.

.

.

.

.

    , , ,


    ELVIPS.COM - Chandra Lie mengaku terdorong ikut tax amnesty setelah berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat diundang makan malam di Istana Negara.

    Bertambah lagi pengusaha besar yang mengikuti program pengampunan pajak (tax amnesty) menjelang akhir periode pertama ini. Hari ini giliran Bos Sriwijaya Air Group Chandra Lie mendatangi Kantor Wilayah (Kanwil) Wajib Pajak Besar Gedung Sudirman, Jakarta, untuk mendaftar tax amnesty.

    Chandra mengatakan hari ini dia mendaftarkan tax amnesty sebagai wajib pajak orang pribadi. Rencananya besok (27/9) dia akan mendaftarkan semua perusahaannya termasuk maskapai penerbangan PT Sriwijaya Air dan anak usahanya ke kantor pajak.

    Dalam mengikuti program pengampunan pajak ini, Chandra tidak hanya mengungkapkan seluruh hartanya yang tidak pernah dilaporkan selama ini. Dia mengaku mayoritas hartanya berada di dalam negeri. (Baca: Pengusaha Kakap Bergiliran "Minta Ampun" ke Kantor Pajak)

    Memang ada beberapa harta di luar negeri, tapi jumlahnya cukup sedikit. Hanya untuk kebutuhan sekolah anaknya yang berbentuk rumah dan aset lainnya. Dia pun akan mengalihkan hartanya di luar negeri ke dalam negeri (repatriasi).

    Dana yang direpatriasikan ini rencananya akan digunakan sebagai investasi dan menambah modal pada perusahaannya. "Untuk beli pesawat. Untuk modal kerja lagi," ujar Chandra usai menyerahkan Surat Pernyataan Harta, di Kantor Wilayah Pajak Sudirman, Jakarta, Senin (26/9).

    Chandra mengaku terdorong untuk ikut tax amnesty setelah berdiskusi panjang dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia bertemu Jokowi saat diundang makan malam bersama ratusan pengusaha lain di Istana Negara beberapa waktu lalu. (Baca: Langkah Ditjen Pajak Kejar Wajib Pajak Besar Ikut Tax Amnesty)

    Dia mengatakan Jokowi beserta Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Diretur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi berani pasang badan dan memberikan jaminan keamanan kepada para peserta tax amnesty. Pemerintah juga akan mengupayakan segala hal agar program ini bisa sukses.

    Selain itu, menurutnya tarif tax amnesty di Indonesia sekarang ini lebih murah dibandingkan negara-negara yang pernah mengadakan program serupa. Dia mengambil contoh di Amerika Serikat yang tarifnya mencapai 25-30 persen.

    Sementara di Indonesia, tarif deklarasi harta di dalam negeri dan repatriasi hanya 2 persen, serta 4 persen untuk deklarasi di luar negeri pada periode pertama. Jokowi pun menjanjikan dana repatriasi akan dikelola untuk membangun perekonomian bangsa.

    “Saya sendiri 100 persen mendukung, saya ingin katakan bagi pengusaha yang tidak ikut tax amnesty ya rugi besar,” kata Chandra usai makan malam bersama Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/9). (Baca: Sri Mulyani Sindir Pengusaha Tambang Pengemplang Pajak)

    Chandra pun mengapresiasi pelayanan yang diberikan para petugas pajak di lapangan. Dirinya mengaku tidak mendapat kesulitan apapun saat mendaftar tax amnesty. Dia pun mengimbau para pengusaha lain untuk segera ikut tax amnesty.

    Dia pun memastikan dalam waktu dekat, menjelang berakhirnya periode pertama, para pengusaha akan membanjiri kantor pajak untuk ikut tax amnesty. Ini merupakan hasil kesepakan dalam pertemuan para pengusaha nasional di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Namun, dia enggan menyebutkan siapa saja pengusaha yang hadir dalam pertemuan tersebut.

    Pengusaha Kakap Bergiliran "Minta Ampun" ke Kantor Pajak

    Dua pekan terakhir, beberapa pengusaha kondang juga mendatangi kantor pajak untuk mengikuti program amnesti pajak.

    Daftar pengusaha kakap yang meminta pengampunan pajak dengan melaporkan harta kekayaannya bertambah panjang, menjelang berakhirnya periode pertama program amnesti pajak (tax amnesty) bulan ini. Meski berlangsung singkat, kedatangan mereka menyedot perhatian para wartawan karena merupakan orang-orang terkaya di negara ini.

    Yang terbaru adalah Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono, mengungkapkan hartanya di Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (21/9). Purnawirawan jenderal sekaligus pengusaha ini mengaku hanya mendeklarasikan hartanya di dalam negeri.

    Ia memang menggeluti bisnis di bidang perkapalan dan jasa keuangan berupa layanan remitansi. Saat ini, dia juga tercatat sebagai komisaris PT Carrefour Indonesia. "Saya punya rekening bank di luar negeri tapi isinya sedikit. Hanya untuk sekolah anak saat itu dan kemoterapi istri saya," katanya, usai menyelesaikan proses administrasi amnesti pajak selama sekitar 30 menit.

    Sebelumnya, dua pekan terakhir, beberapa pengusaha kondang juga mendatangi kantor pajak untuk mengikuti program amnesti pajak. Di antaranya, pemilik Grup Lippo James Riady; duo pengusaha bersaudara: Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir dan bos Grup Mahaka Erick Thohir; pemilik Grup Humpuss dan putra mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra; dan mantan bos Grup Astra dan pemilik Grup Triputra Theodore Permadi Rachmat.

    Daftar nama ini akan semakin panjang karena para pengusaha yang tergabung dalam Kadin Indonesia berencana mengikuti program pengampunan pajak secara serentak pada Selasa (27/9) pekan depan. Di luar nama-nama itu, tentunya masih ada pengusaha kakap lain yang mengikuti program ini namun mungkin tak mau menuai publikasi.

    , , ,


    ELVIPS.COM - NEW YORK - Nara Rakhmatia, diplomat muda Indonesia berhasi mencuri perhatian dalam sidang PBB di New York. Perempuan cantik yang akan genap berusia 34 tahun pada Desember nanti itu berhasil membungkam tudingan dari sejumlah kepala negara di Kepulauan Pasifik terkait kondisi HAM di Papua dan Papua Barat. 

    Dalam sidang PBB tersebut enam negara Kepualauan Pasifik—Vanuatu, Solomon Island, Tonga, Nauru, Marshall Island dan Tuvalu yang blak-blakan menyatakan keprihatinan tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Negara-negara itu di forum PBB menyerukan kebebasan bagi Papua Barat untuk menentukan nasibnya sendiri.

    "Pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat dan mengejar untuk menentukan nasib sendiri bagi Papua Barat adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Banyak laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat yang menekankan penguatan hak untuk menentukan nasib sendiri, yang menghasilkan pelanggaran HAM langsung oleh Indonesia dalam upaya untuk meredakan segala bentuk oposisi," kata Perdana Menteri Solomon Island, Manasye Sogavare pada Sidang PBB Senin (26/9/2016) lalu.

    Sedangkan Presiden Marshall Island, Hilda Heine, mendesak Dewan HAM PBB untuk melakukan penyelidikan yang kredibel atas pelanggaran di Papua Barat.

    Diserang dengan tudingan tersebut, Nara tidak gentar. Alumnus perguruan tinggi negeri ibukota itu menjawab tudingan tersebut dengan tegas dan berani. ”Para pemimpin yang sama memilih bukan untuk melanggar Piagam PBB dengan mencampuri kedaulatan negara lain dan melanggar integritas teritorialnya,” kata Nara.

    “Laporan bermotif politik mereka rancang untuk mendukung kelompok-kelompok separatis di provinsi tersebut (Papua Barat dan Papua) yang telah secara konsisten terlibat dalam menghasut kekacauan publik dan melakukan serangan teroris bersenjata,” tukas Nara.

    Apa yang dilakukan oleh Nara ini jelas-jelas menampar para pemimpin negara-negara itu. Pasalnya, jawaban atas segala tudingan yang dialamatkan ke Indonesia itu meluncur dari seorang Diplomat Junior. 

    Nara Rakhmatia Masista adalah jebolan Sekolah Departemen Luar Negeri dan lulus pada tahun 2008. Ia sempat mengecam pendidikan di FISIP UI jurusan Hubungan Internasional dan lulus pada tahun 2002. Sebelum memutuskan bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, Nara menghabiskan waktunya menjadi peneliti di CERIC (Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution) dan juga Center for East Asia Cooperation Studies.

    Setelah bergabung dengan Kementerian Luar Negeri, Nara ditempatkan di Direktorat Kerjasama Antar Kawasan pada Direktorat Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika. Di Kemlu, spesialisasi Nara nampaknya adalah Organisasi Kerjasama Ekonomi Asia Pasific APEC dan sempat menjabat Head of Section for The Budget and Management Committee (BMC) APEC sebelum dikirim ke New York.

    Sumber:
    http://international.sindonews.com/read/1143098/42/diplomat-cantik-indonesia-ini-tampar-6-pemimpin-negara-1475083750

    , , , ,


    PILKADA.OR.ID - Usai para pengusaha "kakap" Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melaporkan harta serempak ke Ditjen Pajak, jumlah dana tax amnestylangsung melonjak pesat.

    Berdasarkan data Ditjen Pajak yang dikutip Kompas.com, Selasa (27/9/2016) Pukul 18.00 WIB, jumlah harta yang dilaporkan ke negara mencapai Rp 2.476 triliun.

    Jumlah harta itu tetap didominasi oleh harta yang dideklarasikan di dalam negeri sebesar Rp 1.695 triliun.

    Sedangkan harta yang dideklarasikan di luar negeri mencapai Rp 654 triliun.

    Adapun harta dari luar negeri yang dibawa pulang ke Indonesia (repatriasi) mulai tembus Rp 127 triliun.

    Sementara uang tebusan yang masuk langsung ke kas negara sebesar Rp 53,4 triliun.

    Dibandingkan data Senin (26/9/2016) pukul 18.00 WIB, harta yang dilaporkan kepada negara mencapai Rp 1.927 triliun.

    Deklarasi harta di dalam negeri masih dominan mencapai Rp 1.308 triliun dan deklarasi harta luar negeri Rp 520 triliun.

    Sedangkan dana repatriasi Rp 98,5 triliun dengan total uang tebusan yang masuk ke kas negara mencapai Rp 45 triliun.

    Artinya pelaporan harta tax amnestynaik Rp 549 triliun hanya dalam waktu 24 jam saja.

    Sebelumnya, para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyambangi Kantor Pusat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak pada Selasa siang.

    Tujuannya yakni untuk menyerahkan Surat Pernyataan Harta (SPH) dalam rangka mengikuti program pengampunan pajak atau tax amnesty.

    Hadir diantaranya Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani, Anindya Bakrie, MS Hidayat, Bambang Soesatyo, hingga pengusaha Sandiaga Uno.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani merespons positif pelaporan harta serentak oleh para pengusaha.

    Ia juga mengaku senang sebab dengan pelaporan harta itu jumlah uang tebusan yang masuk ke kas negara langsung bertambah.

    "Saya menyambut baik dan gembira," ujar perempuan yang kerap disapa Ani itu. 

    Sumber :
    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/09/27/192459426/pengusaha.lapor.harta.serempak.dana.tax.amnesty.dekati.rp.2.500.triliun

    , , ,

    ELVIPS.COM - Presiden Jokowi memerintahkan Polri membentuk Satgas bongkar muat barangBiaya logistik nasional saat ini masih 24,5 persen dari PDBBiaya logistik Indonesia termasuk yang tertinggi di ASEAN

    Presiden Joko Widodo kembali murka ketika mengetahui proses keluar masuk barang di Pelabuhan Belawan memerlukan tujuh hingga delapan hari. Inilah yang menyebabkan daya saing Indonesia kalah jika dibandingkan negara-negara tetangga.

    tirto.id - Masalah dwelling timekembali membuat Presiden Joko Widodo murka. Pada Selasa (13/9/2016), di depan tiga menterinya, Presiden meluapkan kemarahan ketika meresmikan Terminal Peti Kemas Pelabuhan Kalibaru di Tanjung Priok, Jakarta Utara. 

    Presiden Jokowi marah karena ternyata masih ada terminal kontainer yang membutuhkan waktu lama untuk durasi bongkar-muat barang hingga 7-8 hari. Dwelling time merupakan masa tunggu sebuah kontainer di pelabuhan dari masuk hingga keluar.

    “Mau bersaing kaya apa kita coba?” ujar Presiden Jokowi ketika memberikan sambutan di depan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Selain menyoroti proses bongkar muat memakan waktu lama di Pelabuhan Belawan, dia juga mengkritisi tiga pelabuhan yang dianggap puas dengan durasi hanya mencapai tiga hari lebih. 

    Marahnya Presiden Jokowi soaldwelling time memang bukan tanpa alasan. Sudah dua Menko Bidang Maritim digantinya karena persoalan ini. Kini, Presiden Jokowi pun memberikan instruksi kepada Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian agar membuat Satuan Tugas Penyelidikan dugaan pelanggaran pada proses bongkar muat barang.

    Tujuannya, mencari faktor penyebab lambatnya proses bongkar muat barang di seluruh pelabuhan di Indonesia. Selain itu, Presiden Jokowi juga ingin mempercepat waktu bongkar muat di seluruh pelabuhan di Indonesia.

    Sebetulnya alasan Presiden Jokowi marah bukan hanya mengenai durasi dwelling time yang sampai saat ini masih belum tuntas. Pada Desember tahun lalu, dia pun sudah mewanti-wanti jajarannya untuk tidak main-main mengenai dwelling time. Dalam rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Jokowi menekankan pentingnya dwelling time di era kompetensi saat ini.

    “Sekali lagi kita tidak bisa main-main lagi dengan yang namanya efisiensi, dengan namanya dwell time, karena apapun kita telah memasuki era kompetisi, era persaingan antar negara yang memerlukan kecepatan, memerlukan efisiensi untuk meningkatkan daya saing, meningkatkan daya saing ekonomi kita. Begitu kita lambat, kita tidak efisien, kita akan ditinggal oleh negara-negara yang lain,” ujar Presiden Jokowi seperti dikutip darisetkab.go.id.

    Pernyataan Presiden Jokowi bukan tanpa alasan. Berdasarkan survei Bank Dunia pada 2014, gara-gara lamanya waktu bongkar muat, biaya logistik nasional mencapai 24 persen. Biaya logistik itu juga yang rencananya akan diturunkan sebesar 16 persen pada tahun 2019. Untuk mencapai angka itu, tentunya Presiden Jokowi harus ekstra kerja keras menyuruh para pembantunya untuk segera membenahi waktu bongkar muat. Jika tidak, mimpi pemerintahan Jokowi mengenai Tol Laut untuk memenangkan persaingan perdagangan global bisa jadi tak sesuai harapan.

    Dampak Biaya Logistik 

    Persoalan dwelling time memang menjadi fokus perhatian Presiden Jokowi berserta para jajarannya di kabinet kerja saat ini. Sebab, pemerintah sedang menargetkan perbaikan tata kelola sistem logistik nasional. Pemerintah masih berusaha untuk menekan biaya logistik agar industri dalam negeri memiliki daya saing. Biaya logistik nasional saat ini masih 24,5 persen dari PDB. Pemerintah pun berencana menekan biaya itu hingga 19 persen.

    Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Perhubungan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Carmelita Hartoto, dwelling time sejatinya tidak akan menurunkan biaya logistik nasional jika tidak dimbangi dengan perbaikan sistem logistik itu sendiri. Dia menjelaskan, efisensi sistem logistik harus juga diimbangi oleh beberapa indikator, salah satunya adalah infrastruktur yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk segera diperbaiki sebagai salah satu bagian yang mendukung proses cepatnya proses bongkar muat barang.

    “Jadi kalau mau ngomongin biaya logistik terkaitnya macam-macam, jadi mulai dari pelabuhannya, kemudian infrastruktur jalan, itu juga pengaruh dan juga kemacetan jalan juga pengaruh,” ujar Carmelita saat berbincang dengan tirto.id melalui sambungan telepon, pada Kamis  (15/9/2016). 

    Apa yang diutarakan Carmelita memang benar adanya. Untuk memperbaiki sistem logistik, sebetulnya bisa diukur secara sederhana melalui Logistic Performance Index (LPI). Ada enam indikator yang mencerminkan tingkat efisiensi logistik sebuah negara, yaitu bea cukai, infrastruktur, pengapalan internasional (international shipment), kualitas dan kompetensi logistik, pelacakan dan pencatatan (tracking and tracing), dan  ketepatan waktu (dwelling time). Saat ini, LPI Indonesia menunjukan kondisi yang belum kondusif dalam meningkatkan daya saing ekonomi.

    Merujuk pada laporan The Logistics Performance Index Bank Dunia tahun 2014, Indonesia masih berada di urutan ke-53 dari 163 negara. Menduduki peringkat ke-5 di antara negara-negara ASEAN. Peringkat itu menunjukan masih adanya biaya logistik yang tinggi di Indonesia. Dampaknya, industri dalam negeri tak pernah dilirik dan tidak memiliki daya saing. Survei Bank Dunia juga menemukan bahwa pembeli dari luar negeri tidak terlalu memperhatikan produk berasal dari Indonesia. Mereka justru menyoroti waktu bongkar muat di pelabuhan dan juga kualitas barang. 

    Sementara LPI Indonesia selama empat tahun, yakni 2007, 2010, 2012 dan 2014, terlihat terjadi peningkatan. Pada tahun 2007, terjadi peningkatan sebesar 3,01, kemudian turun pada 2010 menjadi 2,76. Sedangkan pada tahun 2012, mengalami peningkatan menjadi 2,94 dan pada tahun 2014 naik menjadi 3,08.

    Masih menurut data Bank Dunia, kinerja logistik Indonesia sejatinya  berada di tengah di antara negara ASEAN -tanpa Brunei Darussalam. Lima negara itu adalah Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia dan Filipina. Sementara Kamboja dan Laos, berada pada kategori partial performers. Dua negara dengan kinerja logistik sangat timpang adalah Singapura  dan Myanmar. Dari empat kategori yang ditentukan Bank Dunia, Indonesia masuk ke dalam consistent performers karena skor LPI-nya melebihi 2,90. Kini, Indonesia masuk urutan ke 63 dengan skor LPI 2, 98. 

    Menurut Carmelita, guna mendukung berjalannya sistem tersebut, sejatinya pembangunan pelabuhan memang harus terintegrasi dengan andara, stasiun kereta dan kawasan iIndustri. “Kalau sekarang, pelabuhan-pelabuhan yang sudah kita punya itu ada di dalam kota. Jadi untuk diperluas lagi, dibikin lagi dekat dengan industri itu sudah sulit,” ujarnya.

    Biaya Paling Mahal

    Sejatinya, target produktivitas dan daya saing pembangunan ekonomi Indonesia sudah tertuang dalam butir keenam Nawacita yang digaungkan pemerintahan Presiden Jokowi. Dalam butir itu, Nawacita menjanjikan sejumlah  infrastruktur strategis, mulai dari jalan di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Pembangunan juga meliputi pelabuhan, bandara hingga kawasan industri dan pasar. 

    Jadi sebuah hal yang wajar jika kini Presiden Jokowi menitikberatkan daya saing perekonomian Indonesia di mata dunia. Apalagi, Tol Laut digaungkan Presiden Jokowi menjadi indikator buat mencapai tujuan itu. Sebab dengan Tol Laut, biaya logistik yang tinggi bisa diminimalisir. Hal ini juga membuat Presiden Jokowi uring-uringan dan memfokuskan untuk membenahi bongkar muat barang di pelabuhan yang menjadi kendala perlambatan ekonomi. 

    Apalagi, biaya bongkar muat di Indonesia dinilai paling mahal se-ASEAN. Karena itu juga, pada Juni tahun lalu, Presiden Jokowi mengatakan lambatnya bongkar muat di pelabuhan menyebabkan kerugian negara hingga Rp780 triliun per tahun. Dalam laman resmi Sekretaris Kabinet, pembenahan waktu bongkar muat diharapkan mampu menekan kerugian negara sekitar $250 miliar atau setara dengan Rp3,125 triliun. 

    Senior Trade Specialist Bank Dunia, Henry Sandee, pernah menyebutkan bahwa ongkos logistik per 55 kilometer di Indonesia membutuhkan biaya sebesar $550. Jauh lebih mahal  dibandingkan Malaysia yang hanya membutuhkan $300. Perbandingan biaya pengiriman per kontainer lebih kentara lagi, jika dibandingkan dengan Singapura. Di Negeri Singa Putih itu, biaya pengiriman  satu kontainer dari Jakarta ke Singapura hanya menghabiskan $185. Sementara Indonesia untuk pengiriman antar pulau dari Jakarta ke Padang, ongkos yang dibutuhkan mencapai $600.

    Tingginya biaya logistik itu, menurut Carmelita, bisa ditekan jika pengelolaan pelabuhan dikelola secara terintegrasi, termasuk juga tidak terus menaikan tarif pelabuhan. Dua hal itu menurut dia, menjadi bagian indikator untuk menurunkan biaya logistik nasional. 

    “Produktivitas tinggi, pengelolahan pelabuhan yang efisien, serta tarif pelabuhan yang tidak terus dinaikan akan secara langsung dapat menurunkan biaya logistik,” ujarnya. 

    , , , , ,


    ELVIPS.COM - Pengamat politik dari Universitas Paramadina Toto Sugiarto meyakini, deklarasi pasangan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dengan Djarot Syaiful Hidayat selaku calon petahana oleh PDIP mengacaukan hitung-hitungan lawan politik yang sejauh ini belum memiliki calon yang pasti diusung pada Pilgub DKI.

    "Pasangan Ahok-Djarot tentu menjadi lawan tangguh bagi siapa pun. Diperlukan strategi yang luar biasa untuk mengalahkannya. Kondisi politik lawan seperti Koalisi Kekeluargaan tentu semakin melemah, mereka juga kesulitan menemukan calon alternatif," kata Toto, kepada SP, di Jakarta, Selasa (20/9) pagi.

    Menurutnya, Ahok-Djarot berada dalam posisi kuat setelah PDIP mengusungnya. Secara matematis, PDIP merupakan parpol yang paling kuat di DKI sekarang ini. Masuknya PDIP ke gerbong Golkar, Hanura, dan Nasdem menutup peluang parpol lain dari Koalisi Kekeluargaan untuk bergabung.

    Toto mengatakan, figur petahana di Pilgub DKI juga diuntungkan oleh karakter pemilih Ibu Kota yang cenderung lebih rasional dalam memilih sebagaimana yang terjadi pada Pilgub DKI tahun 2012. Pada 2012 pasangan Jokowi-Ahok menang mengalahkan pasangan-pasangan lain termasuk petahana karena pemilih DKI selain melihat figur juga mengukur kinerja.

    Jika dibandingkan dengan fakta sekarang ini, ‎belum ada calon yang mampu menandingi elektabilitas Ahok sehingga menjadi wajar apabila parpol-parpol lain kesulitan menemukan pasangan calon untuk berkontestasi.

    "Calon petahan semakin diuntungkan karena mesin PDIP dalam pilkada DKI sangat kuat. Dipasangkannya Ahok-Djarot memudahkan keduanya melengang kencang. Jangan lupa, Pilgub DKI merupakan modal awal untuk Pilpres 2019 karena Pilgub DKI merupakan barometer untuk pemenangan di daerah lainnya," kata Toto.

    Toto memprediksi ‎parpol-parpol lain yang tidak mendukung atau ikut mengusung petahana sekarang ini berupaya keras menemukan figur melawan Ahok. Sementara sosok pengusaha sekaligus kader Partai Gerindra Sandiaga Uno belum mampu menyamai elektabilitas Ahok.

    Nama-nama besar yang digadang-gadang menjadi bakal calon seperti Yusril Ihza Mahendra dan Rizal Ramli juga belum mendapatkan kendaraan politik untuk maju. Sebab, tidak semua parpol berambisi memenangi Pilkada DKI karena hanya ingin mengambil untung dalam pencalonan.

    "Sedangkan untuk parpol yang berambisi menguasai DKI sangat berat. Gerindra misalnya, harus benar-benar mampu mengatrol Sandiaga ini. Ini kerja besar dan sulit," ujarnya.

    , , ,

    ELVIPS.COMSetelah kegagalan “kudeta” yang sangat memalukan itu, pemerintah Belanda memutuskan untuk secepat mungkin mengevakuasi pasukan RST. Pada sidang kabinet tanggal 6 Februari dipertimbangkan, untuk memindahkan pasukan RST ke Papua Barat, karena membawa mereka ke Belanda akan menimbulkan sejumlah masalah lagi. Pada 15 Februari 1950 Menteri Götzen memberi persetujuannya kepada Hirschfeld untuk mengirim pasukan RST yang setia kepada Belanda ke Belanda, dan pada hari itu juga gelombang pertama yang terdiri dari 240 anggota RST dibawa ke kapal Sibajak di pelabuhan Tanjung Priok. Komandan RST Letkol Borghouts terbang ke Belanda untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
    Disediakan tempat penampungan di kamp Prinsenbosch dekat Chaam, 15 km di sebelah tenggara kota Breda. Pada 17 Maret 1950 gelombang pertama pasukan RST tiba di tempat penampungan, dengan pemberitaan besar di media massa. Pada 27 Maret dan 23 Mei 1950 tiba dua rombongan pasukan RST berikutnya. Keseluruhan pasukan RST bersama keluarga mereka yang ditampung di Prinsenbosch sekitar 600 orang. Sekitar 400 orang telah didemobilisasi di Jakarta, dan di Batujajar sekitar 200 orang pasukan RST, sedangkan 124 orang pasukan RST yang terlibat dalam aksi Westerling, ditahan di pulau Onrust menunggu sidang pengadilan militer.
    Jumlah tentara Belanda yang ditahan untuk disidangkan jelas sangat kecil, dibandingkan dengan yang tercatat telah ikut dalam aksi kudeta Westerling, yaitu lebih dari 300 orang.
    Demikianlah akhir yang memalukan bagi pasukan elit Reciment Speciale Troepen(RST) yang merupakan gabungan baret merah (1e para compagnie) dan baret hijau (Korps Speciale Troepen) yang pernah menjadi kebanggaan Belanda, karena “berjasa” menduduki Ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta.
    Namun bagi Westerling dan anak buahnya yang tertangkap, ceriteranya belum berhenti di sini. Westerling sendiri masih membuat pusing pimpinan Belanda, baik sipil mau pun militer di Jakarta. Dia merencanakan untuk lari ke Singapura, di mana dia dapat memperoleh bantuan dari teman-temannya orang Tionghoa. Maka dia kemudian menghubungi relasinya di Staf Umum Tentara Belanda di Jakarta.
    Sejak kegagalan tanggal 23 Januari, Westerling bersembunyi di Jakarta, dan mendatangkan isteri dan anak-anaknya ke Jakarta. Dia selalu berpindah-pindah tempat, antara lain di Kebon Sirih 62 a, pada keluarga de Nijs.
    Pada 8 Februari 1950 isteri Westerling menemui Mayor Jenderal van Langen, yang kini menjabat sebagai Kepala Staf, di rumah kediamannya. Isteri Westerling menyampaikan kepada van Langen mengenai situasi yang dihadapi oleh suaminya. Hari itu juga van Langen menghubungi Jenderal Buurman van Vreeden, Hirschfeld dan Mr. W.H. Andreae Fockema, Sekretaris Negara Kabinet Belanda yang juga sedang berada di Jakarta. Pokok pembicaraan adalah masalah penyelamatan Westerling, yang di mata banyak orang Belanda adalah seorang pahlawan. Dipertimbangkan antara lain untuk membawa Westerling ke Papua Barat. Namun sehari setelah itu, pada 9 Februari Hatta menyatakan, bahwa apabila pihak Belanda berhasil menangkap Westerling, pihak Republik akan mengajukan tuntutan agar Westerling diserahkan kepada pihak Indonesia. Hirschfeld melihat bahwa mereka tidak mungkin menolong Westerling karena apabila hal ini terungkap, akan sangat memalukan Pemerintah Belanda. Oleh karena itu ia menyampaikan kepada pimpinan militer Belanda untuk mengurungkan rencana menyelamatkan Westerling.
    Namun tanpa sepengetahuan Hirschfeld, pada 10 Februari Mayor Jenderal van Langen memerintahkan Kepala Intelijen Staf Umum, Mayor F. van der Veen untuk menghubungi Westerling dan menyusun perencanaan untuk pelariannya dari Indonesia. Dengan bantuan Letkol Borghouts -pengganti Westerling sebagai komandan pasukan elit KST- pada 16 Februari di mess perwira tempat kediaman Ajudan KL H.J. van Bessem di Kebon Sirih 66 berlangsung pertemuan dengan Westerling, di mana Westerling saat itu bersembunyi. Borghouts melaporkan pertemuan tersebut kepada Letkol KNIL Pereira, perwira pada Staf Umum, yang kemudian meneruskan hasil pertemuan ini kepada Mayor Jenderal van Langen.
    Westerling pindah tempat persembunyian lagi dan menumpang selama beberapa hari di tempat Sersan Mayor KNIL L.A. Savalle, yang kemudian melaporkan kepada Mayor van der Veen. Van der Veen sendiri kemudian melapor kepada Jenderal van Langen dan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima tertinggi Tentara Belanda. Dan selanjutnya, Van Vreeden sendiri yang menyampaikan perkembangan ini kepada Sekretaris Negara Andreae Fockema. Dengan demikian, kecuali Hirschfeld, Komisaris Tinggi Belanda, seluruh jajaran tertinggi Belanda yang ada di Jakarta –baik militer maupun sipil- mengetahui dan ikut terlibat dalam konspirasi menyembunyikan Westerling dan rencana pelariannya dari Indonesia. Andreae Fockema menyatakan, bahwa dia akan mengambil alih seluruh tanggungjawab.
    Pada 17 Februari Letkol Borghouts dan Mayor van der Veen ditugaskan untuk menyusun rencana evakuasi. Disiapkan rencana untuk membawa Westerling keluar Indonesia dengan pesawat Catalina milik Marineluchtvaartdienst – MLD (Dinas Penerbangan Angkatan Laut) yang berada di bawah wewenang Vice Admiral J.W. Kist. Rencana ini disetujui oleh van Langen dan hari itu juga Westerling diberitahu mengenai rencana ini. Van der Veen membicarakan rincian lebih lanjut dengan van Langen mengenai kebutuhan uang, perahu karet dan paspor palsu. Pada 18 Februari van Langen menyampaikan hal ini kepada Jenderal van Vreeden.
    Van der Veen menghubungi Kapten (Laut) P. Vroon, Kepala MLD dan menyampaikan rencana tersebut. Vroon menyampaikan kepada Admiral Kist, bahwa ada permintaan dari pihak KNIL untuk menggunakan Catalina untuk suatu tugas khusus. Kist memberi persetujuannya, walau pun saat itu dia tidak diberi tahu penggunaan sesungguhnya. Jenderal van Langen dalam suratnya kepada Admiral Kist hanya menjelaskan, bahwa diperlukan satu pesawat Catalina untuk kunjungan seorang perwira tinggi ke kepulauan Riau. Tak sepatah kata pun mengenai Westerling.
    Kerja selanjutnya sangat mudah. Membeli dolar senilai f 10.000,- di pasar gelap; mencari perahu karet; membuat paspor palsu di kantor Komisaris Tinggi (tanpa laporan resmi). Nama yang tertera dalam paspor adalah Willem Ruitenbeek, lahir di Manila.
    Pada hari Rabu tanggal 22 Februari, satu bulan setelah “kudeta” yang gagal, Westerling yang mengenakan seragam Sersan KNIL, dijemput oleh van der Veen dan dibawa dengan mobil ke pangkalan MLD di pelabuhan Tanjung Priok. Westerling hanya membawa dua tas yang kelihatan berat. Van der Veen menduga isinya adalah perhiasan. Pesawat Catalina hanya singgah sebentar di Tanjung Pinang dan kemudian melanjutkan penerbangan menuju Singapura. Mereka tiba di perairan Singapura menjelang petang hari. Kira-kira satu kilometer dari pantai Singapura pesawat mendarat di laut dan perahu karet diturunkan.
    Dalam bukunya De Eenling, Westerling memaparkan, bahwa perahu karetnya ternyata bocor dan kemasukan air. Beruntung dia diselamatkan oleh satu kapal penangkap ikan Cina yang membawanya ke Singapura. Setibanya di Singapura, dia segera menghubungi temanTionghoanya Chia Piet Kay, yang pernah membantu ketika membeli persenjataan untuk Pao An Tui. Dia segera membuat perencanaan untuk kembali ke Indonesia.
    Namun pada 26 Februari 1950 ketika berada di tempat Chia Piet Kay, Westerling digerebeg dan ditangkap oleh polisi Inggris kemudian dijebloskan ke penjara Changi. Rupanya, pada 20 Februari ketika Westerling masih di Jakarta, Laming, seorang wartawan dari Reuters, mengirim telegram ke London dan memberitakan bahwa Westerling dalam perjalanan menuju Singapura, untuk kemudian akan melanjutkan ke Eropa. Pada 24 Februari Agence Presse, Kantor Berita Perancis yang pertama kali memberitakan bahwa Westerling telah dibawa oleh militer Belanda dengan pesawat Catalina dari MLD ke Singapura. Setelah itu pemberitaan mengenai pelarian Westerling ke Singapura muncul di majalah mingguan Amerika,Life. Pemberitaan di media massa tentu sangat memukul dan memalukan pimpinan sipil dan militer Belanda di Indonesia.
    Kabinet RIS membanjiri Komisaris Tinggi Belanda Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan. Hirschfeld sendiri semula tidak mempercayai berita media massa tersebut, sedangkan Jenderal Buurman van Vreeden dan Jenderal van Langen mula-mula menyangkal bahwa mereka mengetahui mengenai bantuan pimpinan militer Belanda kepada Westerling untuk melarikan diri dari Indonesia ke Singapura. Keesokan harinya, tanggal 25 Februari Hirschfeld baru menyadari, bahwa semua pemberitaan itu betul dan ternyata hanya dia dan Admiral Kist yang tidak diberitahu oleh van Vreeden, van Langen dan Fockema mengenai adanya konspirasi Belanda untuk menyelamatkan Westerling dari penagkapan oleh pihak Indonesia.
    Fockema segera menyatakan bahwa dialah yang bertanggung- jawab dan menyampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat, bahwa Hirschfeld sama sekali tidak mengetahui mengenai hal ini. Menurut sinyalemen Moor, sejak skandal yang sangat memalukan Pemerintah Belanda tersebut terbongkar, hubungan antara Hirschfeld dengan pimpinan tertinggi militer Belanda di Indonesia mencapai titik nol.
    Pada 5 April 1950 Sultan Hamid II ditangkap atas tuduhan terlibat dalam “kudeta” Westerling bulan Januari 1950.
    Pada 7, 8, 10 dan 11 Juli 1950 dilakukan sidang Mahkamah Militer terhadap 124 anggota pasukan RST yang ditahan di pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Pada 12 Juli dijatuhkan keputusan yang menyatakan semua bersalah. Namun sebagian besar hanya dikenakan hukuman yang ringan, yaitu 10 bulan potong tahanan, beberapa orang dijatuhi hukuman 11 atau 12 bulan, satu orang kena hukuman 6 bulan dan hanya Titaley diganjar 1 tahun 8 bulan. Tidak ada yang mengajukan banding. Hukuman yang sangat ringan yang dijatuhkan oleh Mahkamah Militer Belanda terhadap tentara Belanda yang telah membantai 94 anggota TNI, termasuk Letkol Lembong, menunjukkan, bahwa Belanda tidak pernah menilai tinggi nyawa orang Indonesia. Setelah berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, tentara Jerman yang terbukti membunuh orang atau tawanan yang tidak berdaya dijatuhi hukuman yang sangat berat, dan bahkan para perwira yang memerintahkan pembunuhan, dijatuhi hukuman mati.
    Sementara itu, setelah mendengar bahwa Westerling telah ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura, Pemerintah RIS mengajukan permintaan kepada otoritas di Singapura agar Westerling diekstradisi ke Indonesia. Pada 15 Agustus 1950, dalam sidang Pengadilan Tinggi di Singapura, Hakim Evans memutuskan, bahwa Westerling sebagai warganegara Belanda tidak dapat diekstradisi ke Indonesia. Sebelumnya, sidang kabinet Belanda pada 7 Agustus telah memutuskan, bahwa setibanya di Belanda, Westerling akan segera ditahan. Pada 21 Agustus, Westerling meninggalkan Singapura sebagai orang bebas dengan menumpang pesawat Australia Quantas dan ditemani oleh Konsul Jenderal Belanda untuk Singapura, Mr. R. van der Gaag, seorang pendukung Westerling.
    Westerling sendiri ternyata tidak langsung dibawa ke Belanda di mana dia akan segera ditahan, namun –dengan izin van der Gaag- dia turun di Brussel, Belgia. Dia segera dikunjungi oleh wakil-wakil orang Ambon dari Den Haag, yang mendirikan Stichting Door de Eeuwen Trouw – DDET (Yayasan Kesetiaan Abadi). Mereka merencanakan untuk kembali ke Maluku untuk menggerakkan pemberontakan di sana. Di negeri Belanda sendiri secara in absentia Westerling menjadi orang yang paling disanjung.
    Awal April 1952, secara diam-diam Westerling masuk ke Belanda. Keberadaannya tidak dapat disembunyikan dan segera diketahui, dan pada 16 April Westerling ditangkap di rumah Graaf A.S.H. van Rechteren. Mendengar berita penangkapan Westerling di Belanda, pada 12 Mei 1952 Komisaris Tinggi Indonesia di Belanda Susanto meminta agar Westerling diekstradisi ke Indonesia, namun ditolak oleh Pemerintah Belanda, dan bahkan sehari setelah permintaan ekstradisi itu, pada 13 Mei Westerling dibebaskan dari tahanan. Puncak pelecehan Belanda terhadap bangsa Indonesia terlihat pada keputusan Mahkamah Agung Belanda pada 31 Oktober 1952, yang menyatakan bahwa Westerling adalah warganegara Belanda sehingga tidak akan diekstradisi ke Indonesia.
    Setelah keluar dari tahanan, Westerling sering diminta untuk berbicara dalam berbagai pertemuan, yang selalu dipadati pemujanya. Dalam satu pertemuan dia ditanya, mengapa Sukarno tidak ditembak saja. Westerling menjawab:
    “Orang Belanda sangat perhitungan, satu peluru harganya 35 sen, Sukarno harganya tidak sampai 5 sen, berarti rugi 30 sen yang tak dapat dipertanggungjawabkan.”
    Beberapa hari kemudian, Komisaris Tinggi Indonesia memprotes kepada kabinet Belanda atas penghinaan tersebut.
    Pada 17 Desember 1954 Westerling dipanggil menghadap pejabat kehakiman di Amsterdam di mana disampaikan kepadanya, bahwa pemeriksaan telah berakhir dan tidak terdapat alasan untuk pengusutan lebih lanjut. Pada 4 Januari 1955 Westerling menerima pernyataan tersebut secara tertulis.
    Dengan demikian, bagi orang Belanda pembantaian ribuan rakyat di Selawesi Selatan tidak dinilai sebagai pelanggaran HAM, juga “kudeta’ APRA pimpinan Westerling tidak dipandang sebagai suatu pelanggaran atau pemberontakan terhadap satu negara yang berdaulat.
    Westerling kemudian menulis dua buku, yaitu otobiografinya Memoires yang terbit tahun 1952, dan De Eenling yang terbit tahun 1982. Buku Memoires diterjemahkan ke bahasa Prancis, Jerman dan Inggris. Edisi bahasa Inggris berjudul Challenge to Terror sangat laku dijual dan menjadi panduan untuk counter insurgency dalam literatur strategi pertempuran bagi negara-negara Eropa untuk menindas pemberontakan di negara-negara jajahan mereka di Asia dan Afrika.
    Kemudian bagaimana dengan nasib KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger)? Berdasarkan keputusan kerajaan tanggal 20 Juli 1950, pada 26 Juli 1950 pukul 00.00, setelah berumur sekitar 120 tahun, KNIL dinyatakan dibubarkan. Berdasarkan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar, mantan tentara KNIL yang ingin masuk ke TNI harus diterima dengan pangkat yang sama. Beberapa dari mereka kemudian di tahun 70-an mencapai pangkat Jenderal Mayor TNI!
    Westerling meninggal dengan tenang tahun 1987

    , , , ,

    ELVIPS.COM - Indonesians have declared about 117.3 trillion rupiah (S$12 billion) in assets held in Singapore under Jakarta's tax-amnesty scheme. The amount represents three-quarters of all foreign assets declared under the programme, which was pushed through by Parliament in June this year.

    The share of assets declared by Indonesian citizens in Singapore was released by Indonesia's Finance Ministry on Friday (16/9).

    "As much as 76.14 per cent of total repatriated funds and 74.51 per cent of total declared foreign assets were from Singapore. This fact indicates that, contrary to some reports, Indonesians with assets in Singapore are willingly participating in the amnesty," a ministry spokesman added.

    Quoting Denny Siregar, an activist social media in this weekend, Tax Amnesty 'war' in this class is not just a village war or a war between biker gangs.

    "This is Bharatayuda war, where the fighting is two countries. Full of strategies and measures the level of world diplomacy. So it is not very easy. You just shouted, where his money, where his money? But do not ever want to understand the situation," said Denny said Denny as written in his blog.

    Continuation, Singapore is currently panic with the situation created due to the policy of tax amnesty Indonesia. As an illustration, a citizen of Indonesia has assets of about $200 billion in private banks Singapore or a total of 40 until 60 percent of their banking assets.

    "You can imagine, what happens when the assets were withdrawn to Indonesia? Obviously panic in the banking sector and the economy of Singapore. Many stocks will fall, although surely they will be supported by members of other Commonwealth countries," explained Denny.

    One trick Singapore to prevent large funds have pulled back to Indonesia is to scare their clients. Anyone who participated suspected tax amnesty program to save money forbidden in Singapore.

    Commercial Affairs Department (CAD), Singapore Police unit that takes care of financial crimes, reportedly has sent a letter to all banks of Singapore that any of their customers who join the program are required to report tax amnesty.

    "CAD is suspected to worry there are potentially criminal financial transactions if there is a request for mercy taxes. Funny, they used the money where aja time entered Indonesia flocked to Singapore? If you want out, then get all excited," said Denny again.

    Although not in accordance with the target, but at least the facilities provided by the government this time containing honey poisons for employers, would be forgiveness or sanctions? Anyone doing business in Indonesia certainly understand, this time the president is not messing around, let alone its current Finance Minister Sri Mulyani.


    "It's terrible this program. For the first time the names of large employers come to their own tax office to report their assets. From James Riady, owner Lippo, Tohir brothers until Tommy flocked and report their assets totaling trillions rupiah, "he continued.

    To be known, if all goes to plan, 1,000 trillion rupiah is expected to be repatriated from overseas and invested locally. It will also add 165 trillion rupiah to local tax coffers.

    Reuters reported on Thursday that private banks in Singapore were tipping off white-collar police with the names of clients applying for Jakarta's tax-amnesty scheme.

    The Monetary Authority of Singapore (MAS) said in response to media queries that while banks in the Republic are required to file a suspicious transaction report when handling tax-amnesty cases, it does not necessarily mean that the client will be investigated by the police.

    In Singapore, banks are required to adhere to the Financial Action Task Force (FATF) standard of filing a suspicious transaction report  when handling tax amnesty cases, similar to the practice in other jurisdictions, the MAS says.

    The news agency report also prompted Indonesian Finance Minister, Sri Mulyani Indrawati and her ministry to assure taxpayers that "MAS has advised banks in Singapore to encourage their clients to use the opportunity accorded by tax-amnesty programmes to regularise their tax affairs".

    "I have directly checked with the Singapore authorities, specifically Deputy Prime Minister Tharman (Shanmugaratnam) to get an official explanation from the Singaporean Government," said Sri Mulyani at Jakarta, recently.

    So far, 528 trillion rupiah worth of assets - at home and abroad - have been declared, with the amount being repatriated substantially lower.

    For instance, of the total amount of Singapore based assets declared, only 14.1 trillion rupiah will be repatriated by Indonesian taxpayers.

    source: http://en.sindonews.com/read/1140200/196/tax-amnesty-indonesia-vs-singapore-bharatayuda-war-1474166741/2

    , , ,


    ELVIPS.COM - Dalam setiap peristiwa kecelakaan pesawat terbang, secara spontan setiap orang ingin segera mengetahui apa gerangan yang menjadi faktor penyebabnya.

    Kebanyakan orang tidak sabar menunggu penyelidikan dan pengumuman penyebab kecelakaan oleh lembaga yang berwenang, apalagi sudah telanjur terbangun pendapat di kalangan awam bahwa moda transportasi udara adalah moda transportasi yang paling aman.  

    Itulah salah satu alasan mengapa bila terjadi kecelakaan pesawat terbang, beritanya akan cepat sekali menyebar. Teori-teori sederhana yang lazim muncul adalah pesawat terbang yang umurnya sudah tua akan menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan.

    Logikanya, pesawat terbang baru akan jauh lebih menjamin tingkat keamanan operasi penerbangan.

    Perlu diluruskan di sini bahwa penyebab kecelakaan pesawat terbang tidaklah semata disebabkan oleh usia pesawat. Pesawat terbang yang usianya "tua" tidak dapat dituduh sebagai penyebab terjadinya kecelakaan.  

    Banyak faktor yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Penyebab dari terjadinya sebuah kecelakaan pesawat terbang hanya dapat diketahui dari kesimpulan hasil penyelidikan secara  menyeluruh oleh sebuah institusi investigasi resmi sebuah otoritas penerbangan.  

    Di Indonesia, lembaga yang dimaksud dikenal sebagai KNKT atau Komite Nasional Kecelakaan Transportasi. Di Amerika Serikat lembaga ini bernama NTSB, yaitu National Transportation Safety Board.

    Hal menarik tentang NTSB ini tertuang dalam sebuah film berjudul Sully. Film drama biografi karya Clint Eastwood yang ditulis oleh Todd Komamicki ini bercerita tentang kecelakaan pesawat terbang US Airways nomor penerbangan 1549 dengan Captain Pilot  Chesley "Sully" Sullenberger.  

    Alur cerita film Sully dipetik dari buku otobiografi karya sang Kapten Pilot, Chesley Sullenberger dan Jeffrey Zaslow, berjudul Highest Duty.  

    Gala perdana film ini diputar pada tanggal 2 September 2016 oleh Warner Bros dalam dua versi, yaitu dalam format film konvensional dan versi IMAX. Sebuah film yang cukup sukses dan sejauh ini sudah berhasil meraup keuntungan lebih kurang 50 juta dollar AS.  

    Film ini bercerita bagaimana Kapten Sully berhasil menyelamatkan 155 penumpangnya, setelah pesawat Airbus A320-214 mengalami mati mesin karena menabrak sekawanan angsa sesaat setelah take off. 

    Kecelakaan tersebut terjadi pada tanggal 15 Januari tahun 2009, selang satu minggu sebelum Sully (diperankan oleh Tom Hanks) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-58. 

    Film ini menarik dalam hal penyajian kontroversi pada hasil penyelidikan tentang penyebab terjadinya kecelakaan versi NTSB yang dihadapkan langsung kepada pelaku utamanya yang kebetulan selamat dari kecelakaan, dalam hal ini adalah Kapten Sully.  

    Pada hampir semua hasil penelitian dan penyelidikan tentang penyebab terjadinya kecelakaan pesawat terbang, faktor yang biasanya mengemuka adalah dugaan “pilot error” atau kesalahan pilot.  Sebuah terminologi "horor" yang sangat tidak disukai oleh pilot karena dijadikan obyek yang selalu disalahkan pada saat terjadinya kecelakaan pesawat terbang.

    Di sinilah film Sully menyajikan dengan jelas bagaimana perbedaan pendapat yang sangat tajam terjadi dalam mengambil kesimpulan tentang penyebab terjadinya kecelakaan, yang berakhir kepada "pilot error".  

    Kapten Sully dengan sangat cerdas menjelaskan bahwa pada saat terjadinya kecelakaan, keputusan yang diambilnya adalah sebuah keputusan yang paling tepat dalam konteks menyelamatkan pesawat terbang dan seluruh penumpangnya dari kondisi kedua mesinnya mati.  

    Sementara itu, hasil penyelidikan NTSB menyebutkan bahwa sebenarnya pesawat masih mampu diselamatkan untuk didaratkan dengan normal ke Bandara LaGuardia atau ke Bandara Teterboro dekat New York City.   

    Nilai kepahlawanan Kapten Sully yang telah berhasil secara spektakuler menyelamatkan nyawa seluruh 155 penumpang dan kru menjadi tenggelam dengan kesimpulan dari hasil investigasi NTSB.  

    Daripada mendaratkan pesawat ke Sungai Hudson, NTSB berpendapat bahwa sebenarnya pesawat terbang masih dapat atau masih mampu untuk diterbangkan  dan mendarat “normal” dengan selamat ke bandara terdekat.  

    Pada titik ini, pembelaan yang disampaikan oleh Kapten Sully tidak hanya mewakili “hati” para pilot yang selama ini selalu saja menjadi “spot light” sebagai penyebab utama terjadinya kecelakaan pesawat terbang tanpa mampu untuk membela diri, apalagi sebagian besar pilot turut menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang.

    Pembelaan Sully juga mewakili masyarakat luas yang memandang Kapten Sully sebagai “pahlawan” penyelamat 155 nyawa yang menjadi taruhan dalam genggaman profesinya.

    “Happy Ending”-nya adalah ketika NTSB dalam sebuah kesimpulan akhir mencapai kesepakatan bahwa memang ternyata kedua mesin pesawat sudah tidak berfungsi lagi dan pendaratan darurat ke Sungai Hudson merupakan satu-satunya keputusan tepat untuk menyelamatkan penerbangan 1549. 

    Kapten Sully lahir pada tanggal 23 Januari 1951 di Denison Texas dari pasangan sorang guru dan dokter gigi. Sully adalah seorang Pilot lulusan USAFA, United States Air Force Academy tahun 1973 yang berpengalaman menerbangkan pesawat  F-4D Phantom II saat bermarkas di Nellis AFB (Air Force Base) sebelum kemudian bergabung ke US Airways menerbangkan pesawat Airbus A320.  

    Dia menjadi “US National Hero” dalam peristiwa pedaratan darurat di Sungai Hudson. Sebuah kisah heroik pilot senior yang mengalami kecelakaan pesawat dan berhasil selamat yang diangkat kedalam sebuah film berlayar lebar.  

    Selain menyajikan kisah kepahlawanan, film ini menginspirasi banyak orang tentang arti sebuah profesionalisme yang ditunjang kokoh dalam sebuah raga berkepribadian kuat. Sosok Kapten Sully merupakan hasil kerja keras dan pengalaman panjang melintas waktu dan kumpulan jam terbang yang ribuan jumlahnya.               

    Jauh sebelum pendaratan dramatis US Airways di Sungai Hudson, sebenarnya ada sebuah peristiwa yang luput diangkat sebagai sebuah kisah pendaratan yang tidak kalah dramatis sekaligus heroik dari peristiwa US Airways di tahun 2009 itu.   

    Kisah tersebut adalah peristiwa yang terjadi tanggal 16 Januari tahun 2002, tujuh tahun sebelum tragedi Kapten Sully.  

    Bila pada tanggal 15 Januari 2009 Kapten Sully dengan pesawat Airbus 320 mendarat darurat di Sungai Hudson, maka pada 16 Januari 2002 Kapten Abdul Rozaq dengan pesawat Boeing 737-300 milik Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 421 mendarat darurat di sungai Bengawan Solo.  

    Berbeda dengan yang dialami Kapten Sully yang kedua mesinnya mati sesaat setelah take off , yang tentu saja masih pada ketinggian yang sangat rendah, maka yang dialami Kapten Rozaq adalah kedua mesinnya mati pada ketinggian 23.000 kaki.  

    Sebuah keajaiban telah mengantar Kapten Rozaq sehingga dapat mendaratkan dengan selamat pesawatnya di Sungai Bengawan Solo yang kondisinya berkelok-kelok tidak beraturan dan jauh berbeda dengan kondisi Sungai Hudson.   

    Sayang sekali kisah dramatis dan heroik di Bengawan Solo ini tidak terangkat sebagai sebuah kisah kepahlawanan seperti halnya cerita Kapten Sully.  

    Bila kisah ini ditulis dan juga diangkat ke film layar lebar, saya percaya tidak akan kalah menariknya dari film Kapten Sully.  Sekali lagi sayang sekali! Walau menurut Plato, menjadi pahlawan bukanlah segalanya.

    A hero is born among a hundred, a wise man is found among a thousand, but an accomplished one might not be found even among a hundred thousand men.

    , ,


    ELVIPS.COM - Seorang penembak jitu (sniper) pasukan SAS Inggris berhasil menembak mati algojo kelompokIslamic State atau ISIS dari jarak 1.500 meter di sebuah desa kecil di Raqqa, Suriah. Algojo itu hendak mengeksekusi 12 sandera dengan cara membakar.

    Senapan yang digunakan sniper SAS itu adalah Barertt berkaliber 50. Sniper itu menembak tangki bahan bakar tangan yang dibawa algojo ISIS di punggungnya.

    Saat tangki itu ditembak, algojo ISIS tewas terbakar. Tembakan itu juga menyebabkan ledakan besar yang menewaskan tiga anggota ISIS lain yang sedianya akan merekam eksekusi ke-12 sandera.

    Seorang sumber militer Inggris mengatakan kepada Daily Star Sundaytentang operasi penyelamatan 12 sandera tersebut. Operasi itu berlangsung di sebuah desa kecil di dekat Raqqa, Suriah, awal bulan ini.

    Tak lama setelah ledakan besar, para sandera—yang diduga warga sipil—dibebaskan oleh pasukan khusus Inggris dan pasukan khusus Amerika Serikat.

    “Tim SAS pindah ke posisi overwatch di sebuah desa di mana mereka diberitahu bahwa eksekusi akan berlangsung,” kata sumber itu, yang juga dilansir Daily Mail, Senin (12/9/2016).

    ”Hingga 12 warga sipil akan dibunuh, delapan laki-laki dan empat perempuan. Mereka dicurigai sebagai mata-mata,” lanjut sumber itu. ”Algojo memberi semacam pidato bertele-tele,  kemudian ketika selesai sniper SAS melepaskan tembakan.”

    Laporan penyelamatan sandera secara dramatis itu muncul beberapa bulan setelah sniper SAS lainnya menembak dua calon pengebom bunuh diri ISIS yang mengemudikan mobil yang sarat bahan peledak saat mobil itu bergerak menuju target di sebuah kota di Libya.

    Penembak jitu itu berhasil menyelamatkan ratusan nyawa dengan menembak  pengemudi mobil di bagian kepala dengan tembakan mematikan dari jarak 1.000 meter.

    Pihak intelijen Inggris mengungkap bahwa para “jihadis” ISIS saat itu mengangkut bom besar-besaran ke Tripoli di mana mereka berencana untuk meledakkan di pasar penuh sesak.

    , , ,


    ELVIPS.COM - Terjadinya insiden meledaknya Samsung Galaxy Note 7 bersamaan dengan meluncurnya iPhone 7 memunculkan spekulasi perang dagang yang melibatkan intelijen.

    Ditarik kembalinya ponsel Samsung Galaxy Note 7 yang sudah telanjur beredar akibat beberapa insiden terbakarnya baterai ponsel saat diisi kembali pemiliknya, harus dilihat dari kemungkinan sedang berkecamuknya perang dagang antara iPhone selaku perusahaan Amerika Serikat dengan Samsung sebagai perusahaan Korea Selatan.

    Dengan recall 2,5 juta unit Galaxy Note 7 yang sudah beredar di 10 negara, termasuk di Amerika Serikat dan Korea Selatan sendiri, diperkirakan Samsung bakal menderita kerugian sebesar Rp23,8 triliun. Para analis memperkirakan, recalltersebut berpotensi membuat Samsung kehilangan pendapatan sebesar US$5 miliar atau Rp65 triliun untuk tahun ini saja. Jumlah yang sangat fantastis!

    Cerita dimulai saat awal Agustus 2016 lalu Samsung Electronics memperkenalkan ponsel terbaru mereka, Galaxy Note 7, ke seluruh penjuru dunia. Samsung yakin, ponsel pintar yang diklaim paling canggih melebihi merek lain termasuk iPhone sendiri. Pasar merespons peluncuran produk baru ini dengan positif. Buktinya di seluruh dunia pemesanan Galaxy Note 7 laris manis sampai stok habis. Samsung mengaku kewalahan memenuhi permintaan pemesan, termasuk di Indonesia.

    Dengan respons dan permintaan yang luar biasa tinggi ini Samsung berkeyakinan akan segera menyaingi Apple yang pada saat hampir bersamaan meluncurkan seri iPhone 7, persis sebulan setelah Galaxy Note 7 meluncur. Mendahului peluncuran adalah hal biasa dan merupakan strategi pemasaran dengan tujuan merusak pasar lawan dalam hal ini pasar iPhone. Itu sah-sah saja dalam bisnis global.

    Persis setelah sebulan diluncurkan yang bersamaan dengan peluncuran iPhone 7, insiden di beberapa tempat pun terjadi.


    Boleh jadi ini murni keteledoran pihak Quality Controll Samsung sendiri, tetapi insiden paling umum berupa meledak atau terbakarnya perangkat ponsel saat berlangsungnya pengisian ulang baterai. Akibat yang ditimbulkan antara lain melukai penggunanya atau menimbulkan kebakaran yang bikin shock konsumen. Di sinilah justru keanehannya, yakni insiden merugikan yang terjadi bersamaan dengan gemerlapnya peluncuran Apple seri iPhone 7 terbarunya.

    Samsung mengklaim 24  produk Galaxy Note 7 yang terbakar dari 1 juta perangkat bukanlah hal buruk dan masih bisa diklasifikasikan sebagai “World Class Smartphone”, namun peristiwa ini mau tidak mau memukul telak pihak perusahaan. Samsung pun buru-buru meminta maaf kepada konsumen yang sudah telanjur membeli dan mengakui adanya masalah pada Galaxy Note 7, khususnya pada baterinya, setelah dilakukan penyelidikan internal.

    Meski Samsung mengakui problem baterai tersebut hanya terjadi pada Galaxy Note 7, namun paranoid dunia sudah terjadi di mana-mana. Orang mulai ragu menggunakan ponsel Samsung seri lainnya meski pihak perusahaan telah menghentikan divisi pembuat baterai, yakni Samsung SDI, dan mengalihkannya ke perusahaan China, ATL. Samsung tak lupa berjanji memberikan kompensasi berupa penukaran Galaxy Note 7 dan pengembalian dana.

    Seharusnya  pihak Samsung SDI inilah lembaga pertama yang harus diselidiki Samsung corporate, sebab segala kemungkinan bisa terjadi, misalnya dengan menyusupkan intelijen asing untuk merusak produk terbaru Samsung yang siap diluncurkan. Memang spekulasi bermainnya intelijen ini bakal memantik kemarahan pihak Apple atau pengguna iPhone yang cinta mati terhadap gawainya.

    Seperti mendapat “the second wind” untuk tidak mengatakan terjadi kongkanglikong antara Apple dengan Federal Aviation Administration (FAA), yakni lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat yang bertanggungjawab sebagai pengatur dan pengawas penerbangan sipili di Amerika Serikat, Samsung Galaxy Note 7 kemudian dilarang digunakan di mana-mana.

    Sejumlah perusahaan penerbangan internasional pun melakukan langkah pelarangan yang sama sebagaimana digaungkan FAA, yakni melarang menghidupkan Galaxy Note 7 di pesawat mereka dan dilarang melakukan isi ulang baterai (charge) selama penerbangan di dalam kabin pesawat.

    Padahal, sudah lumrah penumpang men-charge baterai ponselnya di dalam pesawat saat penerbangan, ponsel merek apapun termasuk ponsel buatan negara Afrika sekalipun. Garuda Indonesia di sini juga memberlakukan pelarangan serupa bagi pengoperasian Samsung Galaxy Note 7, diikuti perusahaan penerbangan Tanah Air lainnya.

    Persaingan lama

    Perseteruan dagang antara Samsung dan Apple yang memproduksi iPhone telah berlangsung sejak tahunan lalu. Hampir semuanya menyangkut hak paten yang dilanggar. Apple menganggap Samsung melanggar hak paten yang dimiliki Apple pada beberapa produk ponsel dan tabletnya. Sebaliknya, hal serupa ditudingkan Samsung terhadap Apple yang dianggap menyerobot patennya. Bolak-balik keduanya bertarung di meja pengadilan di beberapa negara, termasuk pengadilan Amerika Serikat dan Korea Selatan.

    Selain soal pelanggaran paten, Apple dan Samsung juga terlibat perang konsep. Seringkali Apple menuding Samsung meniru konsepnya, seperti yang terjadi pada Samsung Galaxy 6 yang dianggap meniru desain iPhone 6.

    Juga soal strategi penjualan. Apple cenderung irit mengeluarkan produknya. Boleh dibilang setahun sekali. Tetapi sekali keluar peminat bisa antri mengular untuk mendapat produk terbarunya, meski dengan harga yang tidak murah. Berbeda dengan Samsung yang cenderung royal dan sering mengeluarkan produk barunya dengan berbagai varian, dari ponsel “murahan” (low end) sampai yang berkualifikasi high end, sehingga konsumen dihadapkan kepada banyak pilihan sesuai kemampuan koceknya. Bukan rahasia lagi, produk Apple sangat elitis dan mahal.

    Persaingan berlanjut ke inovasi. Apple dianggap selalu selangkah lebih maju dibandingkan vendor lain, termasuk Samsung. Sebagai contoh iPhone 6 dengan kamera LED Flash dual-tone, diikuti Samsung yang ngekor menggunakan fitur serupa. Juga bagaimana warna Rose Gold pada iPhone 6s sukses menjadi ciri khas warna smartphone. Tak lupa fitur Force Touch yang inovatif dari Apple mulai menggoda vendor ponsel Android lainnya.

    Soal inovasi Samsung juga tidak mau ketinggalam. Ia meraih sukses dengan project zero-nya pada Samsung Galaxy S6 berupa layar tepi yang melengkung indah dan spektakuler, juga fitur Air Gesture yang mencuri perhatian.

    Melihat persaingan yang sedemikian sengit antara dua vendor smartphone raksasa, antara negara Amerika Serikat melawan Korea Selatan, tidak salah muncul spekulasi bahwa perang dagang global dilanjutkan ke perang intelijen dalam menghancurkan pesaingnya dengan cara apapun.

    Jika Apple kelihatan berjaya karena mendapat sokongan FAA secara tidak langsung, tidak demikian Samsung dalam menghadapi centang-perenang ini. Perusahaan raksasa Korea Selatan yang ulet ini seperti tidak berdaya melawan gempuran pihak lawan yang sukses meluncurkan produk terbarunya berupa iPhone 7 dengan gegap gempita di saat Samsung Galaxy Note 7 justru menderita kerugian luar biasa.

    Benar-benar kondisi yang kontras dan “konspiratif”, sehingga dengan mudah diraba dan dibaca.


Top