.

.

.

.

.

    , , , , , , , ,

    ELVIPS.COM - DPR lewat rapat paripurna sudah mengesahkan Perppu 2/2017 tentang Ormas menjadi UU. Mari melihat kembali perppu yang diterbitkan Presiden Joko Widodo pada Juli 2017. 

    Perppu Ormas merupakan perubahan atas UU 17/2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Ada sederet hal baru di Perppu Ormas ini. 

    Ketentuan yang diatur dalam Perppu Ormas yang diteken Presiden Joko Widodo pada Senin, 10 Juli, memperluas unsur larangan untuk ormas. Larangan yang lebih luas dari aturan sebelumnya di antaranya soal definisi paham yang bertentangan dengan Pancasila.

    Selain itu, Menteri Hukum dan HAM punya kewenangan langsung membubarkan ormas anti-Pancasila tanpa jalur pengadilan. Untuk mencabut status badan hukum ormas anti-Pancasila, Menteri Hukum dan HAM hanya melewati dua sanksi administratif.

    Pencabutan status badan hukum ditegaskan Perppu Ormas bersifat langsung. Pencabutan status badan hukum yang sama dengan pembubaran ormas ini dapat dilaksanakan Menteri Dalam Negeri atau Menteri Hukum dan HAM terhadap ormas yang asas dan kegiatannya nyata-nyata mengancam kedaulatan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

    Pada Selasa (24/10/2017) hari ini, Perppu Ormas diketok menjadi UU saat rapat paripurna DPR. Ada tujuh fraksi yang setuju, yaitu PDIP, Golkar, PKB, PPP, NasDem, Hanura, dan Demokrat. Tiga fraksi yang tidak setuju adalah Gerindra, PKS, dan PAN. 

    Berikut isi lengkap Perppu Ormas yang kini sudah sah jadi UU:

    , , , , , ,

    ELVIPS.COM - Saya pernah baca buku tentang sejarah Nazi untuk menjawab pertanyaan ini, tapi saya lupa judul bukunya. Dan pertanyaan ini erat kaitannya dengan peristiwa genosida terhadap bangsa Yahudi (dikenal dengan Holokaus). Meskipun sejarah tentang hal ini masih simpang siur dan saya tidak bisa memastikan kebenaran yang sesungguhnya kerena belum lahir ketika itu. Tapi, saya tetap mencoba menjawab berdasarkan beberapa referensi yang saya dapatkan.
    Berawal dari sebuah legislasi yang memuat sebuah “Ayat Arya”, tentang penyingkiran orang-orang Yahudi yang diundangkan oleh Adolf Hitler ketika menjabat sebagai kanselir pada bulan April 1933. Maka, semua pegawai pemerintah harus memperlihatkan dokumentasi ihwal keturunan “Arya” mereka. Untuk pertama kalinya, sebuah legislasi menetapkan siapa yang dianggap orang Yahudi. Para pegawai yang diketahui keturunan Yahudi dicopot dari jabatannya. Orang Yahudi yang ikut berperang di lini depan selama Perang Dunia I atau yang anggota keluarga dekatnya gugur di dalam konflik dibebaskan dari aturan ini sampai tahun 1935, setelah itu mereka pun dicopot dari jabatannya. 
    Mulai dari tanggal 17 Agustus 1938, semua orang Yahudi di Jerman diharuskan menambahkan namanya dengan nama Yahudiah. Laki-laki wajib menambahkan "Israel" dan perempuan "Sara." Pada bulan Oktober, pemerintah Jerman menyita semua paspor yang dipegang oleh orang Yahudi. Paspor baru yang diberikan kepada orang Yahudi memiliki cap huruf "J," yang menandakan bahwa si pemegang paspor adalah orang Yahudi.
    Pada 19 September 1941, ditetapkan aturan bagi orang Yahudi berusia di atas enam tahun di Jerman diwajibkan untuk setiap waktu memakai bintang enam-titik berwarna kuning bertuliskan kata "Jude" ("Yahudi" dalam bahasa Jerman) dalam warna hitam yang melintang di bagian muka, yang dijahit pada baju luar. Setelah itu orang Yahudi di Jerman pun dapat dikenali secara visual. Deportasi secara sistematis kaum Yahudi dari Jerman dimulai pada bulan Oktober. Pada bulan Maret 1942, orang Yahudi juga diharuskan memperlihatkan lambang bintang tersebut di tempat tinggal mereka.
    Dengan demikian, pejabat Jerman dapat mengidentifikasi orang-orang Yahudi yang tinggal di Jerman melalui catatan sensus, pengembalian pajak, daftar anggota sinagoge (tempat ibadah orang Yahudi), catatan paroki (untuk orang Yahudi yang telah dikonversi), formulir pendaftaran polisi yang rutin tapi wajib, pertanyaan dari saudara, dan dari informasi yang diberikan oleh tetangga dan pejabat. Untuk wilayah yang diduduki oleh Nazi Jerman atau mitra Axisnya, orang-orang Yahudi sebagian besar diidentifikasi melalui daftar anggota masyarakat Yahudi, surat identitas individu, dokumen sensus yang didapatkan, catatan polisi, dan jaringan intelijen lokal.

    , ,


    ELVIPS.COM - Pendaftaran SBMPTN telah ditutup pada 22 Mei 2016, kini saat nya adik-adik mempersiapkan diri dan mental dalam menghadapi ujian SBMPTN 2016. Nah, ada info menarik seputar selesainya pendaftaran SBMPTN tahun ini, adalahUNPAD yang masih menjadi primadona pilihan PTN terbanyak pada tahun ini, selain itu UVJ juga sangat menarik diketahui karena masih tergolong Universitas yang tergolong baru negeri dan baru tergabung pada SBMPTN. Berikut ini adalah 15 PTN dengan pendaftar terbanyak tahun ini, apakah salah satunya masuk ke dalam PTN favorit adik-adik ??

    PTN Dengan Pendaftar Terbanyak Pada SBMPTN 2016/2017

    1. Universitas Padjajaran
    2. Universitas Sumatera Utara
    3. Universitas Brawijaya
    4. Universitas Veteran Jakarta
    5. Universitas Indonesia
    6. Institut Teknologi Bandung
    7. Universitas Diponegoro
    8. Universitas Negeri Surabaya
    9. Universitas Gadjah Mada
    10. Universitas Andalas
    11. Universitas Pendidikan Indonesia
    12. Universitas Hasanuddin
    13. Universitas Airlangga
    14. Universitas Negeri Medan
    15. Universitas Negeri Jakarta

    Demikianlah informasi seputar PTN yang paling banyak pendaftar pada SBMPTN 2016/2017, semoga informasi ini bermanfaat bagi adik-adik dan dapat memacu motivasi serta semangat dalam menghadapi ujian sbmptn tahun ini.
    posted from Bloggeroid

    , , , , ,


    ELVIPS.COM - Balapan Formula 1 di Sirkuit Bahrain, Minggu (3/4/2016) malam telah usai, dan Rio Haryanto tetap jadi sorotan para pebalap dunia.

    Selain karena Rio pendatang baru, juga karena kemampuan Rio Haryanto menggeber Mobil Manor Racing MRT05 hingga batas maksimum kecepatan.

    Ini terjadi saat balapan memasuki lap ke lima.

    Kala itu Rio memacu mobilnya hingga kecepatan 327,7 kilometer per jam.

    Saat itupula kemampuan Rio ini direkam oleh tim Formula 1, dan jika dibandingkan dengan pebalap yang lain Rio berada di urutan pertama.

    Lihat gambar di bawah ini seperti dilansir oleh Formula 1:





    Dari data di atas, juara dunia Formula 1 tiga kali Lewis Hamilton ada di urutan ke tujuh dengan 318,1 km/jam.

    Sementara, pemenang balapan seri Bahrain, Rosberg yang juga rekan satu tim Hamilton di Marcedes di urutan ke delapan, yakni 313,9 km/jam.

    Selain itu, kali ini Rio juga berhasil mencapai finish. Dia melahap habis 57 lap yang ada meski finish di urutan ke 17, atau paling buncit.


    Dari data di atas, juara dunia Formula 1 tiga kali Lewis Hamilton ada di urutan ke tujuh dengan 318,1 km/jam.

    Sementara, pemenang balapan seri Bahrain, Rosberg yang juga rekan satu tim Hamilton di Marcedes di urutan ke delapan, yakni 313,9 km/jam.

    Selain itu, kali ini Rio juga berhasil mencapai finish. Dia melahap habis 57 lap yang ada meski finish di urutan ke 17, atau paling buncit.

    Hasil ini tak terlalu buruk, karena ada lima pebalap, termasuk dua pebalap andalan Ferari tak bisa melanjutkan balapan mereka.

    Ini hasil lengkap Formula 1 seri Bahrain:



    Torehan Rio di Bahrain

    Pembalap Indonesia Rio Haryanto akhirnya bisa memenuhi targetnya untuk melihat kibaran bendera finish pada balapan di Bahrain, Minggu malam (3/4), balap putaran kedua ini dimenangkan Nico Rosberg.

    Start dari posisi kedua, pembalap tim Mercedes Nico Rosberg berhasil memenangkan putaran kedua balap F1 2016 di Bahrain, Minggu malam (3/4), ini kemenangan kelima beruntun sejak akhir musim lalu.

    Nico Rosberg memperpanjang kemenangan beruntun dalam lima balapan berturut-turut sejak GP Meksiko, Brasil, Abu Dhabi tahun lalu, berlanjut di Australia dan Bahrain musim ini.

    Kemenangannya di Bahrain tak lepas dari masalah yang dialami rekan setimnya Lewis Hamilton yang telat start dari pole position.

    Kemudian ia bersenggolan dengan pembalap Williams Valtteri Bottas di tikungan pertama yang membuatnya berada di posisi tujuh di awal lomba.

    Juga tidak hadirnya pembalap Ferrari Sebastian Vettel yang gagal start setelah mesinnya meleduk pada lap pemanasan.

    Alhasil tinggal Kimi Raikkonen yang melakukan perlawanan terhadap pembalap Mercedes.

    Laju Rosberg tidak terbendung sejak start hingga finish di lap 57.

    Kimi yang berada di belakangnya tidak bisa menandingi kecepatan mobil Rosberg.

    Sedangkan Hamilton yang berjuang dengan ujung sayap kanan rusak akibat bentrokan dengan Bottas tadi, masuk finish urutan tiga.

    Pembalap Red Bull Daniel Ricciardo juga mengalami kerusakan pada sayap depan di tikungan pertama.

    Tetapi bisa pulih untuk menyelesaikan keempat.

    Hasil fantastis diperlihatkan tim debutan asal Amerika, Haas.

    Setelah finish urutan enam di Australia lewat Romain Grosjean, kini pembalap asal Prancis itu finish lebih baik di urutan lima.

    Baru pertama kali ikut balap F1, Stoffel Vandoorne langsung meraih point.

    Sementara itu Rio Haryanto berhasil membuat sejarah sebagai pembalap F1 karena berhasil mencapai finsih untuk pertama kalinya.

    Start dari posisi 20, Rio yang mengemudikan mobil Manor MRT05 berhasil finish di urutan 17.

    Harapan Rio untuk bisa melihat kibaran bendera finish pun terwujud, setelah tidak finish di GP Australia.

    Di Bahrain ini Rio sempat berada di posisi 13 pada lap 11. Rekan setimnya Pascal Wehrlein finish urutan 13.

    Penampilan bagus diperlihatkan pembalap baru (rookie) Stoffel Vandoorne yang menggantikan tempat Fernando Alonso di tim McLaren.

    Juara GP2 2015 yang juga saingan Rio Haryanto tahun lalu ini masuk finish urutan 10 dan mendapat point pada penampilan perdananya.

    Hasil Lomba:

    1. Nico Rosberg GER Mercedes-Mercedes 57 laps 1h 33m 34.696s
    2. Kimi Raikkonen FIN Ferrari-Ferrari +10.2s
    3. Lewis Hamilton GBR Mercedes-Mercedes +30.1s
    4. Daniel Ricciardo AUS Red Bull-TAG Heuer +1m 02.4s
    5. Romain Grosjean FRA Haas-Ferrari +1m 18.2s
    6. Max Verstappen NED Toro Rosso-Ferrari +1m 20.9s
    7. Felipe Massa BRZ Williams-Mercedes +1 lap
    8. Valtteri Bottas FIN Williams-Mercedes +1 lap
    9. Daniil Kvyat RUS Red Bull-TAG Heuer +1 lap
    10. Stoffel Vandoorne BEL McLaren-Honda +1 lap
    11. Kevin Magnussen DEN Renault-Renault +1 lap
    12. Marcus Ericsson SWE Sauber-Ferrari +1 lap
    13. Pascal Wehrlein GER MRT-Mercedes +1 lap1
    14. Felipe Nasr BRZ Sauber-Ferrari +1 lap
    15. Nico Hulkenberg GER Force India-Mercedes +1 lap
    16. Sergio Perez MEX Force India-Mercedes +1 lap
    17. Rio Haryanto INA MRT-Mercedes +1 lap

    Tidak finish :

    Carlos Sainz Jr ESP Toro Rosso-Ferrari 29 laps completed
    Esteban Gutierrez MEX Haas-Ferrari 10 laps completed
    Jenson Button GBR McLaren-Honda 7 laps completed

    Tidak start :

    Dns Jolyon Palmer GBR Renault-Renault
    Dns Sebastian Vettel GER Ferrari-Ferrari

    , , ,

    ELVIPS.COM - Pembalap Mercedes, Nico Rosberg, menjadi yang tercepat dalam seri kedua Formula 1 musim 2016 di Bahrain International Circuit, Sakhir, pada Minggu, 3 April.

    Start di posisi kedua, Rosberg berhasil menjadi juara satu. Ia menyelesaikan balapan dengan waktu 1 jam 33 menit.

    Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Kimi Raikonnen dan Lewis Hamilton. Ricciardo dan Romain Grosjean membuntuti di peringkat keempat dan kelima.

    Rosberg juga menjuarai balapan di Melbourne, Australia, pada 20 Maret lalu.

    Sementara itu, pembalap asal Indonesia, Rio Haryanto, finish di posisi 17.

    Rio memulai balapan pada posisi 20 setelah hasil yang kurang memuaskan pada uji coba sebelum pertandingan. Namun dalam balapan hari ini, pemuda 23 tahun ini membuktikan kemampuannya untuk bersaing di antara pembalap-pembalap ternama dunia.

    Hasil ini merupakan perbaikan dari seri pertama di Melbourne ketika Rio gagal menyelesaikan balapan. Ketika itu, pemuda asal Solo tersebut harus keluar pada lap ke-18 saat kendaraan MRT05 yang dikendarainya bermasalah.

    Berkaca pada hasil di Melbourne, Rio pun tak memasang target muluk pada laga kali ini. Ia berkata hanya ingin melihat bendera finish berkibar.

    Rekan Rio di tim Manor Racing, Pascal Wehrlein, finish di posisi 13.

    Checkered flag! Absolutely stunning work from Pascal, staying hot on ERI's tail while leaving PER trailing in his wake! P13! Woo!

    Sebastian Vettel pun harus keluar lapangan bahkan sebelum balapan dimulai akibat mesin kendaraannya bermasalah.

    Selain Vettel, yang harus berhenti balapan premature adalah Jolyon Palmer, Jenson Button, Carlos Sainz Jr., dan Esteban Gutierrez.

    Berikut hasil balapan di Bahrain:

    Balapan F1 berikutnya akan dihelat di Shanghai International Circuit, Tiongkok, pada 15-17 April mendatang.

    , , , , ,

    Balap Mobil Formula 1 atau F1 musim ini tahun 2016 sudah di mulai pada tanggal 20 Maret 2016 kemarin. Seri pertama digelar di Australia. F1 musim ini terasa spesial bagi Indonesia karena kini kita memiliki wakil di balapan jet darat tersebut. Akan tetapi pembalap kita Rio Haryanto (Indonesia) tidak dapat mengikuti balapan sampai selesai dan memaksa dirinya untuk keluar dari lintasan yang di karenakan ada masalah pada transmisinya di lap 17.
    Seri pertama musim ini untuk kelasemen sementar di duduki oleh Nico Rosberg setelah bersaing dengan Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel yang finish di posisi 2 dan 3.
    Sesuai jadwal yang dirilis Global TV, race F1 akan start pada Minggu siang, 20 Maret 2016 pukul 12:00 WIB. Kabar gembira ini disampaikan akun Twitter Global TV secara resmi. Stasiun TV MNC Group ini juga mengonfirmasi bahwa selama musim 2016, pihak Global TV dan iNEWS akan menghadirkan tayangan langsung F1. “Bukan cuma Australia, F1 akan hadir di Global TV selama musim 2016. Kami menyiarkan secara langsung balapan atau race,”kata Agustinus Abimanyu selaku Acquisition Dept Head GlobalTV.
    Setelah race pertama di Australia, balapan F1 berlanjut ke GP Bahrain, China, Rusia, Spanyol, Monaco, Kanada, Austria, Inggris, Hongaria, Malaysia hingga Abu Dhabi pada 27 November 2016 sebagai race terakhir. Berikut update jadwal F1 2016 di Global TV.

    Jadwal Formula 1 2016

    SircuitDateLive Race
    GP Australia (Sirkuit Melbourne)20 Maret12:00 WIB
    GP Bahrain (Sirkuit Bahrain)3 April22:00 WIB
    GP China (Sirkuit Shanghai)17 April13:00 WIB
    GP Rusia (Sochi Autodrom)1 Mei19:00 WIB
    GP Spanyol (Sirkuit Barcelona-Catalunya)15 Mei19:00 WIB
    GP Monaco(Sirkuit Monte Carlo)29 Mei19:00 WIB
    GP Kanada (Sirkuit Gilles Villeneuve)13 Juni01:00 WIB
    GP Eropa/Azerbaijan (Sirkuit Baku)19 Juni20:00 WIB
    GP Austria (Red Bull Ring)3 Juli19:00 WIB
    GP Inggris (Sirkuit Silverstone)10 Juli19:00 WIB
    GP Hongaria (Hungroring)24 Juli19:00 WIB
    GP Jerman (Hockenheimring)31 Juli19:00 WIB
    GP Belgia (Sirkuit Spa-Francorchamps)28 Agustus19:00 WIB
    GP Italia (Sirkuit Monza)4 September19:00 WIB
    GP Singapura (Sirkuit Marina Bay)18 September19:00 WIB
    GP Malaysia (Sirkuit Sepang)2 Oktober14:00 WIB
    GP Jepang (Sirkuit Suzuka)9 Oktober12:00 WIB
    GP AS (Sirkuit Americas)24 Oktber02:00 WIB
    GP Meksiko (Autodromo Hermanos Rodriguez)31 Oktober02:00 WIB
    GP Brasil (Autodromo Jose Carlos Pace)13 November23:00 WIB
    GP Abu Dhabi (Sirkuit Yas Marina)27 November20:00 WIB
    Untuk siarannya bisa kamu saksikan tidak hanya di Global TV saja, melainkan ada di chanelI news juga, jadwal sesuai tabel di atas.

    , , , , ,


    ELVIPS.COM - Shandra Woworuntu, dari korban perdagangan manusia, menjadi aktivis pembela hak-hak perempuan dan anak-anak.

    Saat Shandra Woworuntu menginjakkan kakinya di AS, ia berharap bisa memulai karir baru di industri perhotelan. Namun ia justru dijerumuskan ke dunia prostitusi dan perbudakan seksual, dipaksa mengkonsumsi obat-obatan dan mengalami kekerasan. Setelah berhasil kabur, polisi mengabaikan laporannya, dan Konsulat RI juga menolak memberinya bantuan hingga ia jadi gelandangan. Kisah ini mungkin akan tak tertahankan bagi sebagian pembaca.

    Saya tiba di Amerika Serikat pada minggu pertama bulan Juni 2001. Bagi saya, Amerika adalah sebuah tempat yang menjanjikan dan memberikan peluang. Saat saya melangkah menuju imigrasi saya merasa senang berada di sebuah negara baru, meskipun secara ganjil terasa akrab juga karena sudah mendapat gambaran dari yang dilihat di TV dan film-film.

    Di bagian kedatangan saya mendengar nama saya dipanggil, lalu saya melihat seorang pria yang tengah memegang sebuah plakat dengan foto saya. Tetapi, bukan soal foto yang saya pedulikan. Agen penyalur kerja di Indonesia menyuruh saya mengenakan pakaian yang terbuka, 'tank top' atau kaus tanpa lengan. Orang yang memegang plakat itu tersenyum hangat. Namanya Johnny, dan saya menyangka ia akan mengantarkan saya ke hotel tempat saya akan bekerja nanti.

    IKLAN

    Pada kenyataannya hotel itu berada di Chicago, sementara saya tiba di bandara JFK di New York yang jaraknya hampir 1250km, ini menunjukkan betapa naifnya saya. Saya berumur 24 tahun kala itu dan tidak tahu dunia apa yang saya masuki ini.

    Usai lulus univrsitas di bidang keuangan, saya bekerja pada sebuah bank internasional di Indonesia sebagai seorang analis keuangan dan perdagangan. Tapi pada tahun 1998, Indonesia dilanda krisis keuangan yang menerjang Asia, dan tahun berikutnya Indonesia jatuh ke dalam kekacauan politik. Lalu, saya pun kehilangan pekerjaan.

    Image copyrightShandra WoworuntuImage captionShandra berdiri tepat di sebelah kanan pria yang berada di tengah.

    Saya mulai mencari pekerjaan di luar negeri untuk menghidupi putri saya yang berusia tiga tahun. Waktu itu saya melihat sebuah iklan di sebuah surat kabar yang mencari peminat untuk bekerja di industri perhotelan di hotel-hotel besar di Amerika Serikat, Jepang, Hong Kong dan Singapura. Saya memilih tujuan Amerika Serikat, dan melamar.

    Persyaratan yang harus saya penuhi adalah bisa berbicara sedikit bahasa Inggris dan membayar biaya sebesar Rp30 juta (pada tahun 2001). Proses perekrutan begitu panjang, dengan banyak wawancara. Sebagai persyaratan lain, mereka juga meminta saya untuk menunjukkan cara berjalan, naik turun tangga, dan tersenyum.

    "Layanan pelanggan adalah kunci untuk pekerjaan ini," saya diberitahu saat itu.

    Saya menjalani semua tes dan lulus, lalu saya mengambil pekerjaan itu. Rencananya ibu dan kakak saya yang akan merawat gadis kecil saya saat saya bekerja di luar negeri selama enam bulan, dengan penghasilan US$5.000 per bulan (atau sekitar Rp66 juta). Setelahnya, saya akan pulang untuk membesarkan putri saya.

    Saya tiba di bandara John F. Kennedy bersama empat perempuan lainnya dan seorang pria, lalu kami dibagi menjadi dua kelompok. Johnny mengambil semua dokumen-dokumen saya, termasuk paspor saya, lalu ia membawa saya dan dua wanita lainnya masuk ke dalam mobilnya.

    Itu adalah saat ketika segalanya mulai tampak aneh.

    Image copyrightShandra WoworuntuImage captionRumah bordil di Brooklyn, tempat Shandra dibawa untuk pertama kalinya saat menginjakkan kaki di AS.

    Sopir menempuh jalan pintas ke Flushing di Queens, sebelum kemudian mengarah ke sebuah tempat parkir dan menghentikan kendaraannya. Johnny mengatakan kepada kami bertiga untuk keluar dan masuk ke mobil lain dengan sopir yang berbeda pula.

    Kami melakukan apa yang diperintahkan. Dan melalui jendela mobil, saya melihat Johnny memberi uang kepada sopir yang baru. Saya pikir, "Ada yang tidak beres di sini," namun saya kembali berkata pada diri sendiri sendiri untuk tidak khawatir, bahwa itu mestinya merupakan cara jaringan hotel berbisnis dengan perusahaan yang mereka gunakan untuk menjemput orang dari bandara.

    Tapi sopir baru pun tidak membawa kami terlalu jauh. Ia malah memarkir kendaraan di halaman sebuah restoran, dan lagi-lagi kami harus keluar dari mobil dan pindah ke mobil lain, setelah memberi uang kepada sopir lain. Kemudian sopir ketiga membawa kami ke sebuah rumah, dan kami diserah-terimakan lagi.

    Sopir keempat ini membawa pistol. Ia memaksa kami untuk masuk ke dalam mobil dan membawa kami ke sebuah rumah di Brooklyn, lalu ia mengetuk pintu, memanggil "Mama-san! Gadis baru!"

    Pada saat itu saya langsung panik, karena saya tahu 'Mama-san' berarti mami-mami germo rumah bordil. Tapi kami tidak bisa apa-apa, karena ditodong pistol.

    Pintu terbuka dan saya melihat seorang gadis kecil, mungkin usia 12 atau 13 tahun, tergeletak di lantai.

    Ia berteriak saat sekelompok pria menendangnya bergantian. Darah terlihat mengalir dari hidungnya, ia melolong, menjerit kesakitan. Salah satu pria tersenyum dan mulai memainkan tongkat baseball di depan saya, seolah-olah itu adalah peringatan.

    Dan hanya beberapa jam setelah kedatangan saya di AS, saya dipaksa untuk melakukan seks.

    Saya sangat ketakutan, tapi sesuatu terbersit di pikiran saya - semacam naluri untuk bertahan hidup. Saya mempelajarinya saat menyaksikan tindak kekerasan pertama.

    Keesokan harinya, Johnny muncul dan meminta maaf panjang lebar atas segala yang telah terjadi pada kami setelah berpisah. Ia mengatakan pasti ada kekeliruan. Hari itu kami akan difoto untuk kartu identitas, dan kami akan dijemput untuk membeli seragam, dan kemudian kami akan pergi ke hotel di Chicago untuk mulai bekerja.

    "Kita akan baik-baik saja," katanya, sambil mengusap punggung saya. "Hal ini tidak akan terjadi lagi." Saya percaya padanya. Setelah hal-hal buruk yang baru saja saya alami ia seperti malaikat bagi saya. "OK," kata saya. "Mimpi buruk sudah berakhir. Sekarang saya akan pergi ke Chicago untuk memulai pekerjaan saya."

    Seorang pria datang dan membawa kami ke sebuah studio foto, untuk difoto, kemudian ia mengantar kami ke sebuah toko untuk membeli seragam. Tapi itu sebuah toko lingerie, yang dipenuhi pakaian-pakaian seksi yang terlihat minim, berenda, sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Pakaian-pakaian yang bukanlah 'seragam.'

    Lucu juga mengingat kembali kejadian itu. Saya tahu saya sedang dibohongi dan situasi saya penuh bahaya. Saya ingat saat melihat sekeliling toko itu, bertanya-tanya jika saya bisa menyelinap pergi, menghilang. Tapi saya takut dan saya tidak kenal siapa pun di Amerika, saya pun enggan untuk meninggalkan dua perempuan Indonesia lainnya. Saya kembali, dan melihat mereka cukup menikmati kesempatan berbelanja itu.

    Lalu saya menoleh kepada pengawal saya, ia menyembunyikan senjatanya, dan tengah memperhatikan saya. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan kepada saya untuk tidak coba-coba melakukan sesuatu.

    Lalu pada hari itu kelompok kami berpisah dan hanya sesekali saya melihat dua perempuan itu lagi. Saya dibawa pergi dengan mobil, bukan ke Chicago, tapi ke sebuah tempat di mana para sindikat penjualan orang memaksa saya untuk melakukan seks.

    Image copyrightShandra WoworuntuImage captionShandra dan tiga korban perdagangan lainnya di dekat rumah bordil di Connecticut. Mereka disuruh untuk berpose.

    Para penyelundup manusia itu berasal dari Indonesia, Taiwan, Malaysia Cina dan Amerika. Hanya dua dari mereka yang bisa berbicara bahasa Inggris - sebagian besar dari mereka hanya akan menggunakan bahasa tubuh, mendorong-dorong, dan menggunakan kata-kata kasar.

    Satu hal yang paling membuat saya bingung dan ketakutan malam itu, dan terus membebani saya di minggu-minggu berikutnya, adalah bahwa salah satu dari mereka memiliki lencana polisi. Sampai hari ini saya tidak tahu apakah ia benar-benar seorang polisi.

    Mereka bilang saya berutang kepada mereka sebesar US$30.000 (atau sekitar Rp400juta dengan kurs sekarang) dan saya harus mengangsur utang senilai US$100 setiap kali melayani seorang pria.

    Selama berminggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya, saya dibawa pulang pergi ke rumah bordil yang berbeda-beda, apartemen-apartemen, hotel-hotel dan kasino-kasino di Pantai Timur. Saya jarang berada di tempat yang sama dalam dua hari, dan saya tidak pernah tahu di mana saya berada atau ke mana saya pergi.

    Rumah-rumah bordil ini tampak seperti rumah-rumah biasa dari luar dan ada diskotek di dalamnya, dengan lampu kelap-kelip dan musik hingar bingar. Kokain, shabu-shabu dan ganja diletakkan di atas meja.

    Para bandit itu menyuruh saya mengkonsumsi narkoba di bawah todongan senjata, dan mungkin itu yang bisa membuat saya bbisa mengatasi paksaan seksual itu. Siang dan malam, saya hanya minum bir dan wiski karena hanya minuman itu yang ditawarkan. Saya tidak tahu waktu itu bahwa di Amerika kita bisa minum air keran.

    Selama dua puluh empat jam dalam sehari, kami gadis-gadis menghabiskan waktu dengan duduk-duduk, dalam keadaan benar-benar telanjang, menunggu para pelanggan. Jika tidak ada yang datang maka kami bisa tidur sebentar, meskipun tidak pernah di ranjang. Tapi ketika pelanggan sepi juga merupakan saat yang digunakan para penyelundup manusia itu untuk memperkosa kami.

    Jadi kami harus tetap waspada. Tidak ada yang bisa ditebak.

    Meski saya menjaga kewaspadaan, saya seakan mati rasa, dan tidak bisa menangis. Diliputi kesedihan, kemarahan, kekecewaan, saya hanya bisa melakukan apa yang telah diperintahkan, dan berusaha keras untuk bertahan hidup.

    Image copyrightShandra WoworuntuImage captionShandra berfoto bersama pria terakhir yang menjualnya.

    Saya ingat saat melihat gadis kecil yang dipukuli, dan saya juga melihat para penjahat itu menyakiti perempuan-perempuan lainnya jika mereka membuat masalah atau menolak melakukan seks. Pistol, pisau dan pemukul bisbol menjadi peralatan yang digunakan silih berganti.

    Mereka memberi saya julukan 'Candy.' Semua perempuan yang diperdagangkan berasal dari Asia - selain dari Indonesia, ada juga gadis-gadis dari Thailand, Cina dan Malaysia. Ada pula para wanita yang bukan merupakan budak seks. Mereka adalah pelacur yang mencari penghasilan dan tampaknya bisa bebas untuk datang dan pergi.

    Hampir setiap malam, sekitar tengah malam, salah seorang anggota sindikat membawa saya ke sebuah kasino. Mereka akan mendandani saya supaya terlihat bagai putri. Mucikari saya akan memakai setelan hitam dan sepatu hitam mengkilat, dan berjalan diam-diam di samping saya seperti pengawal saya, sambil menodongkan pistol ke punggung saya setiap waktu. Kami tidak melewati lobi, tapi melalui pintu masuk staf dan lift khusus untuk layanan binatu.

    Saya ingat pertama kali diantar ke kamar hotel kasino, saya pikir mungkin saya bisa lari. Tapi rupanya salah seorang anggota sindikat menunggu saya di koridor. Ia menunjukkan ke kamar sebelah, lalu kamar berikutnya dan seterusnya. Saya berada di setiap kamar selama empat puluh lima menit, malam demi malam, mucikari selalu menunggu di balik pintu kamar.

    Saya selalu patuh, makanya saya tidak pernah dipukuli oleh para mucikari. Tapi para pelanggan sangat kejam. Beberapa dari mereka tampak seperti anggota mafia Asia, tetapi ada juga orang kulit putih, orang hitam, dan orang-orang Hispanik. Ada orang-orang tua dan mahasiswa. Saya adalah milik mereka selama 45 menit dan saya harus melakukan apa yang mereka katakan, kalau tidak mereka akan menyakiti saya.

    Image copyrightLes Menocal

    Apa yang saya alami sungguh berat menyakitkan. Secara fisik, saya lemah. Para mucikari hanya memberi saya makan sup dan nasi dan acar, dan saya lebih sering menkonsumsi obat-obatan. Ancaman kekerasan yang terus menerus, dan keharusan tetap waspada, itu juga sangat melelahkan.

    Satu-satunya yang menjadi milik saya - diluar 'seragam' yang saya kenakan - adalah sebuah tas kecil, yang berisi kamus, sebuah Alkitab kecil, dan ada beberapa bolpen juga buku-buku permainan yang saya curi dari kamar hotel, dengan nama-nama kasino di dalamnya.

    Saya juga menyimpan sebuah buku harian, sesuatu yang saya lakukan sejak saya masih kecil. Saya menulis dalam bahasa campuran Indonesia, Inggris, Jepang dan simbol-simbol, saya mencoba untuk mencatat apa yang sudah saya lakukan, ke mana saya pergi, berapa orang yang sudah bersama saya, tanggal berapa. Saya melakukannya sebisa mungkin meskipun hal itu sulit karena saya tidak bisa membedakan siang atau malam jika sudah berada di dalam rumah bordil.

    Saya selalu berpikir untuk melarikan diri, tapi peluangnya sangat langka.

    Pada suatu malam saya disekap di sebuah loteng rumah bordil di Connecticut. Kamarnya memiliki jendela yang bisa saya buka, lalu seprei dan pakaian saya susun menjadi tali, lalu mengikatnya ke kusen jendela, saya mencoba turun menggunakan tali. Tapi begitu saya sampai di ujung tali, jarak antara tali dan tanah masih terlalu jauh. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali memanjat lagi.

    Image copyrightShandra WoworuntuImage captionSejumlah kartu nama orang-orang yang telah membantu Shandra terlepas dari kasus perbudakan seks.

    Lalu suatu hari saya dibawa ke rumah bordil di Brooklyn, tempat saya pertama kali menginjakkan kaki di Amerika Serikat. Saya bersama seorang gadis Indonesia berumur 15 tahun bernama Nina, dan kami pun menjadi teman. Ia adalah seorang gadis cantik dan manis dan selalu bersemangat. Sekali waktu ia menolak untuk melakukan apa yang diperintahkan, lalu mucikari memelintt tangannya, dan ia berteriak kesakitan.

    Kami mengobrol dengan perempuan lain yang berada di rumah bordil itu, ia merupakan "pelacur kelas atas," yang artinya ia memimpin kami. Ia bersikap baik, dan mengatakan kalau kami bisa keluar dari rumah bordil, kami harus menghubungi seorang pria ini yang akan mencarikan kami pekerjaan yang layak, dan kami bisa menghemat uang untuk pulang. Saya mencatat nomornya dalam secarik kertas dan menyimpannya.

    Dan saat ia tengah membicarakan soal utang kami sebesar US$30.000 yang harus kami lunasi kepada para mucikari - saya mulai panik. Saya yakin saya akan mati sebelum saya bisa melayani 300 pria. Saya memejamkan mata dan berdoa semoga ada yang bisa menolong.

    Tidak lama setelah itu, di kamar mandi dan melihat sebuah jendela kecil. Sekrupnya tertutup, tapi Nina dan saya berupaya membukanya, dan tangan saya gemetar, saya menggunakan sendok untuk membuka selot secepat mungkin. Kemudian kami memanjat lewat jendela dan melompat turun di sisi lain.

    Kami menelepon nomor yang diberikan perempuan itu dan seorang pria Indonesia terdengar menjawab telepon kami. Sama seperti yang dikatakan perempuan tadi, ia berjanji untuk membantu kami. Kami sangat bersemangat. Dia bertemu kami dan membayar biaya menginap di sebuah hotel, lalu ia berkata agar kami menunggu di sana sampai dia bisa menemukan pekerjaan untuk kami.

    Ia mengurus kami, membelikan kami makanan, pakaian dan lain-lain. Tapi setelah beberapa minggu, dia menyuruh kami tidur dengan sejumlah pria di hotel. Lalu ketika kami menolak, ia pun menelepon Johnny untuk datang dan menjemput kami. Ternyata ia juga merupakan anggota sindikat lainnya, pria itu, pelacur kelas atas, dan yang lainnya rupanya bekerja sama.

    Akhirnya saya menemukan sebuah keberuntungan.

    Image copyrightShandra WoworuntuImage captionSeorang anak perempuan di Indonesia tengah membaca buku komik yang memperingatkan tentang perdagangan manusia.

    Di dekat hotel, sebelum Johnny tiba, saya berhasil kabur dari mucikari baru saya dan melarikan diri ke jalan, hanya memakai sandal dan tidak membawa apa-apa kecuali dompet. Saya berbalik, dan berteriak pada Nina yang mengikuti saya, tapi mucikari memegangnya erat.

    Saya bisa mencapai sebuah kantor polisi dan menceritakan semuanya kepada salah seorang petugas polisi. Ia tidak mempercayai saya dan menolak saya. Jauh lebih aman untuk saya, kata dia, untuk kembali di jalanan tanpa uang atau dokumen. Dalam keadaan putus asa untuk mencari bantuan, saya mendekati dua petugas polisi lainnya di jalan dan mendapat respon yang sama.

    Lalu saya pergi ke konsulat Indonesia, untuk mencari bantuan mendapatkan dokumen-dokumen seperti paspor, dan bantuan lain. Saya tahu mereka memiliki ruangan bagi orang untuk bisa tidur dalam keadaan darurat. Tetapi mereka juga tidak membantu saya.

    Saya marah dan jengkel. Saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Saya datang ke Amerika Serikat saat musim panas, dan saat itu tengah menuju musim dingin dan saya kedinginan. Saya terpaksa tidur di stasiun kereta api bawah tanah di New York, Staten Island Ferry, dan di Times Square.

    Saya mengemis makanan dari orang-orang yang berlalu lalang, dan setiap ada kesempatan saya menceritakan kisah saya pada mereka, dan saya katakan bahwa ada sebuah rumah di sekitar wilayah itu yang menyekap sejumlah perempuan , dan mereka membutuhkan bantuan.

    Hingga pada suatu hari, ketika saya berada di Grand Ferry Park di Williamsburg, seorang pria bernama Eddy membelikan saya makanan. Ia berasal dari Ohio, dan seorang pelaut yang tengah berlibur. "Kembalilah besok di siang hari," katanya, setelah saya menceritakan kisah saya.

    Saya sangat senang, saya tidak berhenti untuk menanyakan apa yang ia maksud dengan kata siang.' Yang saya tahu saat sekolah 'siang' bisa jadi menjelang sore, saya menebak kata 'siang' di sini adalah kata lain untuk 'pagi. Jadi esok harinya saya datang lebih pagi ke tempat yang sama di taman itu, dan menunggu datangnya Eddy selama beberapa jam.

    Akhirnya ia datang, dan mengatakan sudah menelepon dan berbicara dengan FBI, lalu FBI telah menelepon kantor polisi. Kami langsung pergi ke pos polisi, di sana sudah ada para petugas yang mencoba membantu saya.

    Jadi Eddy mengantarkan saya dengan mobilnya ke sana, dan dua detektif menanyai saya panjang lebar. Saya menunjukkan buku harian saya kepada mereka dengan rincian lokasi pelacuran, dan buku-buku pemainan dari kasino di mana saya telah dipaksa untuk bekerja. Mereka menelepon maskapai penerbangan dan imigrasi, dan mereka sudah mengecek laporan saya.

    "OK," kata mereka akhirnya. "Apakah Anda siap untuk pergi?"

    "Pergi ke mana?" tanya saya.

    "Menjemput teman-teman Anda," kata mereka.

    Lalu saya masuk mobil polisi dan kami melaju ke rumah bordil di Brooklyn itu. Saya lega saya bisa menemukannya lagi.

    Rasanya seperti seperti sebuah adegan dalam sebuah film. Mobil diparkir dan saya melihat ke luar jendela. Di luar rumah bordil, ada polisi yang menyamar berpura-pura menjadi tuna wisma -saya ingat salah satu dari mereka mendorong troli belanja. Kemudian ada banyak detektif, polisi bersenjata dan tim SWAT dan para penembak jitu bersembunyi di dekatnya.

    Kendati saya menikmatinya sekarang, tapi saat itu saya merasa sangat tegang pada saat itu, dan khawatir jika saat polisi memasuki bangunan itu dan tidak menemukan apapun di sana malam itu. Akankah mereka berpikir saya telah berbohong? Akankah saya yang akan masuk penjara, dan bukan orang yang menganiaya saya?

    Seorang petugas polisi berpakaian preman dan menyamar sebagai pelanggan menekan bel rumah bordil. Saya melihat Johnny muncul di ambang pintu, dan, setelah berbicara singkat, membuka jeruji logam. Dia langsung dipaksa kembali ke dalam ruang yang gelap. Dalam hitungan detik, seluruh tim polisi sudah berada di anak tangga dan masuk ke dalam rumah itu. Tidak ada satupun tembakan yang dilepaskan.

    Satu jam telah berlalu. Mereka mengatakan saya bisa keluar dari mobil dan mendekati rumah bordil. Mereka sudah menutupi salah satu jendela dengan kertas lalu melubanginya supaya saya bisa melihat ke dalam. Dengan cara seperti ini, saya bisa mengenali Johnny dan para perempuan yang bekerja di rumah bordil itu tanpa bisa terlihat. Ada tiga perempuan di sana, Nina berada di antara mereka.

    Image copyrightNY State AssemblyImage captionShandra berpidato setelah Majelis New York berjanji untuk menindak perdagangan manusia.

    Ketika saya melihat perempuan-perempuan itu keluar dari bangunan itu. telanjang dan hanya berbalut handuk, itu adalah momen terhebat dalam hidup saya. Melahirkan adalah sebuah keajaiban, ya, tapi tidak ada yang bisa membandingkan emosi yang saya alami ketika melihat teman-teman mendapatkan lagi kebebasan mereka. Dalam kilatan lampu biru dan merah dari mobil-mobil polisi, kami menari, berteriak, menjerit kegirangan!

    Johnny didakwa dan akhirnya ditahan, seperti dua orang pria lainnya yang ditangkap pada hari-hari berikutnya. Kendati begitu, saya masih membutuhkan dukungan, dan kesempatan untuk menyembuhkan diri.

    FBI menghubungkan saya dengan Safe Horizon, sebuah organisasi di New York yang membantu korban-korban kejahatan dan pelecehan, termasuk korban perdagangan manusia. Mereka membantu saya untuk tinggal di Amerika Serikat secara legal, memberi saya tempat tinggal dan menghubungkan saya dengan lembaga-lembaga yang bisa mengusahakan pekerjaan.

    Saya bisa kembali ke keluarga saya di Indonesia, namun FBI memerlukan kesaksian saya untuk menghadapi para sindikat perdagangan manusia, dan saya benar-benar menginginkan mereka dipenjara. Ternyata prosesnya memakan waktu selama bertahun-tahun.

    Di Indonesia, para sindikat datang mencari saya di rumah ibu saya, ia dan putri saya harus bersembunyi. Orang-orang itu sudah lama mencari saya. Bahaya besar mengancam putri saya, namun akhirnya pemerintah AS dan Safe Horizon mempertemukan kami kembali pada tahun 2004, setelah mengijinkan putri saya untuk terbang ke Amerika.

    Sebagai imbalan karena telah membantu pemerintah, pada tahun 2010 saya diberi izin untuk menetap di Amerika. Pada saat itu, mereka bilang saya bisa memilih nama baru, untuk keselamatan saya sendiri. Tapi saya memutuskan untuk tetap memakai nama lama Shandra Woworuntu. Ini nama saya. Para sindikat itu telah mengambil semua yang saya miliki - lalu mengapa saya harus menyerah dengan mengganti nama?

    Beberapa tahun setelah pelarian, saya mulai merasakan rasa sakit dan mati rasa pada persendian Saya mengalami masalah di kulit dan sakit migren parah.

    Setelah melalui banyak tes, para dokter menyarankan saya menemui psikiater atas apa yang sudah saya alami.

    Meski sudah 15 tahun berlalu, tapi saya masih kesulitan tidur malam. Hubungan dengan pria pun masih jauh dari normal. Saya masih mengunjungi terapis setiap minggu, dan psikiater, setiap dua minggu sekali, untuk memperoleh obat-obat anti-depresan.

    Saya masih teringat masa lalu, sepanjang waktu. Bau wiski membuat saya muntah dan jika saya mendengar nada dering tertentu – bunyi telepon genggam mucikari saya - tubuh saya menegang disertai rasa takut. Wajah-wajah di keramaian begitu menakutkan – bayangan-bayangan itu muncul sesaat, dan saya hancur berkeping-keping.

    Image copyrightGetty ImagesImage captionShandra berbicara dalam sebuah konferensi pers bersama anggota Kongres Ted Poe dan Carolyn Maloney.

    Jika Anda menghabiskan waktu dengan saya, Anda akan melihat saya sering memainkan cincin di jari saya untuk menenangkan diri. Saya memakai karet gelang di lengan saya, saya terus menerus menjepretkan benda itu, dan syal yang saya pakai juga akan diputar-putar.

    Sepertinya kebahagiaan menjauh dari saya, dan mungkin akan selalu begitu. Tapi saya sudah bisa berdamai dengan masa lalu saya. Saya suka menyanyi dalam paduan suara, dan membesarkan anak-anak sangat menyembuhkan. Gadis kecil saya sudah tumbuh menjadi seorang remaja! - Dan saya juga memiliki putra berusia sembilan tahun.

    Saya sudah memutuskan untuk melakukan semua yang saya bisa untuk membantu para korban perbudakan lainnya. Saya memulainya dengan sebuah organisasi, Mentari, yang membantu korban-korban berbaur ke dalam masyarakat, dan menghubungkan mereka ke pasar kerja.

    Pada saat yang sama, kami mencoba untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko datang ke AS kepada orang-orang yang masih melihat negara ini sebagai tanah impian. Setiap tahun, sebanyak 17.000 sampai 19.000 orang dibawa ke AS untuk diperdagangkan.

    Tahun lalu, kami membantu menerbitkan sebuah buku komik pendidikan tentang masalah ini di Indonesia. Kami juga menyumbangkan peternakan ayam dan bibitnya sehingga kalangan orang-orang tidak mampu bisa beternak ayam untuk dijual dan dimakan, jadi mereka tidak merasa harus menjual anak-anak mereka kepada sindikat penjualan manusia.

    Tidak semua korban perdagangan itu berasal dari kalangan orang-orang miskin. Beberapa diantaranya, seperti saya, memiliki gelar sarjana. Saya membantu seorang dokter dan guru dari Filipina. Tidak hanya kaum perempuan, saya juga telah membantu kaum lelaki yang diperdagangkan, dan bahkan ada satu orang yang berusia 65 tahun.

    Image copyrightThe White HouseImage captionShandra bersama Menteri Luar Negeri AS, John Kerry dan rekan-rekan sesama anggota Dewan Penasehat Perdagangan Manusia.

    Saya menuturkan pengalaman saya di gereja-gereja, sekolah-sekolah, universitas dan lembaga-lembaga pemerintah.

    Pertama kali, usai menceritakan kisah saya, konsulat Indonesia mendekati saya, bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk meminta saya menarik kembali pernyataan saya tentang penolakan mereka untuk membantu saya.

    Maaf, itu sudah terlambat - itu sudah beredar di luar sana. Saya tidak bisa berpura-pura atas apa yang telah terjadi. Bahkan setelah media memberitakan kasus saya, pemerintah Indonesia tidak merasa perlu menghubungi saya, mengecek keadaan saya, apakah baik-baik saja atau membutuhkan bantuan.

    Selain bekerja dengan kelompok-kelompok masyarakat, saya juga membahas masalah ini dengan pemerintah Meksiko dan tahun lalu saya bersaksi di depan Senat AS.

    Image copyrightMentari

    Saya meminta kepada para senator agar menetapkan undang-undang untuk memastikan bahwa para pekerja yang direkrut dari luar negeri mengetahui hak-hak mereka, tidak dikenakan biaya, dan diberitahu soal gaji dan kondisi hidup mereka yang bisa mereka harapkan di AS.

    Saya senang bisa mengatakan bahwa sejak itu peraturan diubah dan agen-agen perekrutan di luar negeri harus mendaftar ke Departemen Tenaga Kerja sebelum mereka beroperasi.

    Saya juga melobi Senat, atas namaNational Survivor Network, untuk menempatkan para korban perdagangan manusia dalam peran yang bisa memberikan dampak langsung pada kebijakan.

    Undang-undang The Survivors of Human Trafficking Empowerment telah melaksanakannya. Saya merasa terhormat untuk mengatakan bahwa di bulan Desember 2015, saya diminta untuk bergabung dengan sebuah dewan baru, dan kami bertemu untuk pertama kalinya pada bulan Januari, di Gedung Putih.

    Kita sangat perlu mendidik rakyat Amerika tentang subyek ini. Menengok kembali pengalaman saya sendiri, saya pikir semua orang yang bekerja di kasino dan hotel pasti tahu apa yang sedang terjadi. Dan rumah bordil yang ada di Brooklyn merupakan wilayah pemukiman – apakah para tetangga di sekelilingnya tidak pernah berhenti untuk bertanya mengapa seolah tak ada habisnya orang datang ke rumah tersebut, siang dan malam?

    Image copyrightGetty ImagesImage captionShandra Woworuntu berbicara dalam sebuah gerakan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan, Maret 2016.

    Masalahnya adalah, orang-orang melihat perempuan-perempuan yang diperdagangkan ini sebagai pelacur, dan bukan sebagai korban, tapi sebagai penjahat. Dan di kota-kota besar, orang-orang menutup mata atas segala macam tindak kejahatan seperti ini.

    Kita mungkin bisa memulai dengan memenjarakan para pria yang telah membayar untuk berhubungan seks. Setelah rumah bordil di Brooklyn digerebek dan banyak para pembeli seks ditanyai, tapi kemudian semuanya dibebaskan.

    Sekarang, pria yang tertangkap basah, dikirim untuk menjalani pembinaan satu hari yang disebut John School. Ini bukanlah hukuman, tetapi mengajarkan mereka bagaimana untuk mengidentifikasi anak-anak di rumah bordil, dan mengenai perempuan yang dipaksa untuk menjadi pekerja seks.

    Bagus - tapi belum cukup. Saya pikir nama orang-orang yang membayar untuk berhubungan seks dengan para wanita atau pria yang diperdagangkan harus dipublikasikan, seperti orang-orang yang melakukan pelecehan terhadap anak-anak dan predator seksual.

    Saya masih berteman dekat dengan Nina, yang baru-baru ini menginjak usia ke 30. Dan selama bertahun-tahun, saya memiliki nomor telepon Eddy, orang yang melapor kepada FBI atas nama saya, ketika saya putus asa.

    Pada tahun 2014, sekitar hari Natal, saya memutar nomor telepon. Saya akan bercerita tentang semua yang telah terjadi pada saya, tapi ia memotong omongan saya dan mengatakan, "Saya tahu semua. Saya mengikuti berita-beritanya. Saya sangat senang, Anda telah berhasil."

    Lalu ia berkata, "Tidak usah mengucapkan terima kasih pada saya - Anda sendiri yang telah melakukan semuanya itu."

    Tapi saya ingin mengucapkan terima kasih, Eddy, sudah mendengarkan kisah saya hari itu di taman, dan membantu saya memulai lagi hidup saya.
    posted from Bloggeroid


Top