.

.

.

.

.

    , ,


    ELVIPS.COM - Pendaftaran SBMPTN telah ditutup pada 22 Mei 2016, kini saat nya adik-adik mempersiapkan diri dan mental dalam menghadapi ujian SBMPTN 2016. Nah, ada info menarik seputar selesainya pendaftaran SBMPTN tahun ini, adalahUNPAD yang masih menjadi primadona pilihan PTN terbanyak pada tahun ini, selain itu UVJ juga sangat menarik diketahui karena masih tergolong Universitas yang tergolong baru negeri dan baru tergabung pada SBMPTN. Berikut ini adalah 15 PTN dengan pendaftar terbanyak tahun ini, apakah salah satunya masuk ke dalam PTN favorit adik-adik ?

    PTN Dengan Pendaftar Terbanyak Pada SBMPTN 2016/2017

    1. Universitas Padjajaran
    2. Universitas Sumatera Utara
    3. Universitas Brawijaya
    4. Universitas Veteran Jakarta
    5. Universitas Indonesia
    6. Institut Teknologi Bandung
    7. Universitas Diponegoro
    8. Universitas Negeri Surabaya
    9. Universitas Gadjah Mada
    10. Universitas Andalas
    11. Universitas Pendidikan Indonesia
    12. Universitas Hasanuddin
    13. Universitas Airlangga
    14. Universitas Negeri Medan
    15. Universitas Negeri Jakarta


    Demikianlah informasi seputar PTN yang paling banyak pendaftar pada SBMPTN 2016/2017, semoga informasi ini bermanfaat bagi adik-adik dan dapat memacu motivasi serta semangat dalam menghadapi ujian sbmptn tahun ini.


    posted from Bloggeroid

    , ,


    ELVIPS.COM - Kesuksesan Organisasi Islam untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya “ISESCO” menggandeng pemerintah Madrid untuk memasukan pelajaran agama Islam nampaknya akan segera terwujud, setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Spanyol dikabarkan telah menyetujui dan mengesahkannya.

    Informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Spanyol menyatakan bahwa pelajaran agama Islam akan mulai diajarkan di sekolah umum tingkat dasar, menengah dan atas milik pemerintah mulai tahun ajaran baru mendatang.

    Pemerintah berharap kebijakan ini generasi muda Islam Spanyol dapat mempelajari Islam dengan benar dan jauh dari ideologi ekstrimis yang kini banyak melanda pemuda Muslim di Eropa dan negara-negara kawasan Timur Tengah.

    Aqidah Islam, tafsir Al Qur’an, sejarah kebudayaan Islam, dan pengenalan hadits nabi Muhammad ﷺ menjadi sejumlah mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa tingkat sekolah dasar hingga atas.

    Menurut catatan badan statistik pemerintah, terdapat sekitar 300 ribu siswa Muslim berusia antara 3 hingga 18 tahun yang kini menempuh pendidikan disekolah-sekolah milik pemerintah. (Alarabiya/Ram/)
    posted from Bloggeroid

    , ,


    ELVIPS.COM - Kritikan pedas dilontarkan pengamat pendidikan Indra Charismiadji terhadap kualitas guru di Indonesia. Menurut dia, guru-guru di Indonesia mayoritas (maaf) berkualitas rendah. Sedangkan yang berkualitas menengah sampai tinggi hanya sekitar 10 persen.

    "Bagaimana pendidikan di Indonesia bisa bagus kalau tenaga pendidiknya kompetensinya rendah. Lembaga-lembaga internasional menempatkan kualitas pendidikan Indonesia rata-rata rangking dua dari bawah," ujar Indra dalam sebuah seminar nasional pendidikan, Selasa (26/4).


    Anehnya, kata In‎dra, seluruh guru ramai-ramai meminta kenaikan gaji serta tunjangan dengan alasan memuliakan tenaga pendidik. Sejumlah daerah, malah memberikan tunjangan yang fantastis. Di DKI Jakarta, misalnya, gaji dan tunjangan guru mencapai Rp 18 juta. 

    "Guru di DKI dibayarkan Rp 18 juta, angka yang cukup tinggi. Yang jadi pertanyaan, layakkah mereka mendapatkan gaji setinggi itu? Sementara dari data banyak guru DKI yang tidak tahu soal komputer," sergahnya.

    Lanjut Indra, bila gurunya gagap teknologi alias gaptek, bagai‎mana bisa mengajarkan siswa generasi abad 21. Itu artinya, pemerintah sia-sia mengeluarkan dana ratusan juta untuk bayar gaji dan tunjangan guru.

    "Saya selaku pembayar pajak, jelas tidak rela karena dana yang kita bayarkan diplotkan ‎kepada guru-guru tidak berkualitas. Kalau guru-guru kita berkompetensi tinggi, saya yang akan mencarikan sekolah internasional bagi mereka dan dibayar tinggi," tandasnya.
    posted from Bloggeroid

    , , , ,

    ELVIPS.COM - Kisah nyata sebuah keluarga Muslim di Indonesia. Keluarga dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur’an dan berprestasi.

    Keluarga luar biasa itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Ula, SHdan Dra WirianingsihBc.Hk, beserta 10 putra-putri mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan berbagai aktivitas dakwahnya.

    Mutammimul Ula adalah mantan anggota DPR RI dari fraksi PKS. Sedangkan Wirianingsih adalah Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan pernah pula menjadi Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 provinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

    Anak pertama, Afzalurahman Assalam

    Putra pertama. Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun. Saat tulisan ini dibuat usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.


    Anak kedua, Faris Jihady Hanifah

    Putra kedua. Hafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat tulisan ini disusun usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariah LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.


    Anak ketiga, Maryam Qonitat

    Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun. Saat tulisan ini dibuat usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah, 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.


    Anak keempat, Scientia Afifah Taibah

    Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.


    Anak kelima, Ahmad Rasikh ‘Ilmi

    Putra kelima. Saat tulisan ini dibuat, hafal 15 juz Al-Qur’an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.


    Anak keenam, Ismail Ghulam Halim

    Putra keenam. Saat tulisan ini dibuat hafal 13 juz Al-Qur’an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.


    Anak ketujuh, Yusuf Zaim Hakim

    Putra ketujuh. Saat tulisan ini dibuat ia hafal 9 juz Al-Qur’an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

    Anak kedelapan, Muhammad Syaihul Basyir

    Putra kedelapan. Saat tulisan ini dibuat, ia duduk di MTs Darul Qur’an, Bogor. Yang sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.


    Anak kesembilan, Hadi Sabila Rosyad

    Putra kesembilan. Saat tulisan ini dibuat, ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an. Di antara prestasinya adalah juara I lomba membaca puisi.


    Anak kesepuluh, Himmaty Muyassarah

    Putri kesepuluh. Saat tulisan ini dibuat, ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an.


    Kembali ke keluarga Mutammimul Ula di atas.

    Pada akhirnya kita dapat menarik kesimpulan, di balik kesuksesan Kang Tamim ternyata ada satu sosok wanita yang telah melahirkan sepuluh keturunannya. Siapa lagi kalau bukan istrinya, Wirianingsih.


    Siapa Wirianingsih? Bertitel lengkap Dra. Wirianingsih, Bc.Hk, lahir di Jakarta, 11 September 1962 (hampir 50 tahun). Selain ibu rumah tangga, banyak aktivitas yang dia lakukan, di antaranya menjadi dosen, kuliah pasca sarjana, dan aktivis perempuan.

    Terkini adalah menjadi anggota Dewan Pertimbangan PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) bersama Ustadzah Nursanita Nasution, dll dimana sebelumnya dia menjadi Ketua Umum. Mereka adalah anggota DPR dari fraksi yang sama saat Mutammimul Ula menjadi anggota dewan.

    Lalu, metode apa yang Kang Tamim dan Mbak Wiwi terapkan dalam mendidik putra-putrinya?

    Kuncinya adalah keseimbangan proses. Begitu simpulan dari metode pendidikan anak-anak sebagaimana tertulis dalam buku “10 Bersaudara Bintang Al-Quran“.


    Walaupun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Magrib jadwal mereka adalah berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Guna mendukung kesuksesan program ini, mereka mencanangkan kebijakan sederhana, yakni: menyingkirkan televisi dari rumah, tidak memasang gambar-gambar selain kaligrafi, tidak membunyikan musik-musik yang melalaikan, dan tidak ada perkataan kotor di lingkungan keluarga dan masyarakat.

    Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Quran adalah visi dan konsep yang jelas.

    Pertama adalah menjadikan putra-putri seluruhnya hafal Al-Qur’an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu. Setelah salat Subuh dan Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur’an yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih balita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur’an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya. 


    Ketiga, mengomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun awalnya merasa terpaksa, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur’an sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur’an, mereka diberi hadiah. Barangkali semacam reward atas pencapaian mereka. Mengenai punishment tidak dijelaskan secara rinci.

    Penulis buku (10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an) ini  membahas urgentitas menjadi hafiz Al-Qur’an. Penulis mengklasifikasikannya menjadi dua bagian: keutamaan dunia dan keutamaan akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifzul Al-Quran merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Al-Qur’an mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), dihormati umat manusia.

    Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Qur’an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orang tuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.           
                   
    Sumber: 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an

    Penulis: Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah
    Penerbit: Sygma Publishing, Bandung (2), Januari 2010
    Club Curhat Muslim dan Muslimah – (Galuh Rossie)


    Keterangan Foto: Ustadzah Dra Wirianingsih (atas) dan Ustadz Mutammimul Ula, SH (bawah)

    ,

    ELVIPS.COM - Akreditasi Ban-PT bertujuan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. Akreditasi A merupakan peringkat kelayakan tertinggi terhadap institusi kampus perguruan tinggi. Dan tentunya Universitas yang terakreditasi A lebih berkualitas dibandingkan Universitas yang terakreditasi B maupun C.

    Sesuai UU tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa akreditasi Universitas dari Ban-PT ini perlu diketahui,karena berguna untuk memilih Universitas Negeri-PTN atau Universitas Swasta-PTS. Selain itu, jurusan atau satuan pendidikan yang terakreditasi adalah salah satu syarat untuk bisa mengeluarkan sertifikat/ ijazah resmi.

    Di bawah ini referensi.tk menyajikan urutan universitas di Indonesia yang terakreditasi A berdasarkan hasil akreditasi Ban-PT terhadap institusi perguruan tinggi per februari 2015 dan januari 2016.


    1. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (A: SK/ban-pt/2013)


    2. Universitas Islam Indonesia (A: SK/ban-pt/2013)


    3. Institut Teknologi Bandung (A: SK/ban-pt/2013)


    4. Institut Pertanian Bogor (A: SK/ban-pt/2013)


    5. Universitas Gadjah Mada (A: SK/ban-pt/2013)


    6. Universitas Indonesia (A: SK/ban-pt/2013)


    7. Universitas Muhammadiyah Malang (A: SK/ban-pt/2013)


    8. Universitas Hasanuddin (A: SK/ban-pt/2013)


    9. Universitas Diponegoro (A: SK/ban-pt/2013)


    10. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (A: SK/ban-pt/2013)



    11. Universitas Padjadjaran (A: SK/ban-pt/2014) 


    12. Institut Teknologi Sepuluh November (A: SK/ban-pt/2014) 


    13. Universitas Sebelas Maret Surakarta (A: SK/ban-pt/2014) 


    14. Universitas Kristen Petra Surabaya (A: SK/ban-pt/2014) 


    15. Universitas Airlangga (A: SK/ban-pt/2014) 


    16. Universitas Gunadarma (A: SK/ban-pt/2014) 


    17. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (A: SK/ban-pt/2014) 


    18. Universitas Andalas (A: SK/ban-pt/2014) 


    19. Universitas Negeri Malang (A: SK/ban-pt/2014) 


    20. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (A: SK/ban-pt/2014) 


    21. Universitas Brawijaya (A: SK/ban-pt/2014) 


    22. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (A: SK/ban-pt/2015)


    23. Universitas Jember (A: SK/ban-pt/2015)


    24. Universitas Negeri Jakarta (A: SK/ban-pt/2015)


    25. Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (A: SK/ban-pt/2015)


    26. Universitas Surabaya (A: SK/ban-pt/2015)


    Itulah Universitas-universitas yang terakreditasi A di Indonesia. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda. Sebarkan.

    ,

    Berbicara masalah mobil modifikasi, tentu saja nama Indonesia menjadi salah satu nama yang pantas disegani di dunia. Para modifikator asal Indonesia membuktikan bahwa mereka mampu membuat mobil dengan kualitas yang sangat istimewa. Tidak hanya terbatas pada mobil modifikasi saja, saat ini banyak anak muda Indonesia yang mencoba menciptakan mobil yang benar-benar baru. Salah satu karya anak Indonesia yang saat ini sedang banyak dibicarakan adalah mobil tenaga listrik baru buatan seorang mahasiswa teknik mesin asal Tegal. Adalah 10 mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Politeknik Harapan Bersama Tegal yang membuat mobil balap bertenaga listrik ini. Dari sekilas saja, mobil ini terlihat hebat dan pastinya mampu melaju dengan kencang.


    Ide dan Pengembangan 

    Mobil ini diberi nama Potachi yang merupakan kependekan dari Poci dan Tahu Achi yang merupakan nama makanan asal tegal. Hendri Waluyo, salah satu pencipta mobil ini mengatakan bahwa dia dan 9 mahasiswa lainya membutuhkan waktu sekitar 3 tahun untuk membuat mobil ini mulai dari ide, pengembangan, pengujian, sampai layak jalan. Hendri Waluyo mengatakan bahwa dalam pembuatan mobil ini, salah satu tahapan yang memakan waktu terlama adalah pengujian. Mereka harus meguji setiap elemen mulai dari suspensi, T-road hingga bagian mesinya. Dalam proses pengembanganya, mereka mengalami banyak kesulitan terutama dalam meningkatkan kecepatan dan daya jangkau mobil ini. 

    Kemampuan Mesin 

    Mobil ini berbentuk seperti mobil Formula 1 dan hal ini tentu saja menunjukan bahwa mobil ini memang diciptakan untuk menyuguhkan kecepatan. Para penciptanya mengklaim bahwa mobil ini mampu melaju dengan kecepatan mencapai 125 Km/jam. Mobil ini digerakan oleh 4 buah aki berkekuatan 2.000 watt. Dengan tenaga tersebut, mobil ini diklaim mampu mencapai jarak 300 kilometer. 

    Dari segi kekuatan mesin, mobil ini nampaknya sudah hampir mengimbangi mobil bertenaga minyak. Hal ini menunjukan bahwa kualitas mesin dari mobil ini benar-benar berbeda dari apa yang sudah banyak orang lihat dalam pengembangan mobil listrik selama ini. Dengan kemampuan yang ditunjukan oleh mobil ini, produk asli mahasiswa dari Tegal ini layak disebut sebagai salah satu mobil listrik terbaik buatan anak bangsa saat ini. 

    Mobil Tenaga Listrik Karya terbaru dari anak-anak Tegal ini menjadi bukti bahwa secara kualitas teknologi, Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan luar negeri. Saat ini yang paling penting adalah apresiasi dari fihak berwajib, dalam hal ini adalah kementrian-kementrian yang terkait dengan produksi mobil, untuk lebih memperhatikan hal-hal seperti ini. Indonesia sebelumnya juga sudah memiliki beberapa mobil listrik berkemampuan hebat, sayangnya mobil-mobil tersebut akhirnya diambil alih oleh negara lain karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Mobil formula 1 bertenaga listrik dari Tegal ini merupakan sebuah karya yang luar biasa dan sudah selayaknya mendapatkan apreasis yang tinggi dari orang Indonesia dan pemerintah.

    , ,

    ELVIPS.COM - Haidar Bagir (Pengajar Filsafat dan Mistisisme Islam di ICAS-Paramadina)

    Kompas (Kamis, 15 Januari 2014) menyajikan tulisan menarik karya Noor Huda Ismail berjudul “’Je Suis Charlie’ dan Terorisme di Prancis”. Tulisan itu menyitir gagasan tentang lethal cocktail (campuran mematikan) terkait 3 faktor yang mendorong orang terlibat dalam kekerasan atau terorisme : individu yang ternarjinalkan, kelompok yang memfasilitasi, dan ideologi yang membenarkan. Tulisan ini berusaha mengelaborasi akar-akar  sosial-psikologis  yang menyediakan ramuan bagi ketiga faktor tersebut, khususnya ideologi yang membenarkan itu.

    Zaman kita adalah zaman berkelimpahan. Tapi, pada saat yang sama, inilah zaman kegalauan. Kata pujangga kita, Ranggawarsita, inilah zaman Kalabendu. Jangankan bagi orang yang hidupnya susah secara ekonomi, bahkan bagi orang-orang yang hidupnya berkecukupan, tekanan hidup makin keras : tuntutan kebutuhan artifisial yang terus muncul, beban pekerjaan yang overwhelming,  lingkungan hidup yang kurang bersahabat dan cenderung nafsi-nafsi,, kerumitan kehidupan keluarga yang makin meningkat (ancaman terhadap hubungan suami/istri dan institusi perkawinan, juga makin besarnya tantangan terhadap pendidikan anak), telah membuat banyak orang mengalami stress.

    Dekonstruksi narasi besar

    Agama dan spiritualitas, yang seharusnya dapat menjadi oase tempat orang bisa melakukan tetirah,  justru malah sempat terpinggirkan. Kesemuanya ini berkontribusi kepada lahirnya perasaan teralienasi, bahkan dari diri sendiri, yang cenderung melahirkan masyarakat yg depressed. Keberlimpahan dan kemajuan sains dan teknologi yang tadinya dianggap bisa menjadi penopang kebahagiaan hidup, justru meninggalkan kehampaan psikologis dan spiritual karena hanya menegaskan kenyataan bahwa – setelah semua keberlimpahan itu tercapai — kebahagiaan hidup tak dapat ditemukan di situ.

    Sayangnya, semangat dan mood zaman kita malah tidak membantu. Inilah zaman yang dicirikan oleh gejala posmodernistik, dalam bentuk arus dekonstruksi atas narasi-narasi besar (grand narratives). Termasuk di dalamnya terhadap agama. Kenyataannya, zaman posmodernistik menandai perubahan dari pengaruh-menentukan agama dalam kehidupan masyarakat menuju penguatan terhadap sekularisme, kalau malah bukan permusuhan terhadap agama. Disimbolkan oleh tokoh Zarathustra-nya Nietsche, zaman kita seperti menyeru: “Agama sudah mati!” Maka jadilah zaman ini suatu zaman yang di dalamnya penganutan agama terdedahkan kepada kegamangan. Tak seperti di masa-masa lampau, di zaman ini, memeluk suatu keimanan bukanlah sesuatu yang mudah. Ia selalu berada dalam ancaman dekonstruksi dan peragu-raguan, baik oleh pemikiran sekular, rasionalistik, dan materialistik, maupun oleh keragaman pemikiran keagamaan intraagama sendiri yang makin menjadi-jadi.

    Gejala ini menjadi makin kuat dengan adanya information spill over (peluberan informasi) sebagai konsekuensi makin digdayanya teknologi informasi yang merupakan pilar era informasi dan globalisasi. Tak seperti dulu, para pemeluk agama tak bisa lagi mengisolasi diri dari banjir informasi  yang mengancam kepercayaan mereka. TV, internet, dan media sosial mencegat di mana-mana dengan informasi yang menghantam orang bagai tsunami. Maka, banyak orang, karena tak lagi punya waktu dan energi untuk meng-engage berbagai pemikiran dan informasi yang membanjir itu, berusaha mencari pegangan keyakinan yang simpel (baca: simplistik) dan instant tapi, pada saat yang sama, menjamin ketenteraman hidup berkat janji keselamatan dunia akhirat yang ditawarkannya.

    Nah, kebutuhan seperti ini sulit dipenuhi oleh para pemikir dan ulama berkualitas yang cenderung menolak terkungkung dalam faham keagamaan monolit dan tertutup. Bagi para agamawan seperti ini, sudah seharusnya agama  mengakomodasi pluralitas yang ada di tengah-tengah masyarakat. Maka, bagi para penganut agama yang mengalami kebingungan dan disorientasi — tapi sudah telanjur kelelahan ini — kebutuhan akan pegangan seperti ini dengan sangat baik dipenuhi oleh orang-orang yang membawa faham-faham keyakinan yang bersifat fundamentalistik, integristik-total, dan mengklaim-diri sebagai satu-satunya kebenaran. Orang-orang model seperti ini bukan saja mengklaim bahwa faham mereka pasti benar, bahkan lebih jauh memastikan bahwa yang selainnya pasti salah dan membawa penganutnya jauh dari keselamatan dunia akhirat. Dari para guru seperti inilah mereka merasa medapatkan jaminan keselamatan yang mereka cari. Juga ketenteraman dalam penganutan keimanan. Sayangnya sikap-sikap sekelompok guru agama seperti ini masih diperparah oleh perasaan bermusuhan yang meluap-luap kepada semua orang di luar mereka, baik yang dianggap sebagai musuh agama, maupun – termasuk orang-orang yang seagama dengan mereka — yang dianggap mendukung para musuh agama tersebut.

    Penafsiran keagamaan

    Bercampur dengan frustrasi yang diakibatkan oleh faktor-faktor sosial ekonomi, serta imbas persaingan kelompok politik dan keagamaan lokal, regional, dan internasional yang menyediakan patronase – 2 bahan bagi ramuan mematikan  a la Richardson — “sekadar” faham ekstrem atau fundamentalistik bisa melahirkan radikalisme dan terorisme keagamaan seperti yang kita saksikan makin terasa menjadi-jadi belakangan ini.

    Maka, menjadi tugas para agamawan dan pemikir keagamaan moderat untuk menawarkan suatu faham atau penafsiran keagamaan yang mampu menjadi tandingan pemahaman sempit kaum fundamentalis dan radikal. Penulis opini merasa bahwa sejenis pemahaman keagamaan yang bersifat mistik (sufistik) kiranya merupakan alternatif yang paling efektif.
      
    Sebelum yang lain-lain, sifat mistisisme yang menekankan pada pembinaan dan perawatan kedekatan manusia kepada Tuhannya dapat memberikan perasaan tenteram, kebahagiaan, dan jaminan keselamatan yang dicari semua orang. Selanjutnya, tak seperti fundamentalisme dan radikalisme yang berporos pada eksklusivisme, kebencian, dan penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan, mistisisme didominasi oleh inklusivisme, cinta, dan kedamaian. Di sisi lain, mistisisme (sufisme) memang memberi ruang seluas-luasnya bagi – bahkan cenderung tak melanggar ranah — urusan-urusan duniawi sejauh ia diupayakan dengan memelihara moralitas dan moderasi. Jadi, sebaliknya menghambat bagi upaya-upaya “ sekular” umat manusia, nilai-nilai mistisisme justru kondusif terhadapnya.
    ~Tulisan ini dimuat di Harian Kompas, 29-01-2015.

    , ,

    ELVIPS.COM - Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkum HAM mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang perubahan peraturan pelayanan pembuatan paspor. Surat tersebut ditandatangani oleh Dirjen Imigrasi Ronnie F Sompie pada 8 Januari 2016.

    SE bernomor IMI-GR.01.01-0047 diterima detikcom pada Minggu (10/1/2015). SE itu ditujukan ke Kepala Kanwil Kemenkum HAM, Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkum HAM, dan Kepala Kantor Imigrasi.

    "Penerbitan paspor adalah salah satu wujud pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi yang senantiasa harus ditingkatkan kualitasnya seiring kondisi sosial masyarakat yang semakin baik," tulis paragraf pertama SE itu.

    Kepala Kanwil Kemenkum HAM dan Divisi Keimigrasian diminta mengantisipasi beban kerja pelayanan permohonan paspor di masing-masing kantor imigrasi sesuai dengan kondisi kewilayahan. Mereka juga wajib selalu responsif terhadap timbulnya masalah di lapangan.

    Bagi Kantor Imigrasi yang relatif rendah penerbitan paspornya, atau kurang dari 75 paspor per hari, maka jadwal pengambilan nomor antrean sesuai dengan jam kerja. Sedangkan untuk Kantor Imigrasi dengan penerbitan paspor lebih dari 75 per hari menyesuaikan sebagai berikut:

    a. waktu pengambilan nomor antrean permohonan paspor:

    pukul 07.30 s.d. 10.00 waktu setempat bagi kantor imigrasi dengan jumlah penerbitan rata-rata per hari di atas 150

    pukul 07.30 s.d. 12.00 waktu setempat bagi kantor imigrasi dengan jumlah penerbitan rata-rata per hari di atas 75 s.d. 150

    b. nomor antrean hanya diberikan kepada pemohon yang bersangkutan dengan menunjukkan persyaratan permohonan paspor


    c. pemanggilan pemohon berdasarkan nomor urut antrean

    "Dalam keadaan penting dan mendesak permohonan yang diajukan melebihi batas waktu yang ditentukan dapat dilayani dengan persetujuan kepala kantor imigrasi atau pejabat imigrasi yang ditunjuk," tulis surat tersebut lagi.

    Kantor imigrasi juga diwajibkan untuk menyediakan meja khusus untuk pemohon difabel, lansia, wanita hamil, dan balita.

    ,

    By: ASIC (UK)

    ELVIPS.COM - Indonesia is at a cross roads. The East Asian country of some 255 million people is rapidly developing itself into a leading global economy. It is already in the top 20 national economies and is aspiring to reach the top 10 by 2030. As a result the county is quickly expanding with rapid urbanization and social development on the backs of a rapidly expanding middle class. Meanwhile South East Asia poised to form a major federation of regional countries like the EU under the banner of ASEAN. Indonesia is expected to take a major place in the new organization.

    However, Indonesia’s ambitions are hobbled by a long standing underinvestment in education. Ranked 69th out of 124 countries in a World Economic Forum Report on the Human Capital Index (a report examining how well countries made use of their human resources), it is notably behind many of the other countries in the region whom it will soon be partnering with. For example, Singapore was ranked 24th, the Philippines 46th, and Thailand in positon 57.

    If this position is permitted to continue long term, it will have ongoing consequences for the country’s development effort. It will become reliant on other countries within the ASEAN group for expertise and innovations will come only from abroad, not from home grown Indonesian companies and entrepreneurs. This will have serious problems for employment, already endemic among young Indonesians with as many as 1 in 5 under 25’s not in work or further education.

    Government Influence
     
    One problem currently faced by the country is that its higher education sectors are not producing graduates suitable to the needs of business and industry. For example, to build the infrastructure Indonesia needs an estimated 50,000 new engineers are needed every year. Currently however, Indonesia produces only 30,000. Businesses also struggle to source managers and professionals which will hurt competitiveness further as the country becomes a part of ASEAN.

    Much of this stems from the huge desirability of teaching jobs in the country in recent years. Following the passing of the Teacher Act in 2005, Indonesian graduates who train, qualify and go on to work as teachers are entitled to an allowance of up to 100% of the salary of a newly qualified teacher. As a consequence, the majority of Indonesians University students are enrolled in some form of teach training alongside their studies and 1 in 5 is enrolled in a subjects deemed advantageous to a job as a teacher such as law, social science or economics.

    Though this has caused a disparity for the time being, creating a new army of teachers is seen as the essential first step to building a modern educational system throughout Indonesia. This has been backed up by a huge increase in the amount of funds allocated to education to US $2.67 Billion dollars.

    Further expansion plans are equally as ambitious. The government wants to have a community college in every district in the country, to triple the number of students in technical programmes, increase the number of doctoral students five-fold by 2025 and to drastically increase the pool of students suitable and ready for higher education.

    Topping all of this is the Indonesian Governments plan to create a new national body, the Ministry of Research, Technology and Higher Education.  With an approximate budget of US$ 3.2 Billion dollars and a presidential mandate, this new ministry is intended to be the main thrust of Indonesia’s efforts to boost its education achievement.

    The new Ministry is founded from a merger between the two prior ministries that of Education and Culture and the other of Research and Technology. By bringing these together into one singly body the aim is to create a focal point that leads the way for future investment and policy development.  One example of this is the creation of a new higher education body to oversee both public and private sector higher education institutions. Previously there was a separate body overseeing the 3000 private sector institutions but now they will all be held to the same standards under one body.

    New Opportunities

    All of this provides significant opportunities for educational providers from outside the country who are able and willing to align themselves with the Indonesian national ambition for improving education in the country.

    Outside bodies can find significant opportunity in providing training and skills in sectors that the Indonesian system does not yet have sufficient capacity for. Furthermore new and existing colleges and universities throughout the country will be eagerly looking for international partners for student exchanges, study programmes and more.

    With the entire region poised for an economic renaissance on the back of the ASEAN foundations, it’s a great time for educators looking to expand to consider the region and separate countries like Indonesia especially.

    International migration of international students is now at an unprecedented level. No longer is this the domain of countries such as UK, Australia, USA, Canada and New Zealand but students are now looking at study options in Malaysia, Singapore, China, Ukraine, Russia, Greece, Cyprus and most of the EU countries.

    This is giving the student a wider choice in relation to a range of subjects, entrance criteria, cost, types of institution and cultural experience.

    The market is growing, but so to is the number of educational institutions seeking to recruit these students.

    Unfortunately, the unethical behaviour of some international colleges is causing major problems for students, parents and sponsors.

    It is very difficult for students to get a realistic and honest picture of what an institution is really like in terms of quality, resources, student support and ethics.

    ASIC has been formed to bring this independent information to the student population through its accreditation service with well defined and objective benchmarking.

    Accreditation through ASIC will help the student and parent make a more informed choice and will also help a college/university demonstrate to the marketplace that they are a high quality institution.

    Following widespread and increasing concern over the behaviour of some international independent and private colleges, the UK Government identified the need for a more rigorous system for accrediting education institutions involved in recruiting overseas students. Accordingly, a proposal for the mandatory accreditation of education providers, wishing to bring overseas students into the UK, was included in the Government’s Command Paper “A Points Based System: Making Migration Work for Britain”.

    In response to this proposal QISAN together with a number of professional practitioners with considerable experience in recruiting international students for universities, further education colleges and schools/EFL colleges and in establishing collaborative arrangements with overseas institutions and UK partners, have established an embryo accrediting body, namely ASIC.

    Given our experience, we are well aware of:

    The existence of colleges, which appeared to focus largely on bringing young people into the UK as potential students, but whose main aim was to become an illegal economic immigrant,
    Colleges which, although genuine educational institutions, provided their students with a poor experience, sometimes placing them on inappropriate programmes,

    Quite reputable colleges, and indeed some universities, which were not well prepared to cater for all of the needs of international students.

    ASIC, therefore fully recognises the pressing need for a robust and transparent approach to ensuring that colleges, to the best of their ability, only recruit genuine and appropriately qualified students and that they provide the best possible student experience in terms of the students achieving their maximum academic potential whilst having their social and pastoral needs fully addressed.

    Ongoing development with the accredited colleges will incorporate such topics as training and monitoring the work of agents, high-quality and ethical recruitment methods, development of admission systems and assistance in the development of codes of practice and ethics policies.

    ASIC has identified the following Areas of Operation, which will each be assessed and given a grade of Commendable, Satisfactory or Unsatisfactory. These grades will not only be taken into account in deciding whether or not to award accreditation to a college, but will also be helpful in enabling students to make informed choices on where they might study.

    Areas of Operation:

    A. Premises and Health and Safety
    B. Management and Staff Resources
    C. Learning and Teaching; Course Delivery
    D. Quality Assurance and Enhancement
    E. Student Welfare
    F. Qualifications and Awards
    G. Marketing and Student Recruitment
    H. Relationship with Government Offices and Reporting Mechanisms
    Detailed descriptions of these areas can be found on Page 12, Section 4.2, of the Accreditation Handbook.
    Accredited Colleges are entitled to use the ASIC logo and any promotional materials produced by ASIC as long as they retain their accreditation.


Top