.

.

.

.

.

    , , , ,

    ELVIPS.CONM - Terbukti lebih dari 30 tahun, di lebih dari 38 negara oleh jutaan orang.

    Halo Bapak/Ibu, saya Hindra Gunawan, Certified Trainer TRE satu-satunya di Indonesia yang telah melatih 2.367 orang untuk merasakan manfaat TRE. 

    Saya sangat concern pada pengembangan diri dan percaya bahwa orang akan memberikan yang terbaik dari dirinya kalau bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. 

    Di halaman ini saya akan sharing sebuah teknik yang sangat revolusioner yang bisa dilakukan secara swadaya - artinya Anda bisa melakukan sendiri, tanpa harus ada bantuan terapis, kapanpun dan di manapun Anda butuh melepaskan beban mental Anda.

    Tiga tahun lalu saya bertemu dengan sebuah teknik yang menghilangkan masalah terbesar dalam diri saya.

    Saya Merasa Munafik...

    Saat itu saya punya masalah dengan seorang rekan bisnis, saya sangat marah dan tidak bisa menerima cara penyelesaian masalah itu. Hampir setiap malam di 6 bulan pertama saya terbangun di tengah malam karena masalah ini. Akhirnya setelah 5 tahun, saya memutuskan untuk memaafkannya, saya niatkan untuk merelakan masalah itu tetapi ketika saya menelepon untuk kembali menjalin persahabatan, kemarahan saya muncul lagi. Saya sempat merasa saya munafik karena saya sudah memutuskan memaafkan tetapi ternyata masih ada kemarahan.

    Saya Merasa tak Berdaya...

    Sekalipun pernah belajar berbagai teknik terapi dan menggunakannya untuk membantu orang lain, saya merasa tidak bisa membantu diri saya sendiri. Saya sudah mencari terapis untuk membantu menyelesaikan permasalahan saya, tetapi tidak menemukan yang cocok. Saya merasa tidak cocok, tidak nyaman. Masalah itu pun terasa kian menghambat diri saya dan saya tidak tahu bagaimana melepaskan atau menyelesaikannya.

    Akhirnya...

    Akhirnya saya bertemu dengan teknik TRE. Sebuah teknik self healing yang bisa dilakukan secara swadaya, kapanpun dan dimanapun tanpa perlu tergantung pada terapis lagi.Melalui teknik TRE ini saya mengalami pelepasan yang luar biasa. Saya sangat bersyukur dalam hal ini. Akhirnya saya menemukan solusi yang selama 5 tahun ini saya cari. Setelah itu saya memutuskan untuk menelepon teman saya itu dan ajaibnya, saya masih ingat kejadian itu namun emosi dan energi yang selalu menarik saya telah hilang. Hati terasa plong dan nyaman.Setelah dampak yang terjadi pada diri saya itu, saya memutuskan mendalami TRE dan membawa ke Indonesia agar banyak orang mengalami berkah seperti saya melalui TRE. Karena TRE itu sederhana, mudah dilakukan namun powerful dampaknya.

    Belajar TRE dan Membawa ke Indonesia
    Dr. David Berceli & Hindra Gunawan

    Akhirnya saya belajar ke Amerika dengan Dr. David Berceli, sang founder TRE dan saya mendapatkan sertifikasi dan berhak mengajarkan TRE di Indonesia. Selama memberikan pelatihan TRE 2 tahun terakhir ini (sudah 52 angkatan) banyak sahabat yang menceritakan betapa mudahnya mereka mengatasi beban mental, penyakit psikosomatis dan hambatan kreativitas dalam bekerja. Saya benar-benar terpukau dan kagum dengan hasil yang mereka dapatkan.

    Berikut sekilas kisah mereka kepada saya:

    Pulih dari Cedera Tulang Ekor Bengkok selama 27 tahun

    Selama ini saya ada permasalahan mengenai tulang ekor bengkok, setelah melakukan TRE tulang tersebut tidak bengkok lagi dan bisa tidur telentang lagi dengan kaki lurus. Dulu saya latihan karate dan mengalami keseleo, kejadian tersebut sejak saya masih mahasiswa tahun 1988, sejak saat itu saya tidak bisa tidur telentang dgn kaki lurus, kalaupun harus tidur dengan posisi telentang, posisi kaki diangkat supaya nyaman agar bagian tulang yang sakit itu tidak kena. Kalau saya tidur harus dalam posisi miring atau kalau telentang posisi kaki harus diangkat supaya tulang tersebut tidak sakit. Cuma saya tidak berani untuk diurut bagian tulang tersebut, takut tulang tersebut semakin bengkok dan memperparah rasa sakitnya. Dan sekarang saya juga bisa duduk bersila dengan baik tanpa rasa sakit, sebelumnya kalau duduk bersila, kaki kiri harus diangkat, supaya bagian ekor tersebut tidak sakit.

    Frans Silalahi

    Pandangan Seorang Psikolog

    Sebagai pribadi & sebagai psikolog, TRE ini membantu saya untuk melihat persoalan lebih terinci. Ketika menjadi psikolog kita dituntut untuk bisa berempati bukan hanya simpati. TRE ini membantu melepaskan emosi-emosi negative & trauma-trauma. Dengan pelepasan itu kemampuan untuk memahami orang lain itu lebih mudah. Kemampuan untuk tidak hanyut dalam rasa kesedihan terasakan. Karena sebelumnya saya begitu hanyut ketika orang berduka atau sedih (terutama saat mendampingi keluarga korban jatuhnya pesawat Air Asia). Saya jadi lebih mampu untuk menjaga keseimbangan emosi saya dan itu berdampak kepada relasi ketika saya berhadapan dengan klien.

    Khanis, Psikolog dan Aktivis Sosial
    Pandangan Seorang Hipnoterapis Aktif

    Ketika saya melakukan TRE, tubuh ternyata secara cerdas melakukan sendiri penyelesaian masalah-masalah yang tersimpan entah sejak kapan dan juga tanpa diketahui masalah yang mana yang diselesaikan, karena hanya bisa dirasakan seusainya saja, yaitu perasaan ringan pada diri, hilangnya ganjalan-ganjalan baik pada psikis maupun tubuh fisik. Sampai saat ini saya masih melakukan TRE hampir setiap hari, namun bahkan tanpa saya bermotivasi untuk melakukan TRE pun, di kondisi tertentu tubuh ternyata secara cerdas melakukan lalu menghentikan sendiri proses TRE nya. Saya merasa semakin membumi, semakin selaras dengan diri saya sendiri, lingkungan dan alam semesta serta seolah menemukan kembali kegembiraan-kegembiraan murni tanpa embel- embel maupun strategi yang saya rasakan semasa kecil. Terima kasih TRE dan pak Hindra Gunawan. Namaste.

    Sjahsjam Susilo, Mindset Trainer, Meditator, Hipnoterapis
    Gampang Mengatur Mood

    Pada saat saya mengalami suatu masalah, sesaat sebelum perform (on stage), saya langsung melakukan TRE. Dan apa yang terjadi ? saya tidak perlu membuang energi dan waktu untuk marah atau menghancurkan mood karena fikiran negative yang mulai bermunculan, tetapi saya langsung dapat melanjutkan aktifitas saya dengan mood yang sangat bagus.

    Elysa Verdyana, Penyanyi dan Mahasiswi Psikologi
    Mengapa Kita Perlu Melepaskan Beban Mental Negatif?

    Setiap hari kita berhubungan dengan orang lain baik dalam bisnis, keluarga maupun persahabatan. Tentu saja berbagai emosi akan kita alami. Marah, kecewa, senang, bangga karena dipuji, takut, cemas, khawatir, stress bahkan trauma bisa terjadi dengan kita.

    Semua emosi itu masuk ke dalam diri kita dan kita tidak membersihkannya karena kita tidak memiliki tools-nya.

    Beda Perlakuan Fisik dan Mental

    Keadaan mental kita persis seperti keadaan fisik kita. Setelah beraktivitas seharian tentu saja badan kita kotor karena debu dan keringat. Apa yang kita lakukan? Kita mandi sehari 2 kali sehingga kita tetap bersih secara fisik, terlihat segar dan wangi. Bagaimana dengan kondisi Mental kita? Apakah kita memandikan mental kita? Tidak.

    Kita pikir ketika kita kesal atau kecewa dan kita pikir memaafkan sudah selesai, ternyata tidak. Sehingga banyak yang mengalami tegang di bagian bahu dan leher, ada yang migraine, tidak bisa tidur dan bahkan emosi tidak stabil alias cepat marah, asam lambung berlebihan, perasaan takut dan cemas, itu semua karena psikis.

    Apa Ruginya kalau Tidak Membersihkan Mental Kita?

    Kita akan mengalami hal seperti di atas susah tidur, emosi tidak stabil, dan lain-lain yang akan mempengaruhi kualitas kebahagiaan dan relasi harmonis dalam keluarga.

    Hambatan dalam mengambil keputusan atau tindakan karena pengalaman masa lalu yang masih membayangi kita sehingga ada hambatan yang menahan kita untuk “berlari dalam hidup”.

    Berbagai perasaan inferior akan muncul dalam diri kita akibat penumpukan emosi atas kejadian sehari-hari.

    Ada kecenderungan kita semakin mudah diserang hal-hal yang negative karena sudah biasa membiarkan hal negative masuk ke dalam diri kita.
     
    Kita tidak presence atau tidak hadir sepenuhnya di momen ini karena kecendrungan tertarik ke masa lalu sehingga kita banyak melepaskan peluang emas untuk menjalin relasi yang berkualitas, ide-ide baru maupun peluang bisnis.

    TRE, Teknik Sederhana, Mudah dan Ampuh. Terbukti selama 30 tahun oleh Jutaan orang di dunia. Kini telah ditemukan sebuah teknik “mandi mental” yang bisa dilakukan oleh diri sendiri kapan dan dimanapun juga yang bisa membongkar lapisan-lapisan mental negative masa lalu, yaitu TRE, Tension and Trauma Releasing Exercises.

    Teknik ini bisa dilakukan sambil nonton, baca buku bahkan sambil kerja. Sangat sederhana dan mudah diaplikasikan, layaknya Anda Mandi, setelah melakukan TRE Anda akan merasa plong dan nyaman.

    TRE Mampu
    Melepaskan Neuro Muscular Lock!

    Dalam keadaan stress, takut, cemas, khawatir, mekanisme tubuh manusia akan memberikan respon lawan atau lari. Kondisi ini membuat otot menjadi tegang. Secara alami tubuh manusia akan melepaskannya dengan bergetar atau tremor. Namun karena ego dan tidak ingin menunjukkan kelemahan, maka getaran atau tremor tidak dijinkan terjadi. Sehingga emosi itu terkurung di dalam otot.

    Kondisi ini disebut dengan Neuro Muscular Lock.

    Akibatnya badan cepat lelah, susah tidur, migrain, emosi tidak stabil bahkan menyimpan trauma tertentu dan muncul berbagai penyakit psikosomatis. Semua kondisi ini akan menyebabkan penurunan kinerja, pengambilan keputusan yang kurang tepat, relasi yang tidak harmonis, sampai luapan emosi yang tidak normal.

    Dengan Senang Hati Saya Mengundang Anda ....

    Untuk mengenali kegeniusan tubuh Anda dalam melepaskan segala emosi negatif dalam diri yang bisa digunakan secara sengaja untuk mengatasi berbagai masalah.

    , , , ,

    ELVIPS.COM - "Apa mungkin orang Indonesia bisa bikin pesawat terbang? Orang Indonesia memang gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri".

    Sindiran itu dilontar dari mulut Bacharuddin Jusuf Habibie saat berkunjung ke kantor Manajemen Garuda Indonesia, Kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Januari 2012. 
    Tapi lihat buktinya, kata Presiden Republik Indonesia ketiga ini dengan nada bergetar, sambil memutar sebuah video 17 tahun silam. 
    Pagi itu, 10 Agustus 1995, mata dunia tertuju ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Pesawat perdana buatan anak negeri N-250 Gatot Kaca terbang untuk pertama kalinya.
    Suasana tegang menyeruak ketika mesin pesawat itu mulai dinyalakan. Gemuruh 'si burung besi' terdengar. Pesawat itu melaju pelan, berputar arah kemudian mulai bergerak di landasan pacu. 
    Kencang, semakin kencang dan akhirnya lepas landas. Pesawat N-250 terbang tinggi di atas cakrawala. N-250 terbang perdana sekitar 55 menit.
    Semua karyawan bertepuk tangan sambil berdiri. Tak sedikit yang menangis haru. Berita ini disiarkan hampir ke seluruh dunia. 
    Sebelumnya, sejumlah pengamat penerbangan memprediksi N-250 tidak mampu terbang dan bahkan akan jatuh saat lepas landas. 
    Tapi mereka keliru. Hari itu, Habibie membuktikan 'Si Gatot Kaca' terbang gagah membelah angkasa biru.
    Tapi mimpi besar soal pesawat buatan nasional ini berakhir pahit. Awan gelap krisis moneter menghantam Indonesia. 
    Proyek N-250 tak bisa dilanjutkan karena tak ada dana. PT IPTN yang berubah nama menjadi PT Dirgantara pun ditutup paksa. Ribuan karyawannya menjadi pengangguran. 
    Tapi semangat lelaki kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, tak pernah mati. Ia selalu memperjuangkan agar industri penerbangan Indonesia bisa bangkit lagi. 
    Kini Habibie bertekad menghidupkan Gatot Kaca yang mati suri. "N-250 adalah bukti, tidak ada negara lain yang berhak mengatakan orang Indonesia bodoh!," kata Habibie dengan semangat berapi-api.
    Di usia senja, 79 tahun, pria yang pernah menjabat menteri riset dan tehnologi itu siap kembali membuat kejutan besar!
    Ia membuat suksesor pesawat N-250. Pesawat kali ini diberi nama Regio Prop 80 (R80). Teknologi yang diadopsi pesawat ini digadang-gadang lebih efisien dan canggih, dari segi desain serta mesin, dibanding Boeing dan Airbus.
    Penerus 'Gatot Kaca' bakal terbang perdana menjajal bandara baru di Majalengka pada 2018, tepatnya bulan Agustus. Kemungkinan besar di Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.
    Belum banyak informasi detail soal pesawat anyar buatan Habibie itu. Tapi banyak orang berdebar menanti. 
    Habibie memang telah diakui oleh dunia penerbangan. Saat ilmuan penerbangan dari berbagai belahan dunia kelimpungan mencari solusi untuk mencegah kecelakaan akibat keretakan pada bagian sayap, Habibie muncul dengan solusi.
    Pria yang lama tinggal di Jerman ini muncul membawa teori keretakan pesawat yang kondang dengan sebutan 'Faktor Habibie' untuk menciptakan pesawat yang sangat aman untuk penerbangan. 
    Dicintai Jerman, sering kelaparan


    Habibie hidup susah saat menempuh pendidikan di Jerman. Kadang dia tak punya makanan. Dia hanya mengandalkan kiriman dari sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo.
      
    Maklum, Habibie tak mendapat beasiswa penuh, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia lain. Dia hanya bermodal 'paspor hijau'. Sementara lainnya 'paspor merah'. Paspor dinas.
      
    "Kiriman ibu saya sering telat. Saya sering kelaparan. Tapi ada kawan baik pada saya. Namanya Ilona. Dia sering datangi saya ke perpustakaan, beri apel dan roti," kata Habibie mengenang masa muda di sekolah Jerman.  

    Jika musim libur tiba, Habibie tak bisa berleha-leha seperti temannya. Ia justru harus sibuk bekerja, mencari uang tambahan biaya hidup di negeri rantau. Jika ada sisanya, ia beli buku.  

    Anak ke-4 dari delapan bersaudara ini memulai bangku kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955.  

    Habibie berhasil menyelesaikan strata 1 pada usia 22 tahun dan strata dua pada usia 24 tahun.    Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.  

    Kejeniusan Habibie membuat takjub dunia. Dibuktikan ketika menemukan teori-yang disebut dunia internasional sebagai teori-krack progression. Teori ini menemukan perhitungan titik rawan kelelahan badan pesawat.  

    Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat.  

    Ketika menyentuh landasan, sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin ini menanggung empasan tubuh pesawat.
       
    Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (krack). Titik rambat tersebut semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang. Habibie yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik krack (keretakan) itu bekerja.   

    Dengan teori ini industri pembuat pesawat bisa mengerjakan badan pesawat dengan perhitungan yang lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.  

    Berkat berbagai prestasinya, Habibie mendapat ganjaran dengan sejumlah penghargaan di antaranya bidang kedirgantaraan, Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences.  

    Selepas meraih gelar doktor, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg, sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang (1965-1969).  Kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).  

    Karier Habibie makin mencorong, pada 1969 dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978.  

    Namun setahun kemudian, Habibie rela meletakkan jabatan prestisius itu saat 'Ibu Pertiwi' memanggil pulang. Ia diminta membangun industri pesawat terbang di negeri sendiri.  

    "Di situ (MBB Hamburg) lahir Airbus, yang sekarang membuat A-380 di situ. Waktu saya mulai ke situ 3.000 (karyawan), waktu saya tinggalkan 4.500, sekarang 16.000, " kata Habibie.  

    Dalam skala internasional, Habibie terlibat erbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dengan teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal),   

    Kemudian CN-235 dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, ia secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.  

    Jiwanya Terpanggil

    Dalam sebuah bukunya berjudul 'Habibie dan Ainun', Jerman menawari Habibie untuk menjadi warga negara kehormatan.   

    Sebuah tawaran yang amat jarang diberikan oleh Jerman. Namun, Habibie tidak silau dengan tawaran itu. Habibie memilih setia menjadi WNI.  Menolak tawaran Jerman.  

    "Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat Tanah Air memanggil, maka Paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke Tanah Air," katanya.  

    Seperti kata Pepatah; "Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang".  

    Bagi Habibie, setetes keringat yang menitik di tanah kelahiran, akan lebih berharga sebagai perekat negeri, daripada keringat yang tertumpah di negeri asing!

    ,

    ELVIPS.COM - Mahasiswa Institut Teknologi 10 November (ITS), Bachtiar Dumais Laksana (23) rupanya tak mau tinggal diam jika Indonesia tertinggal di bidang teknologi, utamanya pertahanan dan keamanan. Atas alasan itu pula, bersama Adhitya Whisnu Pratama dan Muhammad Iqbal membuat kendaraan taktis mini tanpa awak pertama.

    Tank robot yang dikendalikan lewat remote control ini dirancang, dirakit dan diproduksi sendiri oleh ketiganya. Produk tersebut belum diproduksi massal, masih berupa purwarupa. Tank ini diberi nama War-V1.

    Untuk mendukung aktivitasnya, mereka mendirikan perusahaan sendiri yang diberi nama BDL-Tech. Produknya tersebut sudah dilirik oleh Kodam Kodam VI/Mulawarman di Balikpapan, serta Batalyon Kavaleri 8 Divisi Infantri 2 Kostrad di Bandung.

    Tank robot War-V1 BDL-Tech

    "Saya sendiri direkturnya, bertiga, pengerjaan sudah makan waktu setahun lebih, kira-kira 13 bulan. Lengkap dengan desain, mekanik, rancang kendali elektronis. Kami memang kebetulan dari awal mau menyusun perusahaan yang bergerak di bidang hankam dan pendidikan," beber Bachtiar saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (1/2) kemarin.

    Pembuatan tank robot tersebut bermula dari hobi ketiganya di dunia militer, dengan latar belakang sebagai lulusan elektro sejak SMK, mereka mulai mencoba merealisasikan mimpinya. Desain dan model tank buatannya tersebut berasal dari robot yang digunakan oleh militer Jepang.

    "Kemudian kami coba, itungannya nekat. Saya tanya ke Batalion Kavaleri sampai Kodam, yang berikan tanggapan positif Kodam Mulawarman dan Batalion Kavaleri 8. Jadi kemudian dengan konsep yang ada, kendaraannya saya sendiri inginnya berfungsi sebagai back up, di lapangan sebagai sweeper atau penyapu, setelah infantri masuk mampu di back up unit ini. Makanya mulai dari senjata sistem kami sesuaikan dengan tujuan aplikasi," terangnya.

    Tank robot War-V1 BDL-Tech

    Dalam proses pembuatannya, Bachtiar dan kedua rekannya belum mendapatkan bantuan dana dari pihak manapun, termasuk pemerintah. Alhasil pembelian komponen dan alat pendukung lainnya masih menggunakan modal pribadi.

    "Ini masih modal pribadi, saya sendiri masih ikut orangtua, belum lulus dari kampus. Termasuk pendirian CV dan segala macam," lanjut dia.

    Karena masih menggunakan dana sendiri, mereka sempat kesulitan untuk memasang komponen yang lebih memadai. Sebab, seluruh komponen yang diperlukan harus didatangkan dari China dengan harga belasan juta rupiah, itu pun belum termasuk bea impor.

    "Kami disiplin elektro semua di bidang mekanik bergerak, kami belajar otodidak, makanya waktu desain belajar dari nol. Jadi masih gambar tangan mulai dari 2014," kenang dia.

    Meski begitu, bachtiar mengungkapkan udah ada beberapa pihak yang mau mensponsori tank buatannya. Tank ini juga akan menjadi bekal untuk menyelesaikan skripsi.

    "Ini ada beberapa bagian saya ikutkan untuk judul skripsi, kalau lolos Kemenhan rencananya ada pengucuran dana, dari menhan mungkin turunnya ke dikti," pungkasnya.

    ,

    ELVIPS.COM – Dua siswa asal Toba Samosir, Sumatera Utara (Sumut) berangkat ke lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA) di San Jose. Dua siswa SMA Unggul Del Toba Samosir itu akan mengikuti seleksi tahap akhir terkait hasil penelitian mereka yang bakal diterbangkan ke luar angkasa.
    Dua siswa SMA Unggul Del Toba Samosir itu yakni Gilbert Nadapdap dan Gomos Parulian Manalu. Keduanya telah berangkat ke Amerika Serikat pada Minggu 24 Januari 2016. Dua siswa berprestasi tersebut didampingi dua gurunya, yakni Elin Bawekes dan Arini Desianti Parawi.
    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Luhut Binsar Pandjaitan mengaku bangga dengan prestasi dua siswa hebat tersebut. Luhut mendukung dan mendoakan agar dua siswa tersebut lulus seleksi tahap akhir.
    “Saya bangga melihat anak-anak didik saya dari kampung Sitoluama-Sumut ini mampu melewati proses seleksi yang dilakukan oleh NASA, hingga sekarang mereka berhasil masuk pada tahapan terakhir tes di NASA,” tulis Luhut Pandjaitan di laman Facebooknya.
    Menurut Luhut, tes terakhir ini akan menentukan apakah micro lab mereka yang meneliti tentang “micro-aerobic fermentation in space with micro gravity” layak diterbangkan ke stasiun ruang angkasa milik NASA tahun ini.
    “Sebelum mereka bertolak ke Amerika, saya berpesan kepada mereka bahwa selama di San Jose, mereka bukan hanya mewakili SMA Unggul Del tapi juga mewakili seluruh anak-anak SMA di Indonesia,” tambah Luhut.
    “Kepada Gilbert Nadapdap, Gomos Parulian Manalu serta kepada Ibu guru Elin Bawekes dan Arini Desianti Parawi, saya ucapkan selamat bekerja dan selamat berjuang. Tunjukkan bahwa orang dari kampung juga bisa tampil di kelas dunia!,” tandas Luhut.
    Berikut foto-foto dua siswa SMA Unggul Del Toba Samosir saat mengikuti tahapan penelitian dan seleksi NASA:
    Dua siswa SMA Unggul Del Toba Samosir diuji oleh para peneliti NASA melalui teleconference
    Dua siswa SMA Unggul Del Toba Samosir diuji oleh para peneliti NASA melalui teleconference. Foto Facebook Luhut Pandjaitan
    Hasil penelitian dua siswa SMA Unggul Del Toba Samosir
    Dua siswa SMA Unggul Toba Samosir menciptakan sistem IT untuk dapat mengendalikan proses fermentasi di luar angkasa.  FOTO: Facebook Luhut Binsar Pandjaitan.
    Hasil penelitian siswa SMA Unggul Del ini akan diterbangkan ke luar angkasa oke
    Tabung kecil ini akan diisi dengan ragi yang akan diterbangkan ke luar angkasa.
    Tabung kecil ini akan diisi dengan ragi yang akan diterbangkan ke luar angkasa
    Tabung kecil ini akan diisi dengan ragi yang akan diterbangkan ke luar angkasa. Foto Facebook Luhut Pandjaitan.

    ,

    ELVIPS.COM - Sebanyak 300 ilmuwan dan teknisi pembuat pesawat dari PT Dirgantara Indonesia akan dikirim ke Korea Selatan untuk mempelajari teknologi pembuatan pesawat tempur KF-X/IF-X.


    Pengiriman 300 sumber daya manusia Indonesia tersebut merupakan bagian dari kesepakatan antara Indonesia dengan Korea Selatan dalam kontrak pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X yang dikerjakan oleh kedua negara.

    Dalam kerja sama pengembangan itu Indonesia-Korsel sepakat membagi biaya pembuatan pesawat sebanyak 20 persen untuk Indonesia dan 80 persen dibiayai Korea Selatan.

    Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso mengatakan, pemerintah Indonesia mengeluarkan dana sebesar Rp 18 triliun dalam proyek tersebut sebagai investasi transfer teknologi dan pembuatan purwarupa pesawat KF-X/IF-X.

    "Meski kita hanya punya 20 persen share development, tapi untuk semua knowledge development pesawat ini kita dapat 100 persen. Transfer teknologinya semua kita tahu, bukan cuma 20 persen tapi 100 persen," kata Budi.

    Seluruh teknisi yang dikirim PT DI akan memelajari keseluruhan program pengembangan pesawat KF-X/IF-X selama tiga hingga empat tahun di Korea Selatan. Namun jumlah yang terlibat dalam pembuatan pesawat berbeda-beda di tiap unit.

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan hanya 20 persen orang Indonesia yang dilibatkan dalam pembuatan pesawat unit pertama dan 50 persen pada unit kedua yang dilakukan di Korea Selatan.

    Sedangkan satu unit pesawat KF-X/IF-X yang dibuat di Indonesia akan melibatkan 80 persen SDM Indonesia.

    Pemerintah Indonesia pun sudah menyiapkan infrastruktur untuk merakit pesawat KF-X/IF-X di Indonesia dengan membuat hanggar di PT DI.

    Hal tersebut berbeda dengan rencana pembuatan kapal selam yang seharusnya dikerjakan di Indonesia pada 2015, namun harus kembali dibuat di Korea Selatan lantaran infrastruktur yang belum siap.

    , ,

    ELVIPS.COM - Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat membangun jet tempur bersama. Proyek pengembangan pesawat tempur tersebut bernama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX). Untuk varian Indonesia, jet tempur tersebut bernama IFX.

    Proses pengembangan tahap awal dilakukan di Korea Aerospace Industries (KAI), setelah itu proses produksi dilakukan di masing-masing negara yakni di fasilitas milik KAI dan fasilitas milik Indonesia di Bandung, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) (Persero).

    Jet tempur generasi 4.5 ternyata dirancang mengungguli fighter atau jet tempur yang ada saat ini yakni di atas F-16, F-18, Sukhoi-35, Dassault Rafale hingga Eurofighter Typhoon.

    "Generasi 5 baru ada F-35 dan F-22. Kalau kita generasi 4.5. Kita di atas F-16, F-18 sampai Sukhoi-35 karena mereka generasi ke-4," Kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana usai acara penandatanganan KFX/IFX di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (7/1/2016).

    Dengan generasi 4.5, jet tempur karya Indonesia dan Korsel ini memiliki teknologi semi stealth atau kemampuan yang bisa mengecoh radar musuh. Teknologi ini mirip dengan pesawat siluman F-22 milik Amerika Serikat (AS).

    "Secara struktur, pesawat ini punya teknologi stealth atau teknologi siluman yang ada di generasi ke-5," Ujar Direktur Utama PTDI, Budi Santoso.

    Korsel sendiri, lanjut Budi, dipilih karena bersedia memberikan penguasaan teknologi sampai 100%. Indonesia juga dilibatkan dari awal pengembangan hingga produksi. Padahal, andil Indonesia hanya 20% dari total proyek yang senilai US$ 8 miliar atau Rp 111,52 triliun (US$ 1 = Rp 13.940).

    Selain itu, Korsel memiliki pengalaman mengembangan jet tempur T-50 Golden Eagle yang merupakan kerja sama antara KAI dan Lockheed Martin, Amerika Serikat.

    "Di sini yang penting adalah kita dapat semua teknologinya," tambahnya.

    Dengan penguasaan teknologi 100%, PTDI bisa secara mandiri memproduksi jet tempur di Indonesia mulai 2025. Namun untuk penjualan, share keuntungan antara PTDI dan KAI akan dibagi sesuai setoran modal.

    "Sebanyak 20% komponen kita kerjakan, mereka 80% tapi tekonlogi kita dapat 100%," tuturnya.

    Pengembangan jet tempur ternyata tak berhenti disitu. Indonesia dan Korsel bisa saja menaikkan kemampuan pesawat menjadi generasi 5 seperti F-22.

    "Dengan mulai 4.5, kita nantinya bisa masuk ke generasi 5. Ini penting setelah punya kemampuan updating system dan lain-lain di pesawat," tambahnya.

    ,

    ELVIPS.COM - Kemampuan rancang bangun insinyur PT Dirgantara Indonesia (PT DI) terus diasah. Ke depan, bersama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), PT DI sedang menyiapkan pesawat N245 untuk 50 penumpang setelah proyek N-219 ini.

    Rencana pengembangan ini disampaikan Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat roll out pesawat N-219 di Bandung, Jawa Barat beberapa waktu yang lalu.

    “Selanjutnya, N245 untuk 50 penumpang. Ini sudah mulai disiapkan. Berikutnya generasi N270 untuk 70 penumpang,” kata Thomas Djamaluddin.

    Lapan ditunjuk pemerintah lewat Peraturan Pemerintah Tahun 2008 sebagai lembaga riset dan pengembangan pesawat terbang, dan PT Dirgantara menjadi pengembang manufaktur pesawat.

    “Pada 2011, Lapan secara resmi membentuk Pusat Teknologi Penerbangan,” ujar Thomas. Pembuatan pesawat N219 menjadi kerja sama perdana antara Lapan dengan PT DI.

    Pengembangan N219 bersama PT DI akan menyedot dana Rp 500 miliar hingga pesawat itu mendapat sertifikasi laik terbang dari pemerintah yang ditargetkan pada 2017. Pengembangan N219 juga masih terus berlanjut dengan pengembangan variasi lainnya, sesuai kebutuhan user.

    Adapun rencana pembuatan N245 sudah memasuki tahap desain lewat pengujian di fasilitas wind-tunnel atau terowongan angin. “Sudah mulai konsep desain awal, beberapa sudah mulai pengujian,” kata Thomas Djamaluddin.

    Dia mengaku, biaya yang dikeluarkan masih terhitung kecil tanpa mau memerincinya. Lembaganya bersama PT DI berencana mengajukan pendanaan khusus pada pemerintah untuk membiayai pembuatan prototipe N245.

    Thomas mengaku belum bisa menaksir dana yang dibutuhkan untuk pembuatan pesawat N245. “Belum ada gambaran, tapi yang jelas lebih mahal dari ini (N219),”.

    Sementara Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana, mengatakan, pesawat N245 merupakan generasi terbaru dari pesawat CN235 yang sudah diproduksi PT Dirgantara. “Kami lagi membangun pesawat CN235 yang dimodifikasi menjadi N245,” kata Andi di Bandung, Kamis, 10 Desember 2015.

    Andi mengatakan, perbedaan mencolok dengan pesawat CN235 ada pada bagian ekornya. Pesawat N245 dirancang dengan memodifikasi bagian ekor pesawat CN235 yang memiliki ramp-door atau pintu belakang yang bisa dibuka. “Pintu belakang itu dicopot sehingga bisa membawa penumpang yang tadinya 42 penumpang menjadi 50 penumpang,” katanya.

    Menurut Andi, ramp-door atau pintu belakang itu menjadi kelebihan CN235 untuk memenuhi fungsi ganda pesawat tersebut, yakni sebagai pesawat sipil sekaligus pesawat militer. “Pintu belakangnya besar sehingga bisa nerjuni orang. Nah, N245 itu dicabut supaya lebih ringan karena pintu itu berat,” ujarnya.

    Andi mengatakan, dengan mencabut pintu besar itu, N245 dirancang lebih ringan kendati ukurannya bakal lebih panjang agar memuat penumpang hingga 50 orang.

    Dia optimistis pengembangan pesawat N245 bakal lebih cepat dibandingkan saat mengembangkan N219. “Basisnya sudah ada. Tahun 2019 itu diharapkan sudah selesai dan bisa dijual,” kata Andi.

    Sumber : tempo.co

    , ,

    ELVIPS.COM - Pesawat induk ini nantinya diplot membawa drone-drone dan meluncurkannya dari angkasa. Helicarier ini bisa membawa drone ke manapun.

    Dream - Bagi penggemar film The Avengers, pasti tahu pesawat helicarier. Pesawat induk yang digunakan oleh Captain America, Hulk, dan Iron Man. Sekaligus tempat untuk meluncurkan pesawat dari angkasa.

    Pesawat itu sebentar lagi mungkin tak sekadar dalam film naupun komik Marvel saja. Sebab, The Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) atau lembaga penelitian Pentagon, berniat mewujudkannya.

    Menurut pertimbangan DARPA, sebuah operasi udara membutuhkan biaya dan risiko yang sangat mahal. Baik risiko kehilangan pesawat tempur maupun jiwa pilot.

    Masalah ini sebenarnya sudah bisa diatasi dengan penggunaan pesawat tanpa awak. Namun masalah lainnya muncul. Drone alias pesawat tanpa awak tak bisa terbang dengan jarak yang jauh. Sehingga kemampuannya terbatas.

    Sehingga helicarier inilah yang bisa menjadi solusi di masa depan. Pesawat induk ini nantinya diplot membawa drone-drone dan meluncurkannya dari angkasa. Helicarier ini bisa membawa drone ke manapun. Sehingga pesawat tanpa awak itu bisa semakin dekat dengan sasaran operasi.

    "Kami ingin menemukan cara untuk membuat pesawat yang lebih kecil, lebih efektif, dan satu ide yang memungkinkan adalah pesawat besar yang ada, dengan modifikasi minimal, untuk menjadi 'kapal induk di langit'," kata Dan Patt, manajer program DARPA, sebagaimana dikutip Dream dari Daily Mail, Kamis 13 November 2014.

    Ide pesawat pengangkut ini sebenarnya tak baru. Ide seperti ini sudah muncul pada 1920-an, ketika balon udara untuk meluncurkan dan menangkap biplanes atau pesawat bersayap ganda melalui kait besar. Konsep pesawat parasit' muncul lagi pada dekade 1950-an.

    Ide kapal induk terbang memang tidak baru. Idenya muncul pada tahun 1920 ketika balon udara yang digunakan untuk memulai dan memulihkan biplanes melalui kait besar. Konsep "parasit" pesawat muncul lagi selama tahun 1950-an setelah Jerman putus asa melakukan percobaan selama Perang Dunia II.

    ,

    By: ASIC (UK)

    ELVIPS.COM - Indonesia is at a cross roads. The East Asian country of some 255 million people is rapidly developing itself into a leading global economy. It is already in the top 20 national economies and is aspiring to reach the top 10 by 2030. As a result the county is quickly expanding with rapid urbanization and social development on the backs of a rapidly expanding middle class. Meanwhile South East Asia poised to form a major federation of regional countries like the EU under the banner of ASEAN. Indonesia is expected to take a major place in the new organization.

    However, Indonesia’s ambitions are hobbled by a long standing underinvestment in education. Ranked 69th out of 124 countries in a World Economic Forum Report on the Human Capital Index (a report examining how well countries made use of their human resources), it is notably behind many of the other countries in the region whom it will soon be partnering with. For example, Singapore was ranked 24th, the Philippines 46th, and Thailand in positon 57.

    If this position is permitted to continue long term, it will have ongoing consequences for the country’s development effort. It will become reliant on other countries within the ASEAN group for expertise and innovations will come only from abroad, not from home grown Indonesian companies and entrepreneurs. This will have serious problems for employment, already endemic among young Indonesians with as many as 1 in 5 under 25’s not in work or further education.

    Government Influence
     
    One problem currently faced by the country is that its higher education sectors are not producing graduates suitable to the needs of business and industry. For example, to build the infrastructure Indonesia needs an estimated 50,000 new engineers are needed every year. Currently however, Indonesia produces only 30,000. Businesses also struggle to source managers and professionals which will hurt competitiveness further as the country becomes a part of ASEAN.

    Much of this stems from the huge desirability of teaching jobs in the country in recent years. Following the passing of the Teacher Act in 2005, Indonesian graduates who train, qualify and go on to work as teachers are entitled to an allowance of up to 100% of the salary of a newly qualified teacher. As a consequence, the majority of Indonesians University students are enrolled in some form of teach training alongside their studies and 1 in 5 is enrolled in a subjects deemed advantageous to a job as a teacher such as law, social science or economics.

    Though this has caused a disparity for the time being, creating a new army of teachers is seen as the essential first step to building a modern educational system throughout Indonesia. This has been backed up by a huge increase in the amount of funds allocated to education to US $2.67 Billion dollars.

    Further expansion plans are equally as ambitious. The government wants to have a community college in every district in the country, to triple the number of students in technical programmes, increase the number of doctoral students five-fold by 2025 and to drastically increase the pool of students suitable and ready for higher education.

    Topping all of this is the Indonesian Governments plan to create a new national body, the Ministry of Research, Technology and Higher Education.  With an approximate budget of US$ 3.2 Billion dollars and a presidential mandate, this new ministry is intended to be the main thrust of Indonesia’s efforts to boost its education achievement.

    The new Ministry is founded from a merger between the two prior ministries that of Education and Culture and the other of Research and Technology. By bringing these together into one singly body the aim is to create a focal point that leads the way for future investment and policy development.  One example of this is the creation of a new higher education body to oversee both public and private sector higher education institutions. Previously there was a separate body overseeing the 3000 private sector institutions but now they will all be held to the same standards under one body.

    New Opportunities

    All of this provides significant opportunities for educational providers from outside the country who are able and willing to align themselves with the Indonesian national ambition for improving education in the country.

    Outside bodies can find significant opportunity in providing training and skills in sectors that the Indonesian system does not yet have sufficient capacity for. Furthermore new and existing colleges and universities throughout the country will be eagerly looking for international partners for student exchanges, study programmes and more.

    With the entire region poised for an economic renaissance on the back of the ASEAN foundations, it’s a great time for educators looking to expand to consider the region and separate countries like Indonesia especially.

    International migration of international students is now at an unprecedented level. No longer is this the domain of countries such as UK, Australia, USA, Canada and New Zealand but students are now looking at study options in Malaysia, Singapore, China, Ukraine, Russia, Greece, Cyprus and most of the EU countries.

    This is giving the student a wider choice in relation to a range of subjects, entrance criteria, cost, types of institution and cultural experience.

    The market is growing, but so to is the number of educational institutions seeking to recruit these students.

    Unfortunately, the unethical behaviour of some international colleges is causing major problems for students, parents and sponsors.

    It is very difficult for students to get a realistic and honest picture of what an institution is really like in terms of quality, resources, student support and ethics.

    ASIC has been formed to bring this independent information to the student population through its accreditation service with well defined and objective benchmarking.

    Accreditation through ASIC will help the student and parent make a more informed choice and will also help a college/university demonstrate to the marketplace that they are a high quality institution.

    Following widespread and increasing concern over the behaviour of some international independent and private colleges, the UK Government identified the need for a more rigorous system for accrediting education institutions involved in recruiting overseas students. Accordingly, a proposal for the mandatory accreditation of education providers, wishing to bring overseas students into the UK, was included in the Government’s Command Paper “A Points Based System: Making Migration Work for Britain”.

    In response to this proposal QISAN together with a number of professional practitioners with considerable experience in recruiting international students for universities, further education colleges and schools/EFL colleges and in establishing collaborative arrangements with overseas institutions and UK partners, have established an embryo accrediting body, namely ASIC.

    Given our experience, we are well aware of:

    The existence of colleges, which appeared to focus largely on bringing young people into the UK as potential students, but whose main aim was to become an illegal economic immigrant,
    Colleges which, although genuine educational institutions, provided their students with a poor experience, sometimes placing them on inappropriate programmes,

    Quite reputable colleges, and indeed some universities, which were not well prepared to cater for all of the needs of international students.

    ASIC, therefore fully recognises the pressing need for a robust and transparent approach to ensuring that colleges, to the best of their ability, only recruit genuine and appropriately qualified students and that they provide the best possible student experience in terms of the students achieving their maximum academic potential whilst having their social and pastoral needs fully addressed.

    Ongoing development with the accredited colleges will incorporate such topics as training and monitoring the work of agents, high-quality and ethical recruitment methods, development of admission systems and assistance in the development of codes of practice and ethics policies.

    ASIC has identified the following Areas of Operation, which will each be assessed and given a grade of Commendable, Satisfactory or Unsatisfactory. These grades will not only be taken into account in deciding whether or not to award accreditation to a college, but will also be helpful in enabling students to make informed choices on where they might study.

    Areas of Operation:

    A. Premises and Health and Safety
    B. Management and Staff Resources
    C. Learning and Teaching; Course Delivery
    D. Quality Assurance and Enhancement
    E. Student Welfare
    F. Qualifications and Awards
    G. Marketing and Student Recruitment
    H. Relationship with Government Offices and Reporting Mechanisms
    Detailed descriptions of these areas can be found on Page 12, Section 4.2, of the Accreditation Handbook.
    Accredited Colleges are entitled to use the ASIC logo and any promotional materials produced by ASIC as long as they retain their accreditation.

    , ,

    ELVIPS.COM - Sebuah solusi kreatif dan inofatif berhasil digagas oleh Dosen Arsitek Universitas Muhammadiyah Surabaya, Gunawan, berhasil menciptakan konstruksi jembatan yang bisa menggantikan posisi jalan tol. Bahkan bentangan jembatan ini tidak saja efisien, tapi juga bervisi ke depan untuk membangun kota.
    Selain bisa mengatasi masalah kemacetan, konstruksi jembatan tersebut juga dirasa mampu menjadi alternatif bentangan jalan baru. Apalagi saat pertumbuhan kendaraan dengan kondisi jalan sangat tak berimbang. Oleh pencipta desain konstruksinya, jembatan itu dinamakan Jembatan An Nahl atau Jembatan Sarang Lebah.
    Bentangan jalan yang mirip terowongan dengan bentuk segi enam. Persis seperti rumah lebah. Terowongan itu bahkan bisa saja didesain tumpuk. Jalur utama atau tengah lebarnya antara 6 – 8 meter. Dengan ketinggian di atas 5 meter.
    “Jalur utama atau tengah bisa untuk jalur mobil.sedang kanan kirinya bisa untuk kereta,” kata Gunawan, saat memaparkan karyanya di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (5/11/2015).
    Saat ini, Pemkot bersama pusat tengah mematangkan proyek monorail. Bahkan saat ini juga telah digagas kereta Mass Rapid Tansit (MRT).
    Dengan mengadopsi jembatan An Nahl itu, semua moda transportasi perkotaan bisa diatasi. Bahkan di bawah tiang utama jembatan sarang lebah itu bisa untuk lahan parkir.
    Termasuk untuk kegiatan ekonomi warga.
    “penuh syukur, Kemenkumham telah mematenkan karya kami. Tapi ini masih predesign. Saya meyakini, konstruki dengan jembatan ini bisa mengatasi semua persoalan transportasi kota. Termasuk macet. Jalur motor juga bisa tarakomodasi di jembatan ini,” ujar Gunawan yang juga Dekan Fakultas Teknik UMSurabaya.
    AlumnUS ITS ini mengakui bahwa dari segi kuantias kendaraan bisa ditampung semua. Namun paling ideal, desain jembatan An Nahl itu dibangun menggantikan jalur rel kereta. Kereta bisa melintas di sisi kanan atau kiri. Konstruksi ini juga bisa dibangun di atas sungai.
    Gunawan mengklaim bahwa konstruksi ini sangat efisien. Tak perlu ada pembebasan lahan dan mengakomodasi semua moda transportasi darat.
    “Setiap 1 km ruas jalan berlorong nanti kira-kira cukup dengan Rp 500 miliar. Lorong ini bisa hanya pengaman saja,” tambah Gunawan.
    Jembatan Sarang Lebah ini bisa disebut jalan tol multifungsi dan multi ruas. Sangat futuristik dan berwawasan ke depan. Sebab, moda transpportasi massal kelak akan sangat didorong. Temuan desain ini adalah semacam konfigurasi yang terinspirasi sarang lebah.
    Nantinya, konstruksi itu bisa mengadopsi kerja lebah dengan sistem gotong royong. Semua masyarakat transportasi bisa dilibatkan dengan membentuk koperasi masyarakat transpotasi. Konstruksi ini juga bisa menjadi altenatif saat Surabaya menrencanakan tol tengah kota.
    Desain jembatan dengan tiga heksagonal itu telah mendapat sertifikat desain industri dari
    Kemenkumham. Gunawan mengerjakan desain itu bersama rekannya Muh Sjamsul Arifin.
    Serifikat ini berlaku 10 tahun. Sertifikat itu ditandatangani Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Direktur Hak Cipta Desain Industri.
    Desain jalan itu dinalai tidak hanya kuat, tapi memiliki estetika kota. Gunawan mengklaim bahwa desainnya cukup visibel. Tidak sulit untuk diterapkan. Meski demikian itu baru predesign. Nanti masih perlu detail engineering design (DED) untuk mengadopsi konstruksi itu.(Us)


Top