi Helm Putih tidak bisa dipercaya. SOHR tidak dapat dipercaya. ‘Aktivis tak ingin diketahui namanya’ juga tidak bisa dipercaya. Sekali dua kali mungkin bisa, tapi jika berkali-kali? Tidak bisa dipercaya. Jadi narasumber kalian di lapangan sebetulnya tidak ada,” beber Bartlett.

    Masjid Umayyah di Aleppo REUTERS/Omar Sanadiki

    Seorang jurnalis asal koran Italia Corriere della Sera mempertajam pertanyaannya kepada Bartlett tentang apa perbedaan media Barat dan media Rusia dalam melaporkan konflik di Suriah. Selama ini stasiun televisi Rusia lebih sering menampilkan laporan tentang bantuan kemanusiaan dan upaya damai ketimbang menyalahkan pihak lain.

    “Ini masih berhubungan dengan pertanyaan jurnalis Norwegia tadi yang menanyakan mengapa media Barat menyebarkan berita bohong tentang Suriah. Ini karena memang demikianlah agenda mereka. Jika mereka memberitakan hal yang sebenarnya di Suriah sejak awal maka kita tidak akan ada di sini membahas ini sekarang. Kita tidak akan melihat begitu banyak korban tewas.”

    Bartlett seolah mempertegas apa yang terjadi selama ini di Suriah adalah bagian dari perang propaganda negara Barat lewat media untuk menjatuhkan rezim Suriah sesuai kepentingan mereka.

    Source: www.merdeka.com

    ,


    Para teroris berlabel `serigala tunggal` ini bisa jadi tidak terkait langsung dengan struktur organisasi kelompok teroris seperti ISIS, namun mereka jelas bersimpati.

    Menurut Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Jenderal (Purn) Wiranto, teroris individual atau lone wolf ini merupakan fenomena baru dalam dunia terorisme.

    "Kembalinya pejuang ISIS ke negaranya masing-masing menciptakan fenomena baru yang dikenal dengan sebutan lone wolf. Fenomena ini tantangan baru yang perlu kita antisipasi," kata Wiranto dalam Pertemuan Internasional Penanggulangan Terorisme (International Meeting on Counter Terrorism/IMCT) di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Rabu (10/8/2016).

    Pertemuan itu dibuka oleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, dan dihadiri pula oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

    Wiranto menjelaskan, beberapa di antara lone wolf tersebut merupakan veteran Suriah dan Irak, beberapa lainnya direkrut oleh ISIS.

    Selain itu, ada juga yang menjadi radikal setelah didoktrin melalui media sosial(seperti facebook dantwitter) oleh kelompok ekstremis.
    "Hal tersebut memerlukan perhatian serius dan membutuhkan kerjasama lanjutan," ucap Wiranto.

    Pertemuan IMCT tersebut dihadiri 20 negara di antaranya Australia, Amerika Serikat, Belgia, Belanda, Prancis, Rusia, Tiongkok, Selandia Baru, Turki, India, Filipina, Inggris, Malaysia, Pakistan dan Kanada.
    Selain itu juga turut hadir tiga organisasi internasional yakni ASEAN, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Interpol.

    Berdasarkan penelusuran informasi, istilah ‘serigala tunggal` atau ‘serigala sendirian’ (lone wolf) dipopulerkan oleh ekstremis ultra-kanan Amerika Serikat (AS) seperti Alex Curtis dan Tom Metzger pada awal 1990-an.

    Disebut teroris ‘serigala tunggal’ karena teroris itu merencanakan dan melakukan aksinya sendirian, tidak dalam kelompok.

    Tidak ada komando dari siapapun, karena dia beraksi atas kehendaknya sendiri.

    Teroris jenis lone wolf  ini tidak selalu tergabung secara resmi atau dapat bantuan material dari kelompok teror.

    Karena sifat aksinya individual itulah,lone wolf justru lebih sulit dideteksi oleh aparat keamanan.

    Salah-satu contoh terakhir aksi lone wolf adalah aksi yang dilakukan seorang sopir, yang tiba-tiba menabrakkan truknya ke arah kerumunan orang di Nice, Prancis, saat parade Hari Nasional Prancis 14 Juli 2016 lalu.

    Akibat aksi teror seorang diri itu, 85 orang tewas.

    Aksi teror tersebut tidak menggunakan bahan peledak atau senjata api sebagaimana aksi-aksi teror yang lazim dilakukan oleh kelompok teroris selama ini.

    , , , ,

    ELVIPS.COM - Pengamat Terorisme, Sydney Jones menilai beredarnya foto kelompok Jaisy Al Fath di Suriah yang bertuliskan 'Tangkap Ahok atau Peti Mati Ahok' menunjukkan memang gerakan anti Ahok di Indonesia telah ditunggangi oleh kelompok radikal.

    "Kalau melihat fakta tersebut, gerakan 4 November nanti memang berpotensi ditunggangi oleh kelompok kelompok garis keras," kata Sydney dalam diskusi 'Ancaman Radikalisme dan Terorisme di Pilgub DKI' di Wahid Institute, Jakarta, Selasa (1/11).

    Sydney mengatakan foto itu bukanlah kelompok ISIS tapi kelompok Al Nusra yang terkait Abu Jibril. Karena anaknya memang pernah tewas di Suriah. Tapi ia mengaku memang cukup heran untuk apa mereka kemudian memperhatikan Ahok dan Pilkada DKI. 

    Kepada Presiden, ia mempertanyakan kenapa baru sekarang mengundang para ulama dari NU, Muhammadiyah dan MUI. Kenapa sejak awal munculnya kasus Ahok, pemerintah tidak mendinginkan dengan memanggil Ahok dan para ulama.  

    Padahal, jelas sejak awal ada pihak yang memanfaatkan isu Ahok sebagai non-Muslim yang akan memimpin Jakarta. Jauh sebelum kasus Almaidah ayat 51, kata ia, sebenarnya sudah ada pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Ahok. 

    "Dan yang saya heran kenapa politisi di Indonesia membiarkan ormas-ormas garis keras untuk mengisi agenda agenda politik seperti ini," terangnya.


    Akibatnya sekarang ini banyak kelompok yang memanfaatkan untuk rencana radikalisme. Selain itu, lanjutnya, harus menjadi perhatian siapa yang mendanai kegiatan demo besar pada 4 november nanti. Hal itu menjadi pertanyaan yang mendasar siapa yang berada di belakang demo ini, walaupun bisa jadi ada unsur pokitik juga.

    Sumber: Republika

    , , , , ,

    ELVIPS.COM - Jejak-jejak roda yang telah ditemukan di berbagai lokasi, termasuk di Turki dan Spanyol, yang tampaknya ditinggalkan oleh semacam jejak kendaraan berat yang bisa melintasi segala medan pada sekitar 12 juta hingga 14 juta tahun yang lalu, menurut Dr. Alexander Koltypin, seorang ahli geologi dan direktur Natural Science Research Center di Universitas Internasional Independen Ekologi dan Politologi Moskow, Rusia.


    Ini adalah sebuah pengakuan yang kontroversial, mengingat peradaban manusia yang dipikirkan oleh para golongan arkeolog utama hanya berkisar beberapa ribu tahun ke belakang, bukannya jutaan tahun. Belum lagi itu juga merupakan ide tentang peradaban prasejarah yang cukup maju untuk memiliki kendaraan tersebut.
    Menurut Koltypin di situsnya, jejak roda itu terbentuk pada periode Miosen tengah dan akhir (sekitar 12 sampai 14 juta tahun yang lalu).
    Pada waktu itu, tanah masih basah dan lembut, layaknya tanah liat lunak. Kendaraan besar itu tenggelam ke dalam lumpur saat mereka berkendara di atasnya. Ban bekas roda di berbagai kedalaman menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu daerah itu mengalami pengeringan. Dan kendaraan itu masih melaju di atasnya ketika sudah kering, menurut Koltypin, sehingga tidak tenggelam sedalam sebelumnya.
    Kendaraan itu ditaksir memiliki panjang yang sama dengan mobil modern, tetapi bannya memiliki lebar 23 cm.
    Menurut Koltypin, karya geologi dan arkeologi yang berisi informasi tentang hipotesis semacam ini sangat sedikit, terutama dalam bahasa Inggris. Referensi biasanya hanya mengatakan bahwa jejak-jejak itu ditinggalkan oleh gerobak yang ditarik oleh keledai atau unta.
    “Saya tidak akan pernah menerimanya,” tulisnya dalam penjelasan tersebut. “Saya sendiri akan selalu mengingat … bahwa banyak peradaban lain dari planet kita yang dihapus dari sejarah kita sendiri.”
    Koltypin menyatakan bahwa jejak kendaraan semacam itu tidak bisa ditinggalkan oleh gerobak atau kereta yang berbobot ringan, karena jejak itu begitu dalam dan lebar sehingga seharusnya terdapat kendaraan yang jauh lebih berat daripada gerobak atau kereta.
    Ia telah melakukan banyak studi lapangan di berbagai lokasi dan meninjau terbitan studi tentang geologi lokal secara luas. Menurut hipotesisnya, sebuah jaringan jalan raya tersebar melintasi Mediterania pada lebih dari 12 juta tahun yang lalu.


    Jejak yang telah membatu di Frigia Valley, Turki. Menurut Dr. Alexander Koltypin, kemungkinan besar jejak-jejak itu ditinggalkan oleh kendaraan kargo yang ditempatkan di sana oleh peradaban yang sama. (COURTESY OF DR. ALEXANDER KOLTYPIN)
    Jejak yang telah membatu di Frigia Valley, Turki (COURTESY OF DR. ALEXANDER KOLTYPIN)

    Cara ini tampaknya digunakan oleh orang-orang yang membangun kota bawah tanah seperti Cappadocia di Turki, yang juga diduga berusia jauh lebih tua daripada perkiraan para ahli arkeologi utama.
    “Jejak-jejak roda yang telah membatu juga ditemukan di Malta, Italia, Kazakhstan, Perancis, dan bahkan di Amerika Utara,” ujar Koltypin.


    Jejak yang telah membatu di Frigia Valley, Turki (COURTESY OF DR. ALEXANDER KOLTYPIN)
    Jejak yang telah membatu di Frigia Valley, Turki (COURTESY OF DR. ALEXANDER KOLTYPIN)

    Salah satu bukti utama adalah di Sofca, Turki, dengan trek seluas sekitar 75 x 15 kilometer. Sedangkan bukti lain adalah di Cappadocia, Turki, dimana terdapat beberapa kantong trek, salah satu yang terbesar adalah sekitar 40 x 24 km.
    Para arkeolog utama menyebut banyak trek itu berasal dari berbagai peradaban pada periode waktu yang berbeda. Namun, Koltypin mengatakan bahwa itu tidak benar sebab atribut jejak itu tampak identik, berdasarkan pada bekas roda dan kompleksitas bawah tanah untuk era dan budaya yang berbeda.
    Koltypin menyebutkan bahwa jejak- jejak kendaraan itu berasal dari peradaban luas tunggal dalam rentang usia yang panjang. “Beberapa kejadian seperti bencana alam seperti tsunami, letusan gunung berapi, banjir, dan gangguan tektonik yang telah meninggalkan patahan besar di Bumi sehingga menghapuskan banyak sisa-sisa peradaban prasejarah yang maju ini,” menurut Koltypin.
    Namun jika melihat dampak peristiwa ini berdasarkan formasi geologi, Koltypin juga dapat menentukan bahwa bekas roda ini dan jalanan yang dilaluinya paling mungkin terbentuk sebelum peristiwa bencana terjadi.
    “Deposit mineral berat lapisan trek dan erosi menunjukkan tentang eksisnya sebuah peradaban kuno yang besar,” tambahnya.
    Proses membatu memang dapat terjadi dalam beberapa ratus tahun atau bahkan beberapa bulan, sehingga tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa jejak- jejak kendaraan yang telah membatu itu telah sangat tua. Namun, Koltypin berpendapat bahwa bukti geologi lainnya menunjukkan mereka dibuat selama periode Miosen jutaan tahun yang lalu.
    “Kota-kota bawah tanah di sekitarnya, sistem irigasi, sumur, dan banyak lagi, juga menunjukkan tanda-tanda yang berusia jutaan tahun,” tegas Koltypin. Akan tetapi ia juga menambahkan, “Tanpa studi tambahan yang signifikan bersama dengan sekelompok besar arkeolog, ahli geologi, dan ahli tentang legenda rakyat, tidak mungkin untuk menjawab pertanyaan mengenai peradaban masa lalu ini.” (Epochtimes/Tara Macisaac/Osc)

    , , , , , , , ,




    ELVIPS.COM - Semakin hari rahasia organisasi teroris yang menamakan diri sebagai ad Daulah al Islamiyah fi al Iraq wa as Suriyah alias Daisy atawa ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) makin terkuak. Terakhir mereka tidak menjadikan Zionis Israel sebagai musuh. Alasan yang dikemukakan, sebagaimana disampaikan Jurgen Todenhofer, karena Israel merupakan satu-satunya negara yang paling ditakuti ISIS.

    Todenfofer adalah seorang wartawan kawakan berusia 75 tahun. Pada 2014 ia pernah berada di Suriah selama sepuluh hari. Menurutnya, ISIS tidak takut terhadap serangan yang dilancarkan Rusia ataupun negara-negara yang tergabung dalam koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Pasukan darat AS, Inggris dan negara-negara Eropa lainnya dianggap tidak berpengalaman melawan gerilyawan kota atau strategi teroris seperti yang dilakukan ISIS. Sebaliknya, lanjut wartawan asal Jerman ini, Israel sangat tangguh dalam bertempur melawan gerilyawan dan teroris.

    Hingga sekarang negara-negara yang tergabung dalam koalisi pimpinan AS memang belum menurunkan pasukan darat mereka untuk melawan ISIS. Todenfofer menganalisa, hal itu sengaja dilakukan pasukan koalisi karena mereka mengetahui ketangguhan ISIS dalam perang gerilya kota ataupun dengan cara teror. Salah satunya dengan serangan bom bunuh diri.

    Namun, pandangan Todenhofer ini segera dibantah oleh sejumlah pengamat dan ahli strategi perang di Timur Tengah. Sebagaimana ditulis media al Sharq al Awsat dan Aljazeera.net, gabungan pasukan dari negara-negara NATO (North Atlantic Treaty Organization/Pakta Pertahanan Atlantik Utara) akan susah untuk dilawan, apalagi hanya oleh ISIS yang cuma mempunyai puluhan ribu personil. Itu pun bukan personil militer terlatih sebagaimana negara-negara maju. Dua media itu lalu mencontohkan tentang penggulingan rezim Taliban — yang didukung Alqaida — di Afghanistan, rezim Saddam Husein di Irak, dan rezim Muamar Qadafi di Libia.

    Yang jadi persolan adalah hingga kini koalisi internasional pimpinan AS dan juga koalisi negara-negara Islam pimpinan Arab Saudi yang baru terbentuk, serta militer dari negara asing lainnya — termasuk dari Rusia –, belum menurunkan pasukan darat mereka. Yang berlangsung selama ini adalah serangan udara secara sporadis dan kurang terkordinasi dalam satu komando, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.

    Penyebabnya berbagai-bagai. Di antaranya, pertama, koalisi yang ada sekarang ini, terutama dari negara-negara Arab dan Islam (negara dengan penduduk mayoritas Muslim) bisa dikatakan sebagai koalisi setengah hati. Pemerintahan di Irak sekarang adalah penganut Syiah. Begitu pula dengan rezim Bashar Assad yang berkuasa di Suriah. Bila kelompok militan ISIS dihabisi, maka yang berkuasa di Irak dan Suriah otomatis adalah Syiah. Dan, bukan rahasia lagi negara-negara Arab, khususnya negara-negara Teluk, sangat khawatir dengan pengaruh Syiah yang semakin membesar.

    Kedua, AS sebagai pimpinan koalisi sebenarnya tahu segala gerak-gerik pasukan ISIS. Apalagi mereka mempunyai peralatan militer yang sangat canggih. Namun, mereka sengaja membiarkan pergerakan pasukan ISIS hanya dihadapi militer Irak. Padahal, tulis al Sharq al Awsat, bila AS mau mereka bisa langsung menggempur pasukan ISIS lewat serangan udara dan darat.

    Tidak diketahui dengan pasti apa alasan AS. Namun, yang bisa diprediksi adalah bahwa AS telah mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi baik di Irak maupun Suriah. Bahkan di kawasan Timur Tengah pada umumnya. Terutama lewat perdagangan senjata, minyak, dan benda-benda purbakala, baik terang-terangan maupun lewat perdagangan gelap.

    Ketiga, meskipun pasukan koalisi internasional pimpinan AS telah berhasil dengan gemilang menghancurkan rezim Taliban dan Alqaida di Afghanistan dan rezim Saddam Husein di Irak, namun serangan itu telah meninggalkan trauma berkepanjangan, terutama buat AS dan Inggris. Serangan itu hingga sekarang masih memunculkan kritik yang tajam dari rakyat di kedua negara tersebut.

    Kondisi seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh ISIS. Apalagi mereka tahu persis tentara Irak kurang terlatih dan mentalnya juga payah. Mereka adalah rekrutan baru. Sedangkan para mantan tentara Saddam Husein yang terlatih yang meyoritas Suni tidak dipakai lantaran diragukan loyalitasnya kepada Pemerintah Irak. Sementara itu di Suriah, konflik antara rezim Bashar Assad dan kelompok-kelompok oposisi telah mempermudah ISIS untuk ikut ‘bermain’.

    Yang aneh bin memprihatinkan, meskipun ISIS selalu mengklaim sebagai pejuang demi Islam dan kepentingan umat Islam, namun tak pernah sekalipun mereka, termasuk pemimpin tertingginya Abu Bakar al Baghdadi, menyatakan perang terhadap Zionis Israel. Yang menjadi musuh mereka selama ini justru orang-orang atau kelompok yang dianggap bisa menghalangi atau bahkan hanya berbeda pandang dengan mereka. Termasuk dalam kelompok ini adalah orang-orang Islam sendiri, baik Syiah maupun Suni. Sementara itu Zionis Israel dianggap bukan sebagai panghalang sepak terjang ISIS alias sebagai teman.

    Padahal, selama ini, Zionis Israel merupakan musuh bebuyutan dari mayoritas umat Islam. Bukan lantaran mereka adalah bangsa Yahudi, namun lebih karena sikap mereka yang kolonialis alias bangsa penjajah. Sudah berpuluh-puluh tahun Israel menduduki wilayah bangsa Palestina. Termasuk kompleks Masjidil Aqsa yang merupakan kiblat pertama dan tempat suci ketiga bagi umat Islam. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini Israel terus berusaha untuk ‘mengyahudikan’ segala hal yang terkait dengan Masjidl Aqsa, termasuk menggantikan indentitas Islam dengan identitas Yahudi.

    Namun, dengan munculnya kelompok teroris ISIS yang menebarkan ketakutan pada masyarakat internasional, konsentrasi negara-negara Arab dan Islam (negara berpenduduk mayoritas Muslim) pun tersedot kepada mereka. Hal ini jelas menguntungkan Zionis Israel.

    Dalam jajak pendapat yang dilakukan kepada warga Israel bulan lalu didapat hasil bahwa negara-negara Arab dan Islam kini sudah tidak mereka anggap sebagai ancaman serius terhadap eksistensi negara Israel. Yang mereka khawatirkan justeru gerakan intifadah para pemuda Palestina. Mereka dianggap ancaman berbahaya bagi masyarakat Israel. Sayangnya, bangsa Palestina kini seolah berjuang sendirian. Tidak ada lagi negara Arab dan Islam yang memperdulikan nasib mereka, kecuali hanyalah dukungan politik alias hanya dukungan pernyataan.

    Karena itu, yang bisa dibaca dari pekembangan di Timur Tengah yang semakin ruwet ini adalah ISIS sangat pandai memanfaatkan keadaan demi kepentingan memperoleh kekuasaan. Sepak terjang mereka tidak ada hubungannya dengan ‘demi Islam dan membela serta memperjuangkan kepentingan umat Islam’. Bahkan tindakan teror yang mereka lakukan di mana-mana telah menimbulkan Islamophobia alias kebencian kepada Islam dan umat Islam. Hal ini jelas merugikan umat Islam sendiri.

    Yang memprihatinkan, ribuan orang, terutama para pemuda dari berbagai negara asing, telah berhasil direkrut oleh ISIS. Para pemuda itu terpincut pada klaim kelompok militan itu bahwa mereka berjuang demi Islam dan demi kepentingan umat Islam. Padahal, mereka sebenarnya hanyalah dimanfaatkan oleh para pemimpin ISIS untuk dijadikan tentara dalam rangka memperoleh kekuasaan. Sepak terjang ISIS jelas tidak ada hubungannya dengan Islam dan kepentingan umat Islam.

    Source: www.republika.co.id

    , , ,


    ELVIPS.COM - NEW YORK - Nara Rakhmatia, diplomat muda Indonesia berhasi mencuri perhatian dalam sidang PBB di New York. Perempuan cantik yang akan genap berusia 34 tahun pada Desember nanti itu berhasil membungkam tudingan dari sejumlah kepala negara di Kepulauan Pasifik terkait kondisi HAM di Papua dan Papua Barat. 

    Dalam sidang PBB tersebut enam negara Kepualauan Pasifik—Vanuatu, Solomon Island, Tonga, Nauru, Marshall Island dan Tuvalu yang blak-blakan menyatakan keprihatinan tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Negara-negara itu di forum PBB menyerukan kebebasan bagi Papua Barat untuk menentukan nasibnya sendiri.

    "Pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat dan mengejar untuk menentukan nasib sendiri bagi Papua Barat adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Banyak laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat yang menekankan penguatan hak untuk menentukan nasib sendiri, yang menghasilkan pelanggaran HAM langsung oleh Indonesia dalam upaya untuk meredakan segala bentuk oposisi," kata Perdana Menteri Solomon Island, Manasye Sogavare pada Sidang PBB Senin (26/9/2016) lalu.

    Sedangkan Presiden Marshall Island, Hilda Heine, mendesak Dewan HAM PBB untuk melakukan penyelidikan yang kredibel atas pelanggaran di Papua Barat.

    Diserang dengan tudingan tersebut, Nara tidak gentar. Alumnus perguruan tinggi negeri ibukota itu menjawab tudingan tersebut dengan tegas dan berani. ”Para pemimpin yang sama memilih bukan untuk melanggar Piagam PBB dengan mencampuri kedaulatan negara lain dan melanggar integritas teritorialnya,” kata Nara.

    “Laporan bermotif politik mereka rancang untuk mendukung kelompok-kelompok separatis di provinsi tersebut (Papua Barat dan Papua) yang telah secara konsisten terlibat dalam menghasut kekacauan publik dan melakukan serangan teroris bersenjata,” tukas Nara.

    Apa yang dilakukan oleh Nara ini jelas-jelas menampar para pemimpin negara-negara itu. Pasalnya, jawaban atas segala tudingan yang dialamatkan ke Indonesia itu meluncur dari seorang Diplomat Junior. 

    Nara Rakhmatia Masista adalah jebolan Sekolah Departemen Luar Negeri dan lulus pada tahun 2008. Ia sempat mengecam pendidikan di FISIP UI jurusan Hubungan Internasional dan lulus pada tahun 2002. Sebelum memutuskan bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, Nara menghabiskan waktunya menjadi peneliti di CERIC (Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution) dan juga Center for East Asia Cooperation Studies.

    Setelah bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, Nara ditempatkan di Direktorat Kerjasama Antar Kawasan pada Direktorat Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika. Di Kemlu, spesialisasi Nara nampaknya adalah Organisasi Kerjasama Ekonomi Asia Pasific APEC dan sempat menjabat Head of Section for The Budget and Management Committee (BMC) APEC sebelum dikirim ke New York.

    Sumber:
    http://international.sindonews.com/read/1143098/42/diplomat-cantik-indonesia-ini-tampar-6-pemimpin-negara-1475083750

    , , , ,

    ELVIPS.COM - Indonesians have declared about 117.3 trillion rupiah (S$12 billion) in assets held in Singapore under Jakarta's tax-amnesty scheme. The amount represents three-quarters of all foreign assets declared under the programme, which was pushed through by Parliament in June this year.

    The share of assets declared by Indonesian citizens in Singapore was released by Indonesia's Finance Ministry on Friday (16/9).

    "As much as 76.14 per cent of total repatriated funds and 74.51 per cent of total declared foreign assets were from Singapore. This fact indicates that, contrary to some reports, Indonesians with assets in Singapore are willingly participating in the amnesty," a ministry spokesman added.

    Quoting Denny Siregar, an activist social media in this weekend, Tax Amnesty 'war' in this class is not just a village war or a war between biker gangs.

    "This is Bharatayuda war, where the fighting is two countries. Full of strategies and measures the level of world diplomacy. So it is not very easy. You just shouted, where his money, where his money? But do not ever want to understand the situation," said Denny said Denny as written in his blog.

    Continuation, Singapore is currently panic with the situation created due to the policy of tax amnesty Indonesia. As an illustration, a citizen of Indonesia has assets of about $200 billion in private banks Singapore or a total of 40 until 60 percent of their banking assets.

    "You can imagine, what happens when the assets were withdrawn to Indonesia? Obviously panic in the banking sector and the economy of Singapore. Many stocks will fall, although surely they will be supported by members of other Commonwealth countries," explained Denny.

    One trick Singapore to prevent large funds have pulled back to Indonesia is to scare their clients. Anyone who participated suspected tax amnesty program to save money forbidden in Singapore.

    Commercial Affairs Department (CAD), Singapore Police unit that takes care of financial crimes, reportedly has sent a letter to all banks of Singapore that any of their customers who join the program are required to report tax amnesty.

    "CAD is suspected to worry there are potentially criminal financial transactions if there is a request for mercy taxes. Funny, they used the money where aja time entered Indonesia flocked to Singapore? If you want out, then get all excited," said Denny again.

    Although not in accordance with the target, but at least the facilities provided by the government this time containing honey poisons for employers, would be forgiveness or sanctions? Anyone doing business in Indonesia certainly understand, this time the president is not messing around, let alone its current Finance Minister Sri Mulyani.


    "It's terrible this program. For the first time the names of large employers come to their own tax office to report their assets. From James Riady, owner Lippo, Tohir brothers until Tommy flocked and report their assets totaling trillions rupiah, "he continued.

    To be known, if all goes to plan, 1,000 trillion rupiah is expected to be repatriated from overseas and invested locally. It will also add 165 trillion rupiah to local tax coffers.

    Reuters reported on Thursday that private banks in Singapore were tipping off white-collar police with the names of clients applying for Jakarta's tax-amnesty scheme.

    The Monetary Authority of Singapore (MAS) said in response to media queries that while banks in the Republic are required to file a suspicious transaction report when handling tax-amnesty cases, it does not necessarily mean that the client will be investigated by the police.

    In Singapore, banks are required to adhere to the Financial Action Task Force (FATF) standard of filing a suspicious transaction report  when handling tax amnesty cases, similar to the practice in other jurisdictions, the MAS says.

    The news agency report also prompted Indonesian Finance Minister, Sri Mulyani Indrawati and her ministry to assure taxpayers that "MAS has advised banks in Singapore to encourage their clients to use the opportunity accorded by tax-amnesty programmes to regularise their tax affairs".

    "I have directly checked with the Singapore authorities, specifically Deputy Prime Minister Tharman (Shanmugaratnam) to get an official explanation from the Singaporean Government," said Sri Mulyani at Jakarta, recently.

    So far, 528 trillion rupiah worth of assets - at home and abroad - have been declared, with the amount being repatriated substantially lower.

    For instance, of the total amount of Singapore based assets declared, only 14.1 trillion rupiah will be repatriated by Indonesian taxpayers.

    source: http://en.sindonews.com/read/1140200/196/tax-amnesty-indonesia-vs-singapore-bharatayuda-war-1474166741/2


Top